Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label Retret Mudika 2008. Show all posts
Showing posts with label Retret Mudika 2008. Show all posts

Friday, August 22, 2008

Engkau Menyertai Hidupku

Engkau Menyertai Hidupku

Retret bersama Henry J.M. Nouwen

Oleh P. Mutiara Andalas, S.J.[1]

P

ada awalnya saya membaca kembali tulisan-tulisan Henry J.M. Nouwen untuk membandingkannya dengan tulisan saya “Dekap Aku dalam Peluk-Mu: Retret Bersama Henry J.M. Nouwen.” Saya terhenyak dalam kebisuan karena menyadari beberapa gagasan penting terlewatkan atau kurang mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Terbersit hasrat untuk menebus kelalaian dengan tulisan pendek. Ide awal kemudian berkembang dengan kemungkinan merajutnya dengan tema “Engkau Menyertai Hidupku.” Saya akan menyingkap mosaik gagasan Nouwen tentang refleksi, waktu, suka cita, doa, dan pertobatan. Sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, tulisan berikut lebih dimaksudkan untuk mendorong pembaca untuk berkenalan langsung dengan tulisan-tulisan Nouwen.

Hidup yang Direfleksikan

Menjalani kehidupan saja belum mencukupi. Perjalanan kehidupan membutuhkan refleksi atasnya. Kehidupan menjadi berharga karena kita melakukan refleksi atasnya. Sebaliknya kehidupan dapat menjadi hambar jika kita mengabaikan refleksi. Kita mengisi setengah kehidupan kita dengan refleksi atas kehidupan. Kita mengalami suka cita atau duka cita mendalam bukan sekedar karena kehidupan yang dijalani tetapi refleksi atas kehidupan yang dijalani. Kita hanya saja sering keberatan dengan aktivitas refleksi,”Hidup yang menjadi lebih susah jika kita menambahi bebannya dengan refleksi.” [2] Kehidupan tanpa refleksi kehilangan setengah keindahannya.

Nouwen mengisahkan kenangan perjumpaan dengan tunawisma di sebuah jalan di Toronto. Pada awalnya ia enggan, bahkan takut mendekatinya. Ia sudah menjatuhkan prasangka negatif bahkan sebelum menyapanya. “Ah, ia pasti sama saja dengan tunawisma-tunawisma lain. Ia nampak ramah menyapa kita, namun berujung dengan permintaan uang sedekah.” Namun saat ia memberanikan diri untuk menyapa dan berjabat tangan dengannya, ia berjumpa dengan senyumnya. Percakapan pun sangat jauh dari perkara uang sedekah. “Darimana asalmu? Dimana teman-temanmu? Apa yang terjadi dengan kehidupanmu?”[3]

Waktu Kehidupan

Nouwen mensinyalir kesulitan besar bagi masyarakat kontemporer untuk hidup di masa kini. Trauma masa lalu dan kecemasan masa depan menyeret kehidupan kita dari masa kini. Kita dipaksa untuk mendaraskan refrain “masa sekarang adalah pengulangan masa lalu” dan “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Kedua refrain tersebut memaksa kita untuk memandang masa lalu dengan penuh penyesalan dan menatap masa depan dengan penuh kecemasan. Masa lalu kita penuh dengan kata seharusnya (oughts) dan masa depan kita dijejali dengan kata kalau (ifs).

Waktu mengandung drama kehidupan. Nouwen mengundang kita untuk hidup di masa sekarang.[4] Kita barangkali menjadi salah satu dari jutaan pemirsa yang menyaksikan detik-detik mendebarkan dari pertandingan renang olimpiade 2008 antara Michael Phelps and Mike Cavic. Drama di kolam renang akhirnya ditentukan oleh hitungan seperseratus detik. Hal serupa terjadi dalam wawancara sebuah stasiun televisi dengan pemain basket NBA yang membela Amerika Serikat. “Setelah kemenangan awal yang mengagumkan, kalau boleh tahu program latihan tim untuk menghadapi tim-tim mapan lain di pertandingan-pertandingan selanjutnya?“ tanya pewawancara. Pemain basket itu menanggapi dengan tersenyum, “Saya hari ini hendak melihat tembok besar Cina.“

Waktu kita padat agenda dengan label penting dan mendesak. Saya benar-benar terkejut dengan penuturan seorang suami dengan istri pekerja dan dua anak kecilnya, “Kesulitan terbesar bagi keluarga masa kini bukan finansial, tetapi menemukan waktu bersama dengan anak-anak. Anak-anak akhirnya tumbuh sendirian tanpa penyertaan orang tua.“ Kita seringkali sudah mengajukan pertanyaan senada ketika baru membuka mata di pagi hari, “Mana aktivitas yang hendaknya kudahulukan?“ Nouwen melihat bahaya kesibukan dengan aktivitas atau orang akhirnya menguasai diri kita. Keletihan, kelesuan, dan depresi adalah tanda-tanda negatif dari aktivitas yang telah mengontrol dan merusak diri kita. Nouwen mengundang kita untuk berani menyerahkan agenda kehidupan kita kepada penyelenggaraan Allah. Kita semakin mendaraskan refrain kitab suci, “Terjadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku.“ Kita menolak untuk menjadi korban waktu jam, melainkan hidup menurut waktu Allah.[5]

Pilihan Suka Cita

Nouwen menekankan pentingnya suka cita dalam kehidupan (rohani) kita. Sakit, kegagalan, beban emosional, penindasan, perang, atau bahkan kematian dapat mengambil suka cita dalam kehidupan kita. Nouwen menyadari bahwa kehidupan memiliki sisi suka cita dan duka cita. Suka cita muncul dari pengenalan akan kasih Allah yang tidak terenggut oleh duka cita kehidupan. Nouwen mengingatkan kita bahwa suka cita tidak datang serta merta. Kita harus memilih untuk hidup dalam suka cita.

Nouwen juga mengundang kita untuk berdiri tegak saat duka cita. Maria berdiri di bawah salib dengan tubuh tegak. Saat kemuliaan Allah, Yesus meminta para muridnya untuk berdiri dengan kepala tegak.[6] Petrus dan Yohanes membantu peminta-minta lumpuh di kenisah untuk berdiri tegak dan kemudian berjalan.[7] Nouwen melihat godaan dalam diri kita untuk mengeluh dan akhirnya duduk bersimpuh menanti belas kasihan saat berada dalam duka cita. Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk berdiri tegak di tengah penderitaan. [8]

Nouwen mendorong kita untuk merayakan kehidupan dalam komunitas. Kita merayakan kebaikan hidup sebagai kado pemberian atau kado dari Allah.[9] Kita berkata satu sama lain, “Jangan cemas atau takut. Kehidupan memiliki suka cita dan duka cita. Namun kita mampu mengarunginya karena sahabat-sahabat beserta kita dalam kehidupan yang penuh luka ini.“ Nouwen menggambarkan komunitas sebagai sebuah mosaik besar. Sebagian serpihan nampak kurang indah atau berharga dibanding yang lain. Kalau mata kita hanya berhenti pada masing-masing serpihan, kita hanya akan membandingkan kelebihan dan kekurangannya. Sebaliknya kalau memperhatikan serpihan-serpihan yang telah direkatkan, kita dapat melihat lukisan wajah Tuhan.[10]

Kenisah Batin

Doa merupakan disiplin dengan masa kini. Ia juga merupakan disiplin dengan rumah kediaman Allah.[11] Kita masuk ke hadirat Allah yang beserta kita (God-with-us). Kita bergerak menuju pusat kehidupan dan kasih. Kita menciptakan kenisah batin dan menghiasinya sehingga Allah berkenan untuk bersemayam di dalam diri kita dan kita bersemayam bersama Allah. Doa menjadi saat istimewa untuk mendengarkan suara kasih Allah. Tanpa doa kita tuli terhadap suara kasih Allah, dan hanya mendengarkan suara seringai serigala.[12] Sayangnya kita seringkali memandang Allah secara keliru. Kita seringkali menatap Allah sebagai penguasa yang menakutkan atau yang impoten kekuasaannya.

Nouwen juga mengingatkan kita akan bahaya menyenangkan, apalagi menjilat Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyenangkan figur-figur atasan dengan cara menyerahkan identitas kita. Kita menahlukkan diri kita dihadapan mereka dan meminta mereka untuk memberikan identitas palsu kepada kita. [13] Kita mudah sekali memungut relasi negatif antarmanusia ini dan mengenakannya dalam relasi dengan Allah. Nouwen mengingatkan kita untuk berelasi dengan Allah sebagai putera-puteri-Nya yang merdeka.

Nouwen mengundang kita untuk mengubah kecemasan menjadi doa dan ketidakberdayaan menjadi kehadiran Roh Allah yang menguatkan. Kita barangkali terus-menerus berada dalam tekanan rasa bersalah dan kecemasan, namun kita terus-menerus kembali ke dekapan kasih Allah. Nouwen mengundang kita untuk mengarahkan hati dan budi kita kepada (persaudaraan dengan) Allah.[14] Kita dapat melakukannya secara sederhana dengan mendaraskan dengan penuh perhatian frase Bapa Kami, Aku Percaya, Mazmur Tuhanku Gembala, Tuhan Jadikan Aku Pembawa Damai, dan sebagainya. Kuasa doa mulai bekerja saat rasa bersalah dan kecemasan kehilangan cengkeraman obsesifnya. Pengulangan kata-kata dalam doa-doa tersebut dapat mengubah kecemasan menjadi kedamaian batin.[15]

Cara lain untuk mendekatkan hati dah budi kita kepada Allah adalah mengkontemplasikan kisah Injil. [16] Gereja Katolik menawarkan bacaan-bacaan berdasarkan tahun liturgi. Setiap hari kita dapat membacanya dengan mata batin dan mendengarkan pesannya dengan telinga batin. Kita barangkali pernah berujar, “Bacaan Injil hari ini cocok dengan kebutuhan hidup saya saat ini.“ Hidup Yesus semakin bersemayam dalam diri kita dan membimbing kehidupan kita. Hidup-Nya memberikan mata dan telinga baru kepada kita untuk melihat dunia.[17]

Nouwen memperdalam arti aktivitas bacaan rohani. Kita selama ini memahami bacaan rohani sebagai teks tentang tokoh atau perkara rohani. Nouwen mengundang kita untuk membaca secara rohani peristiwa-peristiwa kehidupan di sekitar kita atau dunia. Peristiwa-peristiwa kehidupan baik dari surat kabar, televisi, maupun dari internet merupakan tanda-tanda zaman yang memberikan makna pada kehidupan kita. Yesus sendiri melihat peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, dan sosial, dan menafsirkannya secara rohani. Ia mengundang kita untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai undangan untuk berpaling kepada hati Allah dan menemukan makna kehidupan kita. Ia menghendaki kita membaca peristiwa-peristiwa kehidupan dengan hasrat untuk mempersilakan Allah mendekati kita. Tujuan bacaan rohani bukan untuk menguasai pengetahuan atau informasi, melainkan membiarkan Allah membaca kita.[18] Nouwen mengakui kenyataan bahwa membludaknya berita tentang kehidupan di sekitar kita justru membekukan hati kita.[19]

Kembali ke Cinta Pertama

Nouwen pernah mengira bahwa ia memiliki kontrol atas kehidupannya. Pada akhirnya ia menyadari kelemahan dirinya dalam mengusahakan pertobatan dari kekuatannya sendiri. Ia mengakui kegagalan dirinya untuk menyembuhkan diri.[20] Ia kemudian berpaling kepada Allah yang selalu berbicara lembut dengan-Nya namun ia sering mengabaikan-Nya. Ia mempercayakan dirinya pada suara kasih yang membimbing jalannya menuju pertobatan. Kita seringkali sulit mendengarkan suara kasih itu karena kita kurang, bahkan tidak mempercayainya. Kita justru mendengarkan suara-suara lain yang bukan berasal dari Allah. Ia memandang Allah sebagai yang mendengarkan tangisan batin kita. [21]

Allah senantiasa mengundang kita untuk mengarahkan hati kita kepada-Nya, dan mengalami kepenuhan kita sebagai manusia. Persoalannya, kita seringkali menulikan diri terhadap undangan Allah. Kita takut Allah akan merenggut kebebasan kita atau bertindak sebagai musuh yang memaksa kita untuk berbuat di luar kehendak kita. Kita terbiasa menggunakan cara pandang dunia yang senantiasa mengadili sesama berdasarkan kesuksesan, kekuasaan, dan popularitas.[22] Kita takut berhadapan dengan Allah karena mengira Allah akan mengadili kita seperti orang-orang di sekitar kita.

Nouwen mengundang kita untuk memberi pengampunan kepada pribadi-pribadi lain dan menerima pengampunan dari mereka pula. Kita perlu mengampuni pribadi-pribadi lain karena kasih mereka kepada kita terbatas dan cacat. Pada saat yang sama kita perlu menerima pengampunan dari pribadi-pribadi lain karena kasih kita kepada mereka terbatas dan cacat pula. Kita menderita tragedi kehidupan dari pribadi-pribadi yang melukai kita dan juga dari diri kita yang melukai pribadi-pribadi lain. [23]

Pertobatan seringkali bukan tindakan sekali jadi. Ia berlangsung terus-menerus karena tangan kita yang satu menghancurkan benteng-benteng pertahanan sementara tangan yang lain membangun benteng-benteng pertahanan baru. Saya teringat pengalaman seorang mahasiswa yang pernah kecanduan tontonan pornografis. Suatu ketika ia membuang semua koleksi dvd porno karena menyadari akibat negatifnya. Namun, saat ia keluar dari kosnya untuk jalan-jalan malam, ia kembali mampir ke lapak untuk membeli dvd porno baru.

Nouwen menggambarkan pengalaman pertobatan sebagai kembali ke rumah tempat kita mengalami cinta pertama. Allah menciptakan kita sebagai pribadi yang indah. Ia bersemayam di dalam diri kita dan mengasihi kita dengan cinta pertama. Ia mengundang kita untuk memeluk pengalaman dasar ini. Cinta pertama ini memungkinkan kita untuk terus-menerus berkata kepada Allah, “Engkau mengasihiku, dan kasih-Mu cukup bagiku.”[24] Ketidakhadiran Allah menciptakan rasa sakit karena kehidupan kita bersumber pada-Nya. Perjumpaan kembali dengan-Nya menyembuhkan kita. Nouwen mendorong kita untuk mengalami relasi kasih dengan Allah, dan menjadi saksi kasih-Nya. Relasi yang benar dengan Allah berlangsung saat pribadi terdalam kita berjumpa dengan Pribadi terdalam Allah.



[1] Saya akan menyampaikan tulisan ini sebagai bahan presentasi dalam retret mudika Warga Katolik Indonesia California Utara (WKICU) yang diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus – 1 September 2008. Tulisan ini sedianya akan membuka buku terbaru saya Berbagi Kehidupan: dari Aya Ikeuchi hingga Yan Peiyi (2008).

[2] Henry J. M. Nouwen, Can You Drink the Cup? (Notre Dame: Ave Maria Press, 1996), 26 – 27.

[3] Henry J.M. Nouwen, Can You Drink the Cup?, 45.

[4] Wahyu 21, 2 – 5.

[5] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love: A Journey through Anguish to Freedom (New York: Doubleday, 1996), 105 – 106; Henry J.M. Nouwen, Here and Now: Living in the Spirit (New York: Crossroad, 1997), 137 – 139.

[6] Lukas 2, 28.

[7] Kisah Para Rasul 3, 6.

[8] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 61 – 62.

[9] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 18 – 19.

[10] Henry J.M. Nouwen, Can You Drink the Cup?, 56 – 58.

[11] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 23.

[12] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 136 – 137.

[13] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 5.

[14] Saya secara sadar menghindari penggunaan istilah the kingdom of God dan menerjemahkannya dengan kerajaan Allah. Saya juga menolak frase pengganti the reign of God karena lebih mengaburkan makna yang hendak disampaikannya. Saya lebih mengikuti para teolog feminis yang mengusulkan frase the kindom of God dan menerjemahkannya sebagai persaudaraan sebagai putera-puteri Allah.

[15] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 90 – 91.

[16] Doa kontemplasi menunjuk pada salah satu peristiwa dalam kitab suci. Kita masuk ke dalam pribadi-pribadi, kata-kata, dan tindakan-tindakan dari teks Injil karena mereka menyingkapkan misteri Yesus.

[17] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 93 – 94.

[18] Lukas 12, 54 – 56.

[19] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 109 – 110.

[20] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 30 – 31.

[21] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 6 – 7.

[22] Matius 7, 1.

[23] Henry J.M. Nouwen, Here and Now, 114 – 115. 117 – 118.

[24] Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love, 8. 28 – 29.

Tuesday, July 15, 2008

Peluk Aku, ya Allahku: Retret Bersama Henry J.M. Nouwen

Keheningan

Keheningan bagi sebagian dari diri kita mencekam. Kita bingung mengenai aktivitas untuk mengisi keheningan. Kita terbiasa hidup di tengah kebisingan kota, deru mobil, suara musik, atau tayangan film. Ketiadaan semuanya memunculkan kegelisahan dalam diri kita. Kita menjadi seperti ikan yang menggelepar saat dikeluarkan dari air kolam. Keheningan justru dipandang sebagai gangguan dan kebisingan dilihat sebagai normal. Kita kehilangan ketahanan dengan suara keheningan. Keheningan sejatinya penuh suara. Namun sebagian dari kita gagal mendengarnya. Kita butuh bantuan compact disc agar suara keheningan alam sampai ke telinga kita.

Kita tak sekedar kehilangan keheningan hati. Kita juga mulai kehilangan diri karena hati keheningan absen dari kehidupan kita. Di kedalaman diri kita tersimpan beragam pertanyaan dan perasaan yang membutuhkan tanggapan. Pertanyaan dan perasaan tersebut terabaikan karena kita kurang memperhatikannya. Keheningan memberikan kesadaran penuh terhadap gerakan-gerakan baik kasar maupun halus yang berlangsung dalam diri kita. Kita barangkali pernah melihat halaman rumah terbengkalai karena kita meninggalkannya dalam waktu lama. selama beKita kehilangan kenyamanan saat keluar dan masuk rumah karena kekotorannya. Kita perlu memanggil tukang kebun atau mengambil sapu atau sabit untuk merapikannya kembali.

Keheningan bagi sebagian dari kita yang lain menciptakan kedamaian. Ia memberikan janji kehidupan baru kepada kita yang berani masuk ke dalamnya. Dalam suasana bising, banyak suara anti-Tuhan yang berteriak parau kepada kita. Dalam suasana hening, Tuhan menyapa kita secara lembut. Keheningan memampukan kita untuk mengenali perubahan-perubahan drastis dalam kehidupan emosi kita. Peristiwa kecil, kata dari orang lain, kekecewaan dalam kerja dapat dengan mudah mengombang-ambingkan perasaan kita. Keheningan memberikan daya kepada kita untuk mengalami diri sebagai putera-puteri Allah terkasih di tengah gelombang kehidupan emosional.


Hening sepintas nampak sebagai aktivitas seorang pengangguran. Keheningan sejatinya menghadapkan kita dengan diri sesungguhnya. Kedukaan hidup seringkali sedemikian membelit diri kita sampai pada suatu titik dimana kita akan mengerjakan segala sesuatu untuk berpaling darinya. Radio, televisi, surat kabar, buku, film, kerja keras, dan kesibukan kehidupan sosial dapat menjadi jalan-jalan pelarian dari diri kita. Kita lari dari dunia kehidupan ke dunia hiburan (entertainment).
Kata entertainment secara harfiah berarti "menjaga (tain dari kata Latin tenere) seseorang diantara (enter)." Hiburan adalah segala sesuatu yang mengalihkan pikiran kita dari perkara-perkara sulit yang terjadi pada diri kita. Ia membuat kita terpecah, terpesona, atau terperanjat perhatiannya. Ia seringkali merupakan aktivitas positif karena mampu menyegarkan hari-hari kita yang terjerat kecemasan atau ketakutan. Namun saat kita menjalani hidup sebagai hiburan, kita kehilangan kontak dengan jiwa kita dan menjadi penonton dalam drama kehidupan.
Keheningan merupakan sebuah disiplin yang membantu kita untuk melampaui kualitas hiburan kehidupan kita. Dalam keheningan kita mempersilakan duka dan suka cita muncul dari tempat persembunyiannya dan berhadapan dengannya. Kita dapat menemukan keheningan di rumah, tempat ibadat atau ruang meditasi. Kita menjumpai diri kita dan pelan-pelan mendaku diri kita sebagai kado dari Allah dalam keheningan.
Pada awalnya keheningan menakutkan kita. Kita mulai mendengar suara-suara kegelapan, seperti iri hati dan kemarahan, terluka dan hasrat untuk balas dendam, nafsu dan kerakusan, dan rasa sakit akibat kehilangan, perlakuan sewenang-wenang, dan penolakan. Suara-suara seperti ini seringkali ribut, dan menulikan kita. Reaksi spontan kita lalu lari darinya dan kembali ke dunia hiburan. Suara-suara kegelapan itu akan berkurang kuasanya jika kita berhasil mengesampingkannya. Mereka akan kehilangan daya ancamannya jika kita lebih mendengarkan suara-suara terang yang lembut, seperti kedamaian, kebaikan, suka cita, harapan, pengampunan, dan terutama kasih.

Lingkaran Sahabat

Kita tidak cukup mendaku duka dan suka cita dalam keheningan. Kita harus mendakunya dalam lingkaran sahabat yang terpercaya. Sepanjang kita hidup dalam keterpisahan dari komunitas pribadi-pribadi yang mengasihi kita, beban kehidupan di pundak menjadi tak tertanggungkan. Ketakutan pribadi lain mengetahui diri kita yang sesungguhnya dapat menyebabkan diri kita memiliki kepribadian ganda. Kita bermain peran antara diri kita yang sesungguhnya (true inner selves) dengan diri yang kita perlihatkan kepada yang lain (public selves). Untuk mengenali diri sejati kita dan keunikan peziarahannya, kita membutuhkan orang lain. Kita hanya dapat menjalani kehidupan rohani dalam kebersamaan dengan yang lain. Kita tentu saja hanya akan berbicara mengenai diri kita yang sejati dengan mereka yang mengasihi dan percaya kepada kita. Rasa malu, apalagi bersalah merupakan tanda negatif dari lingkaran persahabatan yang keliru. Lingkaran persahabatan yang benar menciptakan ruang yang aman dan suci untuk berbagi suka dan duka cita kehidupan. Mereka menjadi teman peziarahan hidup yang meneguhkan diri kita.
Persahabatan yang sejati menghantar kita lebih dekat pada sumber kasih. Sahabat dapat menjadi tempat berbagi kehidupan kita. Allah mengirim mereka dalam kehidupan kita. Ia bersemayam dalam diri mereka yang mengasihi kita dalam komunitas. Tangan-tangan mereka mendukung kita dan menyingkapkan kasih setia Allah. Persahabatan seringkali berakhir dengan kekecewaan mendalam karena kita gagal menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan dalam mengasihi kita. Kita mungkin kurang menyadari bahwa kita seringkali mengajukan, bahkan menuntut beragam permintaan yang pada akhirnya mengakibatkan orang-orang terkasih kita angkat tangan. Mereka menyadari kemiskinan mereka dalam memenuhi tuntutan kebutuhan kita. Kita menuntut sesuatu yang tidak mereka miliki. Persahabatan yang dewasa mengundang kedua belah pihak untuk menarik garis pembatas kasih (set boundaries for your love).
Lingkaran dalam komunitas (inner community) diharapkan semakin melebar seiring dengan perjalanan waktu. Semakin kita dapat memperluasnya, kita akan semakin mengenali orang-orang asing di sekitar kita sebagai saudara-saudari kita. Mereka yang hidup dalam lingkaran dalam kehidupan kita juga akan mengenali saudara-saudari ini. Semakin lebar hati komunitas kita, semakin lebar pula komunitas di sekitar kita.
Sebagian persahabatan justru berujung dengan kekecewaan bahkan penderitaan karena muncul dari kebutuhan akan perhatian, peneguhan, dan dukungan emosional. Kita mengalami kepedihan saat sahabat kita gagal meluluskan harapan-harapan tersebut. Persahabatan kita kemudian jauh dari kecenderungan obsesif dan posesif. Persahabatan yang sejati bertunas dari pribadi-pribadi yang hidup dalam kasih. Persahabatan yang sejati merupakan perjumpaan dari hati ke hati. Ia awet karena kasih sejati kekal. Allah mengaruniakan persahabatan sejati, dan mengundang kita untuk sungguh mengasihi yang lain.
Persahabatan mudah sekali rusak saat salah satu pihak menuntut bukti persahabatan. Kita menunggu pihak lain untuk mengucapkan terima kasih saat kita memberikan sesuatu kepada mereka. Kita seringkali kurang sabar menanti pihak lain untuk berterima kasih atas pemberian kita. Reaksi cepat kita biasanya mengutuki diri sendiri atau orang lain. Kutukan merupakan ekspresi penolakan terhadap kebaikan dalam diri kita atau orang lain..

Henry J. M. Nouwen, Can You Drink the Cup (Notre Dame: Ave Maria, 1996), 91 - 98.
Henry J.M. Nouwen, The Inner Voice of Love : A Journey through Anguish to Freedom (New York: Double Day, 1996).
Sumber dokumentasi:
http://sivinkit.net/archives/silence_3.jpg

Dorothy Day: Sebuah Pengalaman Retret

Dorothy Day melihat pentingnya keheningan dalam gerakan Pekerja Katolik (Catholic Worker movement). Aktivitas mereka berhadapan dengan krisis yang permanen dan tak terletakkan. Mereka berhadapan dengan kekerasan dan ketidakadilan di sekitar dan dunia luar. Mereka juga berhadapan dengan kebutuhan dan penderitaan manusia di dalam komunitas mereka, seperti pertengkaran, luka, sakit, keruntuhan mental, kemabukan, kepribadian yang berseberangan, keputusasaan, rekening kosong, pencurian atau kerusakan fasilitas, kebakaran, penggusuran, dan sebagainya. Berbagai beban itu seringkali terasa tak tertanggungkan.
Untuk bertahan dan menemukan inspirasi segar, Dorothy Day memperdalam kehidupan rohaninya. Ia menghadiri perayaan ekaristi, berdoa rosario, doa pribadi atau bersama pada waktu-waktu tertentu, bacaan rohani, sakramen tobat, dan bimbingan rohani. Dorothy Day membagikan kekayaan dari aktivitas-aktivitas rohani tersebut. "Saya melihat segalanya secara baru. Segalanya menjadi segar seperti saat kita sedang jatuh cinta." Ia memeluk kata-kata St. Yohanes dari Salib, "Kasih adalah takaran yang akan dipergunakan untuk menilai diri kita." Ia juga mengambil kesempatan untuk rekoleksi, bahkan retret panjang. "Kasih adalah sebuah perintah. Kasih adalah sebuah pilihan, keberpihakan. Jika kita mengasihi Allah dengan segenap hati kita, seberapa besar kita memberikan hati kita? Jika kita mengasihi dengan segenap pikiran dan jiwa dan kekuatan, seberapa besar pikiran dan jiwa dan kekuatan yang tertinggal? Kita harus menjalani kehidupan kita sekarang. Kematian tak mengubah sesuatu pun. Jika kita tidak belajar untuk mengalami Allah sekarang kita tidak akan mengalaminya di kemudian hari. Jika kita tidak belajar untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya sekarang, kita tidak akan melakukannya kelak."

Sumber Dokumentasi:
Jim Forest, Love is the Measure: A Biography of Dorothy Day, Revised Edition (Maryknoll: Orbis Books, 2000), 80 - 84.

Keakraban dengan Diri
Kita memiliki lubang menganga dalam diri kita. Keillahian (divinity) dan kemanusiaan (humanity) tercerai dalam kehidupan kita. Lubang kehidupan itu seringkali juga digambarkan sebagai pusaran air yang menakutkan kita. Kalau kita berani terjun ke dalamnya, gejolak air pada akhirnya akan tenang. Dalam keheningan kita mendengarkan suara batin (inner voice) yang mengundang kita untuk menutup lubang sehingga keduanya bersatu kembali. Karena lubang itu sedemikian besar dan luka yang disebabkannya sedemikian menyakitkan, kita cenderung melarikan diri darinya. Rasa sakit luka itu dapat sedemikian menghisap kehidupan kita. Atau, kita tergoda untuk menyibukkan diri dengan hal-hal lain daripada menyembuhkan luka itu.
Sebagian dari kita menyadari kesulitan mengenali diri mereka yang sesungguhnya. Diri mereka sedemikian lama mengalami tekanan paksa dengan aktibat mereka hampir-hampir merasa asing dengan diri mereka yang sesungguhnya.

Keakraban dengan Allah

Dering telepon, surat kabar, undangan sahabat, atau kesibukan lain seringkali memecah keheningan kita. Kalau kita masuk dalam keheningan, hal-hal tersebut di atas tak lagi merisaukan kita. Kita merasakan kebahagiaan berada sendirian di dalam kamar atau ruang doa. Kita dapat berbicara dengan Tuhan dan mendengarkan Ia bercakap-cakap dengan kita. Ia dekat dengan diri kita. Ia merengkuh kita dan kita menemukan kedamaian sejati dalam pelukan-Nya. Ingatan akan peristiwa-peristiwa masa lalu yang menyakitkan atau kekhawatiran masa depan kehilangan kuasanya. Hal-hal itu justru mengingatkan kita untuk bersemayam lebih dekat pada hati Tuhan.

Dalam keheningan kita menemukan hati kita dan hati Allah. Hati Allah merupakan tempat berpijak kehidupan kita. Allah mengasihi kita dan Ia cukup bagi kehidupan kita. Ia senantiasa memegang dan menuntun kehidupan kita. Ia mengundang kita untuk memilih-Nya dan terus-menerus kembali kepada-Nya. Kita seringkali menjadi pengembara yang hilir mudik, bahkan seringkali tersesat dalam mencari Allah. Allah mengundang kita untuk menjadi peziarah yang pulang ke rumah, tempat kasih bersemayam dan tempat istirahat peziarahan kita.

Allah menghantar kita untuk memasuki ruang kasih. Kita hanya mengetahui sedikit mengenai ruang ini dan kita seringkali ketakutan untuk memasukinya. Kita barangkali pernah sebentar berada di ruang yang memberi kita kedekatan dan rasa aman. Allah bersemayam di tempat ini, dan mengundang kita untuk berjumpa dengan-Nya di tempat ini. Ia menunggu kita dalam keheningan untuk berdialog dengan kita.

Kedekatan dengan hati Allah terungkap dalam penerimaan kita sebagai putera-puteri Allah. Kita tak lagi berdiri anonim dihadapan Allah. Kita seringkali tergoda untuk memisahkan diri dari kedalaman diri kita (sacred center), tempat Allah bersemayam, dan menjadi anak hilang (prodigal son/daughter). Kita seringkali memerlukan jangka waktu panjang untuk mempertautkan diri kita kembali dengan Allah. Pertobatan seringkali berjalan liku-liku. Kita mengalami gerakan maju dan mundur untuk bersatu kembali dengan Allah. Kebebasan kita sebagai putera-puteri Allah justru tercipta ketika kita kembali kepada Allah.

Idenitas sebagai putera-puteri Allah tidak melepaskan kita dari godaan kuasa-kuasa destruktif dunia di sekitar kita. Kita tidak dapat berjalan seenaknya tanpa kewaspadaan terhadap bahaya yang barangkali sedang mengincar kehidupan kita. Kita tergabung dalam komunitas kecil di tengah dunia yang menolak Allah. Orang-orang yang berada di bawah payung kuasa kejahatan ini mencibir Allah sebagai sekedar kata kosong, doa sebagai fantasi, kesucian sebagai impian di siang bolong, dan kehidupan abadi sebagai pelarian dari kehidupan sehari-hari. Meskipun berada dalam dunia yang jauh dari aman, Allah mengundang kita untuk terus-menerus merawat identitas kita sebagai putera-puteri Allah. Ia mengundang kita untuk menyadari diri sebagai pribadi-pribadi yang senantiasa dikasihi Allah.

Kita mencari jalan untuk berjumpa dengan Tuhan. Perjumpaan itu tak sekedar terjadi dalam pikiran kita melainkan juga dalam tubuh kita. Allah berkenan menjadi manusia sehingga kita dapat merasakan perjumpaan dengan-Nya dan kasih-Nya. Kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita seringkali terhalang oleh rasa malu dan bersalah yang bersarang dalam tubuh kita. Kita kurang, bahkan tidak kerasan dengan tubuh kita. Kita melihat tubuh kita dengan daftar panjang kekurangan. Keraguan dan ketakutan juga meliputi tubuh kita. Tuhan hadir dalam diri kita untuk melepaskan ikatan-ikatan itu dan menciptakan ruang perjumpaan kita dengan-Nya. Ia mendambakan kita untuk hidup sebagai putera-puteri Allah yang merdeka. Ia mengundang kita untuk mempersilakan Ia mengubah kehidupan kita.



Pengampunan

Kita terus-menerus berjuang untuk melihat diri kita secara benar. Kalau kita tetap buta dengan diri kita sendiri, kita cenderung merendahkan diri kita. Kita memandang pribadi-pribadi lain sebagai yang lebih baik, suci, terkasih, dan sebagainya. Kita lalu menggelayut pada pribadi-pribadi lain tanpa pernah menyadari bahwa kita memiliki hal-hal tersebut. Kita tentu saja perlu hati-hati juga dari kecenderungan menjadi narsis. Kita hendaknya berani pula memeluk kekurangan sebagai bagian dari diri kita. Hal terpenting dari pengenalan diri adalah mendaku identitas kita sebagai putera-puteri Allah.

Kita barangkali memiliki karir atau keluarga yang bagus. Namun kita mengalami saat-kesepian. Setiap kali mengalami kesepian, kita hendaknya mencari sumber perasaan itu. Kita cenderung lari darinya atau terjerat di dalamnya. Saat kita lari darinya, kesepian itu tetap tinggal. Kita hanya sebentar saja melupakannya. Depresi merupakan akibat kesepian yang mengakar dalam diri kita. Hati kita hendaknya berani mencari tempat kesepian itu. Pencarian itu merupakan aktivitas penting karena akan mengembalikan kebaikan dalam kehidupan kita. Kesepian boleh jadi merupakan undangan bagi kita untuk memalingkan diri kita sepenuhnya kepada Allah, mengenali, dan mengasihi-Nya. Kita membuka diri kita untuk mempersilakan Allah memeluk kelemahan kita.

Allah mengampuni kita tanpa syarat. Pengampunan Allah keluar dari hati yang tidak memiliki kepentingan. Allah mengundang kita untuk mengampuni sesama kita tanpa syarat. Sebagian orang memandang pengampunan sebagai aktivitas yang tidak bijaksana, tidak sehat, dan tidak praktis. Sebagian juga menuntut balasan terima kasih saat mengampuni sesamanya. Pengampunan yang sejati menuntut kita untuk mengelola hati kita yang terlanjur dilukai sesama kita.