Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Tuesday, October 16, 2007

Nobel Perdamaian 2007: Kecerdasan Hati


groovy.movingtonz.com

Penghargaan nobel senantiasa menjadi saat yang dinanti publik internasional. Publik internasional ingin memberikan apresiasi kepada pribadi atau kelompok yang memiliki hati yang mencinta untuk dunia. Hati yang berempati kepada komunitas dunia ini dapat mengambil bentuk perhatian kepada persoalan kemiskinan, kekerasan, korupsi, krisis ekologi, dan sebagainya. Pribadi atau kelompok yang dinominasikan dan menerima penghargaan nobel ini menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih humanis untuk generasi manusia masa kini dan masa depan..
Melihat beberapa pribadi yang pernah menerima penghargaan nobel, saya melihat sekurang-kurangnya ada satu kualitas yang menonjol dalam diri mereka, yaitu kecerdasan cinta. Mereka aktif mencari persoalan kemanusiaan yang mengancam keberlangsungan hidup komunitas dunia. Muhammad Yunus menangkap problem kemiskinan di Bangladesh dan mengusulkan kredit mikro untuk perbaikan hidup mereka. Gagasan kredit mikro ini ternyata terbuka untuk diterapkan untuk negara-negara lain yang bergumul dengan persoalan kemiskinan.
Al Gore berangkat dari konteks Amerika Serikat yang semakin cemas dengan fenomena pemanasan global yang mengancam kehidupan ekologi. Ia mengajukan habitus baru perbaikan ekologi demi menyelamatkan bumi dari kehancuran. Habitus baru manusia sebagai perawat ekologi berhasil menggerakkan hati komunitas dunia dari ketidakpedulian menjadi kepedulian terhadap kasus-kasus perusakan lingkungan yang disebabkan tangan manusia.
Bangsa Indonesia sedang berjuang dengan persoalan-persoalan kemanusiaan besar, seperti kemiskinan, kekerasan, korupsi, dan kerusakan ekologi. Mayoritas komunitas dunia juga bergumul dengan soal-soal kemnausaian di atas. Persoalan-persoalan kemanusiaan itu merusak hidup rakyat Indonesia. Kita melihat individu maupun komunitas yang menawarkan mengajukan habitus baru sebagai manusia Indonesia. Sayangnya usaha-usaha pemberantasan korupsi, misalnya, masih belum menjadi habitus baru dan terkesan masih tebang pilih. Kita juga belum melihat habitus baru sebagai bangsa untuk serius menangani masalah kemiskinan, kekerasan dan kerusakan ekologi.
Kekurangan mendasar yang ada dalam diri masyarakat Indonesia adalah kurangnya kecerdasan empatik yang aktif. Kita tahu persoalan kemanusiaan, tetapi cenderung tidak memperdulikannya. Elit politik prihatin dengan kemiskinan, namun mereka berkali-kali menggelapkan fakta kemiskinan dalam laporan tahunan mereka. Kita prihatin dengan berbagai tragedi kekerasan, namun kita membiarkan pelakunya menerima impunitas. Kerusakan ekologi mulai mendatangkan banyak bencana alam, namun kita tidak serius membawa ke pengadilan para perusak ekologi.
Penghargaan nobel perdamaian tahun ini hendaknya mendorong kita untuk mulai melihat persoalan-persoalan serius kemanusiaan yang meminta tanggapan segera. Peristiwa ini hendaknya juga menggerakkan hati kita untuk membangun komunitas yang solider dengan mereka yang berpotensi menjadi calon korban dari persoalan-persolan kemanusiaan itu.
Teresa dari Kalkutta, yang juga pernah menerima penghargaan nobel perdamaian, menawarkan paradigma cinta untuk mengubah dunia kita yang kurang manusiawi. Menurutnya, persoalan pokok di dunia sekarang ini adalah absennya cinta terhadap sesama manusia. Ia dengan rendah hati menyatakan bahwa ia melakukan hal-hal biasa secara luar biasa. Paradigma cinta dalam hidupnya mampu menggerakkan pikiran, hati, dan tangan siapa pun yang berada di dekatnya untuk mencintai sesama manusia yang mengalami penderitaan. Semoga kita di Indonesia belajar dari para penerima nobel perdamaian dunia (SELESAI).

No comments: