Karena warung pizza itu segera tutup, saya terpaksa makan sambil jalan.
"Wah, apa saya bisa menghabiskan satu loyang pizza ini ya," pandang saya penuh ragu pada pizza yang masih mengebul itu.
Tanpa terasa tangan saya bolak-balik mengambil irisan pizza. Sesekali saya menyela makan dengan minuman berkarbonasi berukuran jumbo.
Saat melalui sebuah halte bus, langkah saya terhenti oleh suara perempuan yang duduk di halte itu.
"Apakah saya boleh minta seiris pizza milikmu?"
Saya melihat sejenak perempuan Afrika Amerika itu. Ia kelihatan menahan lapar.
"Silakan," kata saya sambil membuka kardus pizza.
"Apakah saya boleh mengambil keduanya?"
Di samping perempuan itu berdiri seorang laki-laki yang nampak juga menahan lapar.
"Silakan ambil semuanya. Apakah engkau juga kehausan?"
Perempuan dan laki-laki itu mengangguk bersama tanpa diberi aba-aba.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya mereka.
Mereka mungkin merasa kurang enak karena merasa mengurangi jatah makan saya.
"Kalian lebih membutuhkannya."
"Terima kasih, Saudara."
Tak jauh dari halte bus kaki saya menendang sebuah kardus kecil. Kentang goreng yang mendingin berserakan di sekitar kaki saya. Entah siapa yang membuangnya begitu saja. Wajah perempuan dan laki-laki di halte bus itu kembali mampir.
Sources:
http://www.littleladyfoods.com/images/pizza-page.jpg
"Wah, apa saya bisa menghabiskan satu loyang pizza ini ya," pandang saya penuh ragu pada pizza yang masih mengebul itu.
Tanpa terasa tangan saya bolak-balik mengambil irisan pizza. Sesekali saya menyela makan dengan minuman berkarbonasi berukuran jumbo.
Saat melalui sebuah halte bus, langkah saya terhenti oleh suara perempuan yang duduk di halte itu.
"Apakah saya boleh minta seiris pizza milikmu?"
Saya melihat sejenak perempuan Afrika Amerika itu. Ia kelihatan menahan lapar.
"Silakan," kata saya sambil membuka kardus pizza.
"Apakah saya boleh mengambil keduanya?"
Di samping perempuan itu berdiri seorang laki-laki yang nampak juga menahan lapar.
"Silakan ambil semuanya. Apakah engkau juga kehausan?"
Perempuan dan laki-laki itu mengangguk bersama tanpa diberi aba-aba.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya mereka.
Mereka mungkin merasa kurang enak karena merasa mengurangi jatah makan saya.
"Kalian lebih membutuhkannya."
"Terima kasih, Saudara."
Tak jauh dari halte bus kaki saya menendang sebuah kardus kecil. Kentang goreng yang mendingin berserakan di sekitar kaki saya. Entah siapa yang membuangnya begitu saja. Wajah perempuan dan laki-laki di halte bus itu kembali mampir.
Sources:
http://www.littleladyfoods.com/images/pizza-page.jpg
No comments:
Post a Comment