Engkau Menyertai Hidupku
Retret bersama Henry J.M. Nouwen
Oleh P. Mutiara Andalas, S.J.[1]
P |
ada awalnya saya membaca kembali tulisan-tulisan Henry J.M. Nouwen untuk membandingkannya dengan tulisan saya “Dekap Aku dalam Peluk-Mu: Retret Bersama Henry J.M. Nouwen.” Saya terhenyak dalam kebisuan karena menyadari beberapa gagasan penting terlewatkan atau kurang mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Terbersit hasrat untuk menebus kelalaian dengan tulisan pendek. Ide awal kemudian berkembang dengan kemungkinan merajutnya dengan tema “Engkau Menyertai Hidupku.” Saya akan menyingkap mosaik gagasan Nouwen tentang refleksi, waktu, suka cita, doa, dan pertobatan. Sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, tulisan berikut lebih dimaksudkan untuk mendorong pembaca untuk berkenalan langsung dengan tulisan-tulisan Nouwen.
Hidup yang Direfleksikan
Menjalani kehidupan saja belum mencukupi. Perjalanan kehidupan membutuhkan refleksi atasnya. Kehidupan menjadi berharga karena kita melakukan refleksi atasnya. Sebaliknya kehidupan dapat menjadi hambar jika kita mengabaikan refleksi. Kita mengisi setengah kehidupan kita dengan refleksi atas kehidupan. Kita mengalami suka cita atau duka cita mendalam bukan sekedar karena kehidupan yang dijalani tetapi refleksi atas kehidupan yang dijalani. Kita hanya saja sering keberatan dengan aktivitas refleksi,”Hidup yang menjadi lebih susah jika kita menambahi bebannya dengan refleksi.” [2] Kehidupan tanpa refleksi kehilangan setengah keindahannya.
Nouwen mengisahkan kenangan perjumpaan dengan tunawisma di sebuah jalan di Toronto. Pada awalnya ia enggan, bahkan takut mendekatinya. Ia sudah menjatuhkan prasangka negatif bahkan sebelum menyapanya. “Ah, ia pasti sama saja dengan tunawisma-tunawisma lain. Ia nampak ramah menyapa kita, namun berujung dengan permintaan uang sedekah.” Namun saat ia memberanikan diri untuk menyapa dan berjabat tangan dengannya, ia berjumpa dengan senyumnya. Percakapan pun sangat jauh dari perkara uang sedekah. “Darimana asalmu? Dimana teman-temanmu? Apa yang terjadi dengan kehidupanmu?”[3]
Waktu Kehidupan
Nouwen mensinyalir kesulitan besar bagi masyarakat kontemporer untuk hidup di masa kini. Trauma masa lalu dan kecemasan masa depan menyeret kehidupan kita dari masa kini. Kita dipaksa untuk mendaraskan refrain “masa sekarang adalah pengulangan masa lalu” dan “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Kedua refrain tersebut memaksa kita untuk memandang masa lalu dengan penuh penyesalan dan menatap masa depan dengan penuh kecemasan. Masa lalu kita penuh dengan kata seharusnya (oughts) dan masa depan kita dijejali dengan kata kalau (ifs).
Waktu mengandung drama kehidupan. Nouwen mengundang kita untuk hidup di masa sekarang.[4] Kita barangkali menjadi salah satu dari jutaan pemirsa yang menyaksikan detik-detik mendebarkan dari pertandingan renang olimpiade 2008 antara Michael Phelps and Mike Cavic. Drama di kolam renang akhirnya ditentukan oleh hitungan seperseratus detik. Hal serupa terjadi dalam wawancara sebuah stasiun televisi dengan pemain basket NBA yang membela Amerika Serikat. “Setelah kemenangan awal yang mengagumkan, kalau boleh tahu program latihan tim untuk menghadapi tim-tim mapan lain di pertandingan-pertandingan selanjutnya?“ tanya pewawancara. Pemain basket itu menanggapi dengan tersenyum, “Saya hari ini hendak melihat tembok besar Cina.“
Waktu kita padat agenda dengan label penting dan mendesak. Saya benar-benar terkejut dengan penuturan seorang suami dengan istri pekerja dan dua anak kecilnya, “Kesulitan terbesar bagi keluarga masa kini bukan finansial, tetapi menemukan waktu bersama dengan anak-anak. Anak-anak akhirnya tumbuh sendirian tanpa penyertaan orang tua.“ Kita seringkali sudah mengajukan pertanyaan senada ketika baru membuka mata di pagi hari, “Mana aktivitas yang hendaknya kudahulukan?“ Nouwen melihat bahaya kesibukan dengan aktivitas atau orang akhirnya menguasai diri kita. Keletihan, kelesuan, dan depresi adalah tanda-tanda negatif dari aktivitas yang telah mengontrol dan merusak diri kita. Nouwen mengundang kita untuk berani menyerahkan agenda kehidupan kita kepada penyelenggaraan Allah. Kita semakin mendaraskan refrain kitab suci, “Terjadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku.“ Kita menolak untuk menjadi korban waktu jam, melainkan hidup menurut waktu Allah.[5]
Pilihan Suka Cita
Nouwen menekankan pentingnya suka cita dalam kehidupan (rohani) kita. Sakit, kegagalan, beban emosional, penindasan, perang, atau bahkan kematian dapat mengambil suka cita dalam kehidupan kita. Nouwen menyadari bahwa kehidupan memiliki sisi suka cita dan duka cita. Suka cita muncul dari pengenalan akan kasih Allah yang tidak terenggut oleh duka cita kehidupan. Nouwen mengingatkan kita bahwa suka cita tidak datang serta merta. Kita harus memilih untuk hidup dalam suka cita.
Nouwen juga mengundang kita untuk berdiri tegak saat duka cita. Maria berdiri di bawah salib dengan tubuh tegak. Saat kemuliaan Allah, Yesus meminta para muridnya untuk berdiri dengan kepala tegak.[6] Petrus dan Yohanes membantu peminta-minta lumpuh di kenisah untuk berdiri tegak dan kemudian berjalan.[7] Nouwen melihat godaan dalam diri kita untuk mengeluh dan akhirnya duduk bersimpuh menanti belas kasihan saat berada dalam duka cita. Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk berdiri tegak di tengah penderitaan. [8]
Nouwen mendorong kita untuk merayakan kehidupan dalam komunitas. Kita merayakan kebaikan hidup sebagai kado pemberian atau kado dari Allah.[9] Kita berkata satu sama lain, “Jangan cemas atau takut. Kehidupan memiliki suka cita dan duka cita. Namun kita mampu mengarunginya karena sahabat-sahabat beserta kita dalam kehidupan yang penuh luka ini.“ Nouwen menggambarkan komunitas sebagai sebuah mosaik besar. Sebagian serpihan nampak kurang indah atau berharga dibanding yang lain. Kalau mata kita hanya berhenti pada masing-masing serpihan, kita hanya akan membandingkan kelebihan dan kekurangannya. Sebaliknya kalau memperhatikan serpihan-serpihan yang telah direkatkan, kita dapat melihat lukisan wajah Tuhan.[10]
Kenisah Batin
Doa merupakan disiplin dengan masa kini. Ia juga merupakan disiplin dengan rumah kediaman Allah.[11] Kita masuk ke hadirat Allah yang beserta kita (God-with-us). Kita bergerak menuju pusat kehidupan dan kasih. Kita menciptakan kenisah batin dan menghiasinya sehingga Allah berkenan untuk bersemayam di dalam diri kita dan kita bersemayam bersama Allah. Doa menjadi saat istimewa untuk mendengarkan suara kasih Allah. Tanpa doa kita tuli terhadap suara kasih Allah, dan hanya mendengarkan suara seringai serigala.[12] Sayangnya kita seringkali memandang Allah secara keliru. Kita seringkali menatap Allah sebagai penguasa yang menakutkan atau yang impoten kekuasaannya.
Nouwen juga mengingatkan kita akan bahaya menyenangkan, apalagi menjilat Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyenangkan figur-figur atasan dengan cara menyerahkan identitas kita. Kita menahlukkan diri kita dihadapan mereka dan meminta mereka untuk memberikan identitas palsu kepada kita. [13] Kita mudah sekali memungut relasi negatif antarmanusia ini dan mengenakannya dalam relasi dengan Allah. Nouwen mengingatkan kita untuk berelasi dengan Allah sebagai putera-puteri-Nya yang merdeka.
Nouwen mengundang kita untuk mengubah kecemasan menjadi doa dan ketidakberdayaan menjadi kehadiran Roh Allah yang menguatkan. Kita barangkali terus-menerus berada dalam tekanan rasa bersalah dan kecemasan, namun kita terus-menerus kembali ke dekapan kasih Allah. Nouwen mengundang kita untuk mengarahkan hati dan budi kita kepada (persaudaraan dengan) Allah.[14] Kita dapat melakukannya secara sederhana dengan mendaraskan dengan penuh perhatian frase Bapa Kami, Aku Percaya, Mazmur Tuhanku Gembala, Tuhan Jadikan Aku Pembawa Damai, dan sebagainya. Kuasa doa mulai bekerja saat rasa bersalah dan kecemasan kehilangan cengkeraman obsesifnya. Pengulangan kata-kata dalam doa-doa tersebut dapat mengubah kecemasan menjadi kedamaian batin.[15]
Cara lain untuk mendekatkan hati dah budi kita kepada Allah adalah mengkontemplasikan kisah Injil. [16] Gereja Katolik menawarkan bacaan-bacaan berdasarkan tahun liturgi. Setiap hari kita dapat membacanya dengan mata batin dan mendengarkan pesannya dengan telinga batin. Kita barangkali pernah berujar, “Bacaan Injil hari ini cocok dengan kebutuhan hidup saya saat ini.“ Hidup Yesus semakin bersemayam dalam diri kita dan membimbing kehidupan kita. Hidup-Nya memberikan mata dan telinga baru kepada kita untuk melihat dunia.[17]
Nouwen memperdalam arti aktivitas bacaan rohani. Kita selama ini memahami bacaan rohani sebagai teks tentang tokoh atau perkara rohani. Nouwen mengundang kita untuk membaca secara rohani peristiwa-peristiwa kehidupan di sekitar kita atau dunia. Peristiwa-peristiwa kehidupan baik dari surat kabar, televisi, maupun dari internet merupakan tanda-tanda zaman yang memberikan makna pada kehidupan kita. Yesus sendiri melihat peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, dan sosial, dan menafsirkannya secara rohani. Ia mengundang kita untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai undangan untuk berpaling kepada hati Allah dan menemukan makna kehidupan kita. Ia menghendaki kita membaca peristiwa-peristiwa kehidupan dengan hasrat untuk mempersilakan Allah mendekati kita. Tujuan bacaan rohani bukan untuk menguasai pengetahuan atau informasi, melainkan membiarkan Allah membaca kita.[18] Nouwen mengakui kenyataan bahwa membludaknya berita tentang kehidupan di sekitar kita justru membekukan hati kita.[19]
Kembali ke Cinta Pertama
Nouwen pernah mengira bahwa ia memiliki kontrol atas kehidupannya. Pada akhirnya ia menyadari kelemahan dirinya dalam mengusahakan pertobatan dari kekuatannya sendiri. Ia mengakui kegagalan dirinya untuk menyembuhkan diri.[20] Ia kemudian berpaling kepada Allah yang selalu berbicara lembut dengan-Nya namun ia sering mengabaikan-Nya. Ia mempercayakan dirinya pada suara kasih yang membimbing jalannya menuju pertobatan. Kita seringkali sulit mendengarkan suara kasih itu karena kita kurang, bahkan tidak mempercayainya. Kita justru mendengarkan suara-suara lain yang bukan berasal dari Allah. Ia memandang Allah sebagai yang mendengarkan tangisan batin kita. [21]
Allah senantiasa mengundang kita untuk mengarahkan hati kita kepada-Nya, dan mengalami kepenuhan kita sebagai manusia. Persoalannya, kita seringkali menulikan diri terhadap undangan Allah. Kita takut Allah akan merenggut kebebasan kita atau bertindak sebagai musuh yang memaksa kita untuk berbuat di luar kehendak kita. Kita terbiasa menggunakan cara pandang dunia yang senantiasa mengadili sesama berdasarkan kesuksesan, kekuasaan, dan popularitas.[22] Kita takut berhadapan dengan Allah karena mengira Allah akan mengadili kita seperti orang-orang di sekitar kita.
Nouwen mengundang kita untuk memberi pengampunan kepada pribadi-pribadi lain dan menerima pengampunan dari mereka pula. Kita perlu mengampuni pribadi-pribadi lain karena kasih mereka kepada kita terbatas dan cacat. Pada saat yang sama kita perlu menerima pengampunan dari pribadi-pribadi lain karena kasih kita kepada mereka terbatas dan cacat pula. Kita menderita tragedi kehidupan dari pribadi-pribadi yang melukai kita dan juga dari diri kita yang melukai pribadi-pribadi lain. [23]
Pertobatan seringkali bukan tindakan sekali jadi. Ia berlangsung terus-menerus karena tangan kita yang satu menghancurkan benteng-benteng pertahanan sementara tangan yang lain membangun benteng-benteng pertahanan baru. Saya teringat pengalaman seorang mahasiswa yang pernah kecanduan tontonan pornografis. Suatu ketika ia membuang semua koleksi dvd porno karena menyadari akibat negatifnya. Namun, saat ia keluar dari kosnya untuk jalan-jalan malam, ia kembali mampir ke lapak untuk membeli dvd porno baru.
Nouwen menggambarkan pengalaman pertobatan sebagai kembali ke rumah tempat kita mengalami cinta pertama. Allah menciptakan kita sebagai pribadi yang indah. Ia bersemayam di dalam diri kita dan mengasihi kita dengan cinta pertama. Ia mengundang kita untuk memeluk pengalaman dasar ini. Cinta pertama ini memungkinkan kita untuk terus-menerus berkata kepada Allah, “Engkau mengasihiku, dan kasih-Mu cukup bagiku.”[24] Ketidakhadiran Allah menciptakan rasa sakit karena kehidupan kita bersumber pada-Nya. Perjumpaan kembali dengan-Nya menyembuhkan kita. Nouwen mendorong kita untuk mengalami relasi kasih dengan Allah, dan menjadi saksi kasih-Nya. Relasi yang benar dengan Allah berlangsung saat pribadi terdalam kita berjumpa dengan Pribadi terdalam Allah.
[1] Saya akan menyampaikan tulisan ini sebagai bahan presentasi dalam retret mudika Warga Katolik Indonesia California Utara (WKICU) yang diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus –
[2] Henry J. M. Nouwen, Can You Drink the Cup? (Notre Dame: Ave Maria Press, 1996), 26 – 27.
[3] Henry J.M. Nouwen, Can You Drink the Cup?, 45.
[4] Wahyu 21, 2 – 5.
[5] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love: A Journey through Anguish to Freedom (New York: Doubleday, 1996), 105 – 106; Henry J.M. Nouwen, Here and Now: Living in the Spirit (New York: Crossroad, 1997), 137 – 139.
[6] Lukas 2, 28.
[7] Kisah Para Rasul 3, 6.
[8] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 61 – 62.
[9] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 18 – 19.
[10] Henry J.M. Nouwen, Can You Drink the Cup?, 56 – 58.
[11] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 23.
[12] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 136 – 137.
[13] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 5.
[14] Saya secara sadar menghindari penggunaan istilah the
[15] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 90 – 91.
[16] Doa kontemplasi menunjuk pada salah satu peristiwa dalam kitab suci. Kita masuk ke dalam pribadi-pribadi, kata-kata, dan tindakan-tindakan dari teks Injil karena mereka menyingkapkan misteri Yesus.
[17] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 93 – 94.
[18] Lukas 12, 54 – 56.
[19] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 109 – 110.
[20] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 30 – 31.
[21] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 6 – 7.
[22] Matius 7, 1.
[23] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 114 – 115. 117 – 118.
[24] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 8. 28 – 29.