Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label Ekologi. Show all posts
Showing posts with label Ekologi. Show all posts

Tuesday, January 8, 2008

Ekoteologi



EKOTEOLOGI:

Menebus Tubuh Tuhan dari Holocaust

Oleh Mutiara Andalas[1]

Kehidupan ekologi sedang berarak menuju kematian dini. Holocaust barangkali merupakan kata yang mampu mewakili gawatnya krisis ekologi saat ini. Kita bergumul mencari tahu pelaku kerusakan ekologi dan jari telunjuk kita akhirnya kembali pada diri kita. Kita menjadi terdakwa utama dalam perusakan ekologi dan bertanggung jawab dalam menebus ekologi dari bahaya holocaust. Komunitas beriman tak luput dari tanggung jawab global menebus ekologi. Ekoteologi merupakan sumbangan komunitas beriman untuk menebus ekologi dari ancaman kematian dini. Ia melihat semesta sebagai tubuh Tuhan yang menanti penebusan karena kedosaan manusia menggagahi ekologi hingga ekologi terancam mengalami kematian dini.

Krisis ekologi berderet panjang melintasi batas-batas geografi. Ia juga telah merambah bumi Indonesia hampir tanpa jeda. Pembalakan hutan, pengerukan mineral, gempa bumi, gelombang pasang, dan banjir hampir mengenai semua wilayah Indonesia. Lolosnya para pelaku perusakan ekologi dari jerat hukum dan lambannya tanggapan terhadap para korban bencana ekologi merupakan penera yang menunjukkan masih rendahnya kepedulian negara kita terhadap krisis ekologi. Kita juga menerima dampak krisis ekologi global dalam bentuk desakan dari komunitas dunia untuk memelihara hutan kita sebagai salah satu paru-paru dunia. Krisis ekologi juga mendesak teolog untuk menggambarkan ulang mengenai Allah penebus di tengah kerusakan ekologi.

Agenda Baru Teologi

Ekoteologi menamai sebuah fokus baru dalam ranah teologi sebagai tanggapan terhadap krisis ekologi. Ia merupakan anak ilmu dalam teologi yang masih membutuhkan eksplorasi akademik untuk mengisi kosa kata baru ini. Ia menandai babak baru dalam dalam relasi antara teologi dan ekologi yang dalam periode sebelumnya telah melahirkan teologi penciptaan dan lingkungan. Kedua teologi pendahulu ini berangkat dari asumsi manusia sebagai pusat ciptaan yang mendapatkan tugas dari Allah untuk merawat keutuhan ciptaan (integrity of creation). Ekoteologi melukis ulang kisah penciptaan dan tanggung jawab baru manusia sebagai rekan Allah dalam menebus kerusakan ekologi. Ekoteolog mengajukan dakwaan dosa kepada manusia kontemporer yang menggagahi ciptaan-ciptaan lain. Mereka menawarkan budaya ekologi baru yang menuntut komitmen manusia sebagai salah satu ciptaan dalam ekologi untuk membalut luka-luka dalam tubuh ekologi.

Akademisi dan praktisi di bidang-bidang lain yang membuka mata para teolog terhadap situasi genting ekologi kontemporer. Mereka memberikan sumbangan luar biasa kepada para teolog dalam menggeser fokus pertanyaan teologi dan membidani lahirnya ekoteologi. Pada kesempatan kali ini penulis berfokus pada gerakan ekologi dalam tradisi kristiani.[2] Para teolog yang melibatkan diri dalam diskusi krisis ekologi menggunakan hasil kajian ilmu alam berkaitan dengan sejarah ciptaan dalam alam semesta. Mereka juga menggunakan kajian ilmu-ilmu sosial untuk memotret kebudayaan manusia yang membiakkan perusakan ekologi, dan efek negatif dari teologi penciptaan dan lingkungan yang masih menekankan manusia sebagai pusat ciptaan. yang melahirkan perusakan ekologi. Mereka mengusulkan untuk tidak memisahkan diskusi krisis ekologi dari keadilan ekonomi. Para ekoteolog menyadari diri dengan rendah hati sebagai pendatang belakangan dan berkomitmen untuk melibatkan diri dalam diskusi dan praksis global menebus ekologi dari ancaman kematian dini.

Sallie McFague, teolog ekofeminis Amerika Serikat, mendeteksi kegagalan teologi kristiani menanggapi isu penting dan mendesak ekologi. McFague menangkap pergeseran agenda teologi mulai abad 20 hingga saat ini. Para teolog bergumul dengan agenda mengenal Allah hingga tahun 1960-an. Teologi pembebasan yang berkuncup pada tahun 1970-an dan bermekaran sesudahnya menawarkan agenda baru membebaskan dunia. Agenda teologi abad 21 merupakan penggalian lebih lanjut dari periode-periode sebelumnya, yaitu menyelamatkan ciptaan-ciptaan Allah dari ancaman kematian dini.[3] David C. Hallman melihat komunitas beriman kristiani sedang menjalani masa transisi dari teologi perawatan lingkungan menuju ekoteologi.[4] Perspektif sejarah membantu kita untuk memahami pergumulan Gereja, bahkan kegagalannya, dalam menanggapi krisis ekologi secara lebih empatik.

Gereja hingga saat ini barangkali masih satu-satunya institusi agama yang hampir selalu berada di kursi terdakwa saat pemerhati ekologi berdiskusi mengenai pelaku utama atau figuran dalam kerusakan ekologi. Para pemerhati ekologi mendakwa Gereja sebagai pewaris tunggal budaya patriarki dan menyusun teologi penciptaan dan perawatan lingkungan yang biastelah mengeluarkan dan mengekalkan teologi penciptaan dan perawatan lingkungan yang bias patriarki. Teologi penciptaan dan perawatan lingkungan dalam prakteknya membiakkan kerusakan ekologi. Para teolog kristiani hendaknya menempatkan kritik mereka dalam bingkai pengaruh agama kristiani dalam kebudayaan Barat. Studi-studi lanjutan mengenai relasi agama kristiani dengan kerusakan ekologi, terutama kajian feminisme dan poskolonialisme, mencelikkan mata semua komunitas beriman karena virus patriarki juga bersarang dalam komunitas-komunitas beriman lainnya. Persenggamaan patriarki dengan industrialisasi dan kolonialisme membiakkan monster ekonomi yang mengabaikan kelestarian ciptaan. Monster ekonomi ini tak pernah puas dalam menghisap kekayaan ekologi. Ekoteolog tak boleh alpa terhadap para pelaku ekonomi dari level lokal sampai multinasional yang seringkali luput dari pandangan kita saat kita berbicara mengenai krisis ekologi.

Ekoteolog melukiskan kembali kisah penciptaan. Mereka menolak pandangan tradisional yang melihat penciptaan dari tingkatan yang lebih sederhana menuju tingkatan yang lebih sempurna. Dalam bingkai ini manusia menjadi puncak kisah penciptaan. Teologi penciptaan dan perawatan lingkungan dibangun dari bingkai kisah penciptaan ini. Manusia ditempatkan sebagai ciptaan istimewa dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Manusia berelasi dengan ciptaan-ciptaan lain secara piramidal. Mereka tidak hanya menemukan diri mereka berbeda, tetapi juga terpisah dari ciptaan-ciptaan lain. Ia menaikkan diri sebagai tuan atas ciptaan-ciptaan lainnya. Ia juga merasa mendapatkan penugasan istimewa dari Tuhan untuk merawat ciptaan-ciptaan lain. Mereka dapat mempergunakan atau mengeksploitasi ciptaan-ciptaan lain demi keberlangsungan hidup manusia.

Ekoteolog melukis kisah penciptaan secara kosmosentris. Kisah penciptaan mulai kehadiran ciptaan-ciptaan bukan manusia dan manusia menyusul kehadirannya di planet bumi. Mereka memiliki mekanisme mempertahankan dan memekarkan kehidupan mereka secara lestari. Kehidupan mereka dapat berlangsung sebelum manusia hadir diantara mereka. Manusia menjadi anggota kemudian di planet bumi setelah periode penciptaan sangat panjang. Ekoteolog menolak pencitraan manusia sebagai tuan atas ciptaan-ciptaan lain karena gagasan itu mengingkari kisah penciptaan. Manusia berelasi dengan ciptaan-ciptaan lain tidak dalam relasi hirarkis melainkan relasi lingkaran. Semua ciptaan saling terkait dan tergantung satu sama lain. Ekoteolog menanggalkan citra palsu manusia sebagai tuan atas ciptaan-ciptaan lain. Mereka tetap mengakui peran penting manusia dalam kehidupan planet bumi, namun menolak klaim peran utama manusia dalam ekologi.

Ekoteolog berhadapan dengan lukisan penciptaan yang dirusak dosa manusia. Sebagian kerusakan ekologi tertera jelas dalam pandangan indera publik. Kerusakan ekologi besar seringkali justru tersembunyi dari penglihatan mereka. Ekofeminis menawarkan gender sebagai instrumen hermeneutik untuk membongkar para pelaku kejahatan ekologi. Alam mengalami penderitaan seperti perempuan dalam sejarah. Rosemary Radford Ruether mengutuk budaya patriarki karena budaya ini memberikan kontribusi negatif tidak hanya terhadap kemanusiaan perempuan tetapi juga terhadap perusakan alam sepanjang sejarah. Ruether tanpa ragu menunjuk tangan manusia yang menyembah budaya patriarki menyebabkan pencemaran terhadap alam. Kerusakan ekologi pertama-tama dan terutama terjadi karena perilaku dominatif manusia terhadap alam. Ruether mengusulkan agar laki-laki dan perempuan berbagi kesetaraan dalam tanggung jawab sebagai wakil Tuhan dalam mengelola alam.[5]




[1] Rohaniwan Katolik yang sedang mendalami teologi sistematik di Jesuit School of Theology di Berkeley dan mengembangkan teologi kemanusiaan kontemporer Indonesia. Ia mengundang sidang pembaca yang berminat untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai tema ini melalui alamat e-mail mutiaraandalas@yahoo.com.

[2] Rosemary Radford Ruether mengamati mekarnya tulisan-tulisan perempuan mengenai ekologi. Ruether sekaligus menilai bahwa tulisan-tulisan ecofeminis belum sampai pada taraf kedalaman dan membutuhkan eksplorasi akademik lanjutan. Saya mengusulkan beberapa tulisan rintisan pendek mengenai ecofeminisme dari tradisi religius lain antara lain Stephanie Kaza, “Buddhism, Feminism, and the Environmental Crisis”; Judith Plaskow, “Feminist Judaism and Repair of the Word”; Lina Gupta, “Purity, Pollution, and Hinduism”; Chung Hyun Kyun, “Ecology, Feminism, and African and Asian Spirituality: Towards a Spirituality of Eco-Feminism.”

[3] Sallie McFague, “An Earthy Theological Agenda” dalam Carol J. Adams (Ed.), Ecofeminism and the Sacred (New York: Continuum, 1993), 84.

[4] David G. Hallman, Beyond “North/South Dialogue” dalam David G. Hallman, Ed., Ecotheology: Voices from South and North (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1994), 6.

[5] Rosemary Radford Ruether, New Woman/New Earth (1975), 186; Ruether, 1989, 2. Ruether, “Eco-feminism and Theology” in David G. Hallman, Ecotheology, 199 – 201.

Sumber dokumentasi:
http://mudrajad.com/wp-content/upload/gempa.JPG

Wednesday, August 8, 2007

Pasca-Holocaust Ekologi

Alarm bencana ekologi berdering keras di berbagai daerah di Indonesia. Di Jember, korban meninggal akibat bencana banjir bandang sudah melampaui angka 100 warga. Ribuan warga meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi karena genangan banjir. Di Banjarnegara, bencana tanah longsor dalam sekejap mengubur hidup puluhan warga. Ratusan rumah warga terkubur akibat tanah longsor.
Status siaga III dan zona merah dikenakan pada berbagai daerah yang rawan banjir dan tanah longsor. Monster kerusakan ekologi ciptaan manusia sedang memburu penciptanya.
Bencana ekologi, seperti banjir dan tanah longsor, menyingkap persoalan kerusakan ekologi yang sudah mencapai taraf kritis. Pembabatan hutan dalam skala massal dan berbagai eksploitasi ekologi lainnya telah melahirkan monster ekologi pemangsa kehidupan. Akibatnya, kehidupan ekologi pada masa sekarang dan masa depan berada dalam ancaman serius kematian prematur.
Di hadapan ancaman kematian prematur manusia, habitus baru humanitas untuk memerangi kerusakan ekologi itu bukan sekadar fakultatif lagi. Menciptakan kultur kehidupan ekologi di tengah-tengah kematian prematur korban adalah imperatif. Pengingkaran kita terhadap kerusakan ekologi telah memproduksi kematian prematur korban akibat bencana banjir dan tanah longsor.
Desekrasi ekologi
Jon Sobrino dalam Where is God?: Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope (2004) menyatakan bahwa sumber sejati solidaritas adalah penemuan realitas the suffering others. Dimensi personal humanitas dan dimensi sosial kita sebagai komunitas manusia ditantang saat berjumpa dengan fakta penderitaan korban. Pengingkaran tanggung jawab kita terhadap mereka yang menderita mempercepat kematian prematur korban. Sebaliknya, tanggung jawab kita terhadap mereka memulihkan kehidupan mereka yang menderita. Kematian prematur mereka berlawanan dengan kehendak Allah untuk kehidupan mereka.
Para ahli ekologi Indonesia sudah mendeteksi ekologi sebagai the suffering others baru dalam dunia kita. Eksploitasi hutan sudah mencapai taraf merusak kehidupan ekologi. Namun, kita tak serius menanggapi isu kerusakan ekologi ini. Kita tidak sadar bahwa pembabatan hutan besar-besaran itu melahirkan monster ekologi dengan daya destruktif mengerikan. Kerusakan dan kematian prematur yang diderita banyak warga korban banjir dan tanah longsor merupakan lensa tembus padang untuk melihat habitus lama eksploitasi manusia terhadap kehidupan ekologi selama ini.
Sallie McFague dalam Life Abundant: Rethinking Theology and Economy for a Planet in Peril (2001) menegaskan bahwa komunitas dunia perlu melakukan revolusi ekologi untuk menghentikan desekrasi ekologi. Berbagai krisis alam akhir-akhir ini memperkuat relasi intrinsik antara bencana alam dan perilaku eksploitatif manusia terhadap ekologi. Eksploitasi manusia sudah mencapai taraf melampaui batas kemampuan ekologi untuk menanggungnya. Menurut dia, perilaku destruktif manusia terhadap ekologi itu bersumber pada pandangan mengenai ciptaan yang ditata dalam relasi dualistik hierarkis. Paradigma superioritas-subordinasi ini opresif terhadap alam.
Kredo dominasi dan kontrol absolut manusia terhadap ciptaan-ciptaan lain memberikan lisensi untuk eksploitasi ekologi. Alam sekadar dipandang sebagai obyek par excellence. Alam menjadi the suffering other baru karena terus-menerus diperas secara rakus oleh manusia. Dominasi manusia terhadap alam ini berakibat pada desekrasi alam. Kehidupan planet kita terancam mengalami kematian prematur karena luka-luka yang diderita alam sangat parah. Manusia tak hanya mengeliminasi dirinya, tetapi juga ciptaan- ciptaan lain. Tanpa sadar manusia eksploitasi manusia terhadap alam ini menciptakan monster ekologi yang sekarang memorakporandakan kehidupan seluruh ekologi.
Tak boleh mati rasa
Holocaust ekologi tampaknya akan menjadi salah satu isu utama dunia abad ini. Ancaman holocaust ekologi itu telah menjadi realitas di berbagai belahan dunia dalam waktu yang saling berdekatan. Dunia kita tak boleh lagi mati rasa terhadap isu kerusakan ekologi. Selama ini kita masih terbuai oleh imajinasi tatanan ekologi pra-holocaust. Tsunami, badai, banjir, dan bencana-bencana ekologi lainnya membantu kita untuk mengimajinasikan kerusakan pasca-holocaust ekologi.
Sallie McFague mengusulkan model ekosentris sebagai alternatif baru untuk mengalamatkan problem kerusakan ekologi. Seluruh ciptaan dalam ekologi berada jejaring interrelasi dan interdependensi. Dunia dipandang sebagai a living body. Paradigma subyek-obyek harus digeser menjadi paradigma subyek-subyek yang menempatkan alam sebagai tubuh Allah. Model dunia sebagai tubuh Allah ini merawat dan menumbuhkan ekologi.
Perhatian Pemerintah Indonesia belum sampai pada kesadaran perlunya habitus baru untuk merawat ekologi. Perhatian kita masih terforsir pada usaha mereduksi kerusakan ekologi dan rehabilitasi korban pasca-bencana. Kita masih berada pada tahap memetakan wilayah-wilayah paling berisiko terhadap ancaman holocaust ekologi dan manajemen menghadapi holocaust ekologi.
Revolusi ekologi harus sampai pada habitus baru manusia untuk merawat ekologi. Kita, manusia, tidak hidup di luar ekologi. Kita adalah bagian dari jejaring ekologi. Eksploitasi manusia terhadap alam terbukti berdampak destruktif bagi kontinuasi kehidupan seluruh ekologi.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor di berbagai daerah di Indonesia merupakan metafor sangat kuat untuk menunjukkan disorientasi ekologi sebagai akibat eksploitasi manusia terhadap alam. Ekologi sekarang berada dalam sirene tanda bahaya. Kehidupan ekologi terancam mengalami kepunahan karena habitus lama manusia yang eksploitatif terhadap ekologi. Kita diundang semakin mengambil habitus baru yang merawat ekologi. Hanya dengan merawat ekologi, monster buas ekologi yang sekarang memorakporandakan kehidupan dapat dijinakkan.

Solidaritas Pascatsunami

www.kingofoakstreet.com/Images/residents_esca...

Solidaritas Pascatsunami


Dunia berduka. Tragedi kemanusiaan terus terjadi. Serangan badai Katrina menghancurkan sebagian wilayah Gulf Coast dalam skala masif. Kematian diperkirakan mencapai ribuan jiwa, belum termasuk korban luka-luka dan kerusakan material. Pemerintah AS menyatakan situasi darurat kemanusiaan dan menyerukan bantuan kemanusiaan kepada dunia.
Dari tengah-tengah lokasi evakuasi, kita mendengar ratapan penderitaan korban. Para korban mengisahkan kehilangan, luka, bahkan kematian orang-orang terdekatnya. Selain penderitaan, kita mendengarkan kisah kehidupan. Kita melihat jalinan panjang tangan manusia saling berpegangan untuk saling menyelamatkan kehidupan. Badai Katrina tak menyisakan apa pun, selain kehidupan mereka. Kita melihat parade manusia meninggalkan segalanya demi menyelamatkan kehidupan.
Tragedi orang miskin
Gelombang manusia mengungsi mencari lokasi aman, pun banyak warga menyisir lokasi bencana Katrina. Mereka mencari sesamanya yang mungkin terjebak air. Yang lain mencari jejak bau manusia di antara reruntuhan bangunan dan memakamkan secara layak.
Jon Sobrino dalam Where is God?: Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope (2004) menyerukan penting dan perlunya solidaritas universal di hadapan tragedi kehidupan orang miskin. Solidaritas universal mulai dengan preferential option for the truth.
De facto mayoritas warga dunia terancam mengalami kematian prematur karena kemiskinan. Orang miskin menanggung beban berat untuk membela hidupnya. Bencana alam, seperti tsunami, dan topan Katrina kian menghancurkan kehidupan orang miskin. Efek bencana alam ini amat fatal bagi kehidupan karena berpotensi merenggut kehidupan mereka.
Bencana alam adalah lensa tembus pandang untuk melihat tragedi kemanusiaan. Bencana alam tidak pernah selektif memilih korban. Namun, perbedaan efek bencana alam yang dialami mayoritas orang miskin dan minoritas yang tidak miskin amat signifikan. Pascabencana alam, orang miskin perlu waktu lama untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Mayoritas orang miskin kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan hidup dengan persediaan finansial terbatas. Masa depan mereka tak menentu. Penderitaan yang dialami minoritas orang tidak miskin biasanya berdurasi pendek. Mereka dapat memperbaiki kehidupan yang telah rusak dan hidup normal dengan segera.
Solidaritas universal
Esensi solidaritas adalah mencari manusia yang lain. Solidaritas berawal dengan berinkarnasi dalam penderitaan korban yang terus berada dalam ancaman kematian prematur. Bantuan kemanusiaan diharapkan merupakan ungkapan hormat kita pada kesucian kehidupan orang miskin. Skandal terbesar kemanusiaan terjadi saat dunia melupakan orang miskin.
Dunia kita sering menegasi eksistensi mayoritas orang miskin dan berpaling dari penderitaannya. Bencana alam tsunami menumbuhkan solidaritas universal. Para korban mengundang dunia untuk mendekati, mengulurkan tangan, dan menjamah luka-luka korban.
Dalam tragedi topan Katrina, mayoritas korban adalah warga kulit hitam dan miskin. Situasi di kota New Orleans ini menjadi karakteristik di negara bagian Amerika Serikat. Seperti tsunami, restorasi lokasi akibat serangan Katrina diperkirakan baru usai dalam hitungan tahun. Tersisa pertanyaan bagaimana orang miskin akan menjalani hidup mereka di hari, minggu, bulan, dan tahun mendatang.
Kasus tanah longsor di Padang mempertegas situasi rentan mayoritas orang miskin mengalami kematian prematur. Mereka hidup berdesakan di ruang sempit dan terpaksa hidup di lokasi yang terjal dan terlarang untuk daerah hunian karena rawan bencana alam. Mereka tidak memiliki sumber daya untuk membangun perumahan yang layak huni.
Komunitas pakar tsunami dan gempa internasional menyatakan kota Padang sebagai daerah paling rawan terhadap potensi tsunami di dunia. Pengulangan tsunami diperkirakan terjadi sekitar 200 tahun ke depan sejak terakhir terjadi tahun 1833. Tragedi tsunami yang menghancurkan Aceh dan Sumatera Utara hendaknya mendidik kita untuk menghindari dan meminimalkan tragedi yang akan datang secara efisien.
Langkah-langkah preventif dapat mulai dilakukan, seperti mendirikan menara observasi, penahan gelombang, tempat evakuasi, peta evakuasi, membenahi tata ruang, dan memperlebar jalur-jalur pantai. Aneka tindakan itu adalah anunsiasi kesucian kehidupan dan denunsiasi kematian prematur orang miskin.
Tanggung jawab global
Utopia solidaritas universal adalah menciptakan dunia yang kian membuka ruang hidup bagi semua penghuninya. Menyitir Hans Kung, utopia solidaritas universal adalah menciptakan dunia yang kian humanum bagi warganya. Sekaligus penghuni dunia kian menyadari tanggung jawab globalnya terhadap aneka masalah penderitaan korban yang mengancam kemanusiaan kita.
Bencana alam akan silih berganti memorakporandakan dunia. Komunitas dunia diundang untuk terus menegaskan komitmennya membela kesucian kehidupan. Kita membela kesucian kehidupan jika tidak melupakan korban bencana alam.