Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Tuesday, October 16, 2007

Setangkai Mawar Kuning Untuk Marianne…


Setangkai Mawar Kuning Untuk Marianne…

“Tiba-tiba terbayang mawar kuning di mukaku. Aku tak lupa bahwa itu adalah bunga kesayanganmu… seakan-akan suaranya berbisik di telingaku, sehingga aku tersentak…” (Cerpen: “Perjalanan” oleh Marianne Katoppo, 19-24 April 1990)

Ya… saya memang sangat tersentak membaca berita duka yang saya dapat lewat sebuah pesan di milis penyair@yahoogroups.com tertanggal 14 Oktober 2007. Rasa duka begitu menyesakkan dada, terlebih karena saya membaca berita duka tersebut pada siang hari tanggal 16 Oktober 2007. Empat hari yang lalu--- tepatnya pada sore hari Jum’at, tanggal 12 Oktober, 2007 novelis Henriette Marianne Katoppo telah tiada. Serangan jantung yang dia alami membuatnya wafat dalam usia 64 tahun.

Kesibukan di saat libur lebaran membuat saya tidak menyimak berita di koran-koran maupun televisi sehingga berita duka tersebut saya terima empat hari berselang setelah kepergiannya yang bagi saya begitu mendadak; “dia baru saja selesai jalan-jalan makan siang bersama dengan kakaknya…” demikianlah diantara yang tertulis di berita duka tersebut.

Saya pertama kali mengenal Marianne lewat novel “Raumanen” yang saya baca ketika saya berusia duapuluhan tahun; saya sangat terkesan dengan cerita di novel tersebut dan sejak saat itu, saya tak pernah berhenti mengagumi Marianne lewat karya-karyanya.

Perkenalan saya secara pribadi dengan Marianne terjadi bertahun-tahun kemudian, saat itu saya tengah bekerja sebagai news-assistant di majalah Far Eastern Economic Review (FEER) dan kala itu saya menghubunginya sebagai kandidat untuk sebuah artikel profil yang rencananya ingin saya tulis untuk dimuat di majalah tempat saya bekerja. Dalam pandangan saya, Marianne adalah pribadi yang sangat mengesankan, karya-karyanyapun sangat istimewa—beberapa penghargaan dia terima: lewat novelnya “Raumanen”, dia sebagai wanita pertama yang mendapat penghargaan South East Asian Writer Award di tahun 1982. Waktu itu saya ingin sekali menuliskan tetang pribadi Marianne yang bersahaja namun karyannya-karyanya luar biasa dalam sebuah artikel profil.

Saya masih ingat ketika saya menghubunginya per telpon dan saya meminta kesediaannya untuk dapat diwawancarai. Dengan tertawa lebar dia mengatakan bahwa tidak ada yang menarik untuk ditulis tentang dirinya… apalagi bila artikel tersebut di tulis dan untuk dimuat di majalah ‘sekelas’ FEER, Marianne malah banyak bercerita tentang kucing-kucing peliharaannya. Sikap rendah-hati yang dia tunjukan membuat saya semakin terkesan dengan Marianne.

Berkali-kali saya meminta kesediaannya untuk bisa saya wawancarai tetapi setiap kali dia selalu mengelak dengan berbagai alasan sampai akhirnya Marianne mengatakan bahwa suatu hari kelak pasti saya akan mendapat kesempatan untuk mewawancarai serta menuliskan artikel tentang dirinya… pada waktu itu dia mengatakan bahwa dia akan bepergian keluar negeri—sebagai seorang aktivis Marianne banyak melakukan kegiatan gerejani, yang membuatnya banyak bepergian ke berbagai Negara—dia berjanji bahwa sekembalinya di Jakarta akan mengundang saya datang kerumahnya…

Undangan itu tidak pernah datang dan oleh karena kesibukan kerja, hal tersebut lalu menjadi terlupakan…

Bertahun kemudian--- setelah saya tidak lagi bekerja di majalah FEER, saya mendapat sebuah hadiah buku kumpulan cerpen-cerpen yang ditulis oleh cerpenis wanita terkemuka Indonesia . Saya kembali terkesan dengan Marriane lewat salah satu cerpen karyanya yang ketika itu saya baca dari buku tersebut--berjudul “Perjalanan”, seperti juga karya-karyanya yang lain… lagi-lagi karya tersebut menyentuh perasaan saya ketika membacanya:

---Kubuka surat itu. Dan tersentak. Bukan karena kata-katanya yang bagus manis, “maaf bahwa aku baru menyurat sekarang, karena ketika kudengar berita itu sama sekali tak ada kesempatan menitip surat ke luar, tetapi ketahuilah bahwa aku turut merasakan dan mendoakan setiap saat…” juga bukan karena tulisan yang tercetak di atas gambar itu, “how comforting is the memory of mother’s special love…” Tetapi gambar itu. Gambar sekuntum mawar kuning yang masih basah embun----

Demikianlah kata-kata Marianne yang dia tulis dalam cerita pendek yang berjudul ‘Perjalanan’….

Kini Marianne telah berpulang kehadirat Bapa di Surga… Selamat Jalan Marianne, kau tetap ada di hatiku….

Text & Photo by Anastasia F. Lioe

No comments: