Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Thursday, November 13, 2008


JAKARTA, KAMIS — Keluarga korban peristiwa Semanggi 1 memperingati tragedi berdarah yang telah merenggut anggota keluarganya dengan berziarah ke makam para korban dan beberapa acara peringatan lain.

Puluhan keluarga korban peristiwa Semanggi 1 berkumpul di TPU Tanah Kusir. Di pemakaman ini dimakamkan pahlawan Reformasi, Sigit Prasetya mahasiswa YAI yang ikut menjadi korban keganasan aparat saat melibas mahasiswa yang menuntut penolakan Sidang Istimewa MPR. Bersama Kontras serta keluarga korban Kerusuhan Mei, mereka menuntut pemerintah menguak tabir kelam peristiwa tersebut.

Widodo, ayah Sigit, mengatakan, "Pokoknya sampai nyawa ini masih diraga, saya akan tuntut mereka. Saya tidak terima dengan perlakuan terhadap anak saya, makanya saya akan tetap menggunakan baju gelap ini. Bukan berarti saya sedang berkabung, tapi sebagai keteguhan hati saya untuk menuntut peristiwa ini segera dibongkar," sambil menunjukkan baju hitamnya yang bertuliskan korban tragedi semanggi 1.

Rencananya, rombongan keluarga korban juga akan melakukan tabur bunga di Universitas Atmajaya Jakarta, siang ini. Sedangkan sore harinya mereka akan menggunjungi makam BR Norma Irmawan, mahasiswa Atmajaya yang ikut menjadi korban Semanggi.

Wednesday, November 12, 2008

Sumarsih, 10 Tahun Berseru-seru di Padang Gurun


http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/13/06310160/Sumarsih..10.Tahun.Berseru-seru.di.Padang.Gurun.
Kamis, 13 November 2008 | 06:31 WIB

“Baju saya yang bukan hitam sudah habis karena sejak 10 tahun lalu kalau membeli baju selalu saya pilih warna hitam. Lama-lama baju yang lain tergusur,” kata ibu itu pada suatu sore. Rambut di kepalanya sudah banyak yang memutih. Usianya tidak muda, 58 tahun. Perawakannya kecil. Pula posturnya jauh dari tinggi. Tapi, hatinya keras. Selama 10 tahun ia selalu mengenakan baju berwarna hitam.

”Ini bukan sekadar lambang dukacita, ini lambang keteguhan hati,” katanya menerangkan tentang warna bajunya.

Sore itu, Maria Katarina Sumarsih –demikian nama ibu itu- datang ke kantor redaksi kompas.com. Ia mengabarkan bahwa tanggal 13 November ini akan ada perayaan 10 Tahun Tragedi Semanggi. Selain ke kompas.com ia juga berkeliling ke sejumlah media bersama sejumlah aktivis 98.

”Kami tidak ingin pemerintah melupakan peristiwa ini. Ada pelanggaran kemanusiaan dalam peristiwa itu dan orang-orang yang disangka terlibat masih berkeliaran bebas. Keadilan harus ditegakkan,” tuturnya. Suaranya pelan, tapi jelas. Runtut dan tegas.

Sumarsih adalah ibu dari almarhum Bernardus Realino Norma Irmawan atau Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta. Pada 13 November 1998, Wawan meninggal tertembak peluru tentara di depan Kampus Atma Jaya, Jakarta. Saat itu Wawan hendak menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus.

Tim Relawan untuk kemanusiaan mencatat, 17 orang meninggal dalam peristiwa 13 November, terdiri dari 6 orang mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Jakarta, 2 orang pelajar SMA, 2 orang anggota aparat keamanan dari POLRI, seorang anggota Satpam Hero Swalayan, 4 orang anggota Pam Swakarsa dan 3 orang warga masyarakat.

Sementara 456 orang mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan senjata api dan pukulan benda keras, tajam atau tumpul. Mereka ini terdiri dari mahasiswa, pelajar, wartawan, aparat keamanan dan anggota masyarakat lainnya dari berbagai latar belakang dan usia, termasuk Ayu Ratna Sari, seorang anak kecil berusia 6 tahun, terkena peluru nyasar di kepala.

Peristiwa 10 tahun lalu itu mengubah hidup Sumarsih secara drastis. Dari seorang pegawai negeri sipil yang tidak pernah besentuhan dengan dunia politik menjadi seorang aktivis yang setiap saat turun ke jalan beseru-seru tentang keadilan bagi korban pelanggaran hak asasi manusia. Rasa sakit di dadanya kehilangan putra tercinta bertransformasi menjadi api perjuangan.

Bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan ia mendata kondisi korban pelanggaran HAM di Jakarta. Ia aktif menghadiri diskusi, menjadi pembicara. Ia menjadi orator unjuk rasa. Ia berkeliling melakukan audiensi dengan institusi tentara, Komisi Nasional HAM, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), hingga Presiden. Sumarsih juga menjadi pendamping bagi keluarga korban, menyemangati mereka untuk tetap kuat memperjuangkan keeadilan yang menjadi hak mereka. Ia pernah melempar telur busuk ke tengah Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat karena lembaga itu mengeluarkan rekomendasi yang menyatakan peristiwa Trisakti dan Semanggi I dan II bukanlah pelanggaran HAM berat.

Atas segala sepak terjangnya, ia pernah mendapat penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2004. Ini adalah penghargaan kepada mereka yang dianggap berjasa memperjuangkan hak asasi manusia di Indonesia. Semangat dan keberaniannya menjadi ikon perjuangan kasus Tragedi Trisakti-Semanggi I dan II.

Hari ini, 13 November, genap 10 tahun berlalu, tidak ada sinyal menggembirakan dari institusi negara untuk menuntaskan kasus ini. Bersama sejumlah kasus pelanggaran HAM lainnya, berkas kasus Trisaksi-Semanggi I dan II terus saja bolak-balik ke Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Pasal multitafsir tentang pengadilan HAM ad Hoc pada Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM adalah sumber kebuntuan.

”Saya sadar ini adalah perjuangan panjang. Butuh stamina. Saya juga kadang-kadang capek. Marah. Tapi, selalu ada saja peristiwa yang menguatkan. Api perjuangan ini tidak bisa dipadamkan. Saya senang karena selalu muncul generasi-generasi baru yang peduli atas kasus ini. Buktinya, kami bisa menggelar perayaan 10 tahun Tragedi Semanggi. Yang membantu banyak dari generasi-generasi muda,” terang Sumarsih.

Api perjuangan itu memang belum padam. Kalau Anda melintas di Jalan Medan Merdeka Utara pada setiap Kamis pukul 16.00 WIB, Anda akan melihat sekelompok orang berdiri di seberang Istana Negara sambil membentangkan spanduk. Mereka tidak berorasi, tidak pula melakukan aksi teatrikal layaknya peserta unjuk rasa meski mereka sedang berunjuk rasa. Mereka hanya berdiri dan diam, tanpa suara. Biasanya setelah satu jam mereka membubarkan diri dan kembali lagi hari Kamis pekan berikutnya. Sudah hampir dua tahun (sejak 18 Januari 2007) mereka menyambangi istana.

Aksi Kamisan itu –demikian mereka menyebutnya- adalah cara para korban dan keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) mengingatkan pemerintah untuk menuntaskan sejumlah kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negeri ini. Diantara kelompok orang itu, anda akan mudah mengenali Sumarsih dengan baju hitam dan rambutnya yang memutih. Dalam diam Sumarsih berseru-seru tentang keadilan, seruan perempuan tua di padang gurun.


Heru Margianto
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Friday, September 26, 2008

Maaf Ya

Nggak kecepetan permintaan maafnya? Lebaran khan masih beberapa hari ke depan? Permohonan maaf berkaitan dengan kemungkinan keterlambatan updating blog. Mulai capek updating blog? Nggak donk. Terus? Ssst... tak bisikin tapi jangan disebarluaskan dulu ya. Ini rahasia kita berdua saja. Begini ceritanya. Cepetan kenapa? Sorry soalnya masih deg-degan. Kemarin saya urusan bisnis dengan penerbit di Indonesia. Trus? Saya dapat lampu hijau! Saya langsung setor naskah "Air Hidup" kepada mereka. Mereka bertanya, "Kapan mau diterbitin?" Are you kidding me? Lebih heboh lagi, saya diminta untuk setor naskah "Ratapan Perempuan, Air Mata Allah" sebelum Natal 2008. Wah bakalan begadang terus nich. So, maaf ya kalau updating blog seret. By the way, buat teman-teman yang akan merayakan Idul Fitri mohon maaf lahir batin ya. Jadi ingat pengalaman saat kecil setiap lebaran sungkem pada kakek dan nenek sambil menerima angpao!

Friday, September 5, 2008

Info Buku Baru




Download: 1 documents, 1112 KB

Printed: 195 pages, 6" x 9", perfect binding, cream interior paper (60# weight), black and white interior ink, white exterior paper (100# weight), full-color exterior ink

Description:

This book initiates the dialogue between literature and theology in Indonesia in order to compose a distinctively Indonesian narrative theology. It re-imagines literary artist as the poet of humanity and theologian as the poet of God.It reflects on two recent historical events, the May tragedy of 1998 and the Tsunami of 2004.

Narrative theology invites us to re-define theology from a science to a poetry of God, and the theologian as scientist to a poet of God. It emphasizes the experience of God who encounters human persons in history using human words or images, and brings salvation to the suffering people. Dialogical interaction with literati raises consciousness among theologians so that God, theological imagination and truth become the main pillar of narrative theology. Theology as poetry of God brings a new emphasis on God as the subject in theology. The poet of God also lays stress on theological imagination which brings salvation to the suffering people. We live in what Johann Baptist Metz calls a “post-narrative age,” which tends to ignore the suffering people and their narrative word and image to encounter God.

Tuesday, August 5, 2008

Info Buku Baru



Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah kehidupan inspiratif dari pribadi-pribadi sederhana di sekitar kehidupan saya maupun dari pribadi-pribadi yang dikenal publik, seperti Hillary Clinton, Stephen Covey, Dalai Lama, Teresa dari Calcutta, Henry J.M. Nouwen, Mahatma Gandhi, dan sebagainya. Kisah-kisah kehidupan mereka berkisar pada keluarga, kerja, keutamaan, dan relasi dengan Tuhan. Saya bahkan memasukkan dunia binatang sebagai inspirasi kehidupan kita pada era millenia ini.
Toko buku online: Lulu.com
Harga Buku Cetak: $9.74
Harga Buku Download: $ 5.00

Monday, August 4, 2008

Info Buku Baru

Buku ini lahir dari percakapan sehari-hari kita mengenai Tuhan di zaman sekular. Bagian pertama buku menawarkan sosok Henry J.M. Nouwen yang dalam pandangan penulis merupakan generasi baru guru rohani pasca-Anthony de Mello. Ia mengundang para pembaca dan pendengarnya untuk menemukan keheningan, tempat perjumpaan Tuhan dengan putera-puteri terkasih-Nya, di keramaian dunia. Ia terlibat dalam isu-isu sosial-eklesial, seperti perang, kemiskinan, ketidakadilan, senjata nuklir, AIDS, ekologi, kepemimpinan Paus, tahbisan perempuan, imam nikah, homoseksualitas, alat kontrasepsi, aborsi, dan euthanasia. Bagian kedua buku menawarkan beragam kisah kehidupan-iman sehari-hari dengan latar belakang sekolah, pusat perbelanjaan, restoran, halte bus, lantai dansa, bar, kafe, kawasan hitam, dan sebagainya. Dengan tuturan sederhana, saya juga menyentuh persoalan-persoalan kontemporer, seperti pendidikan anak, perilaku konsumtif, kriminalitas jalanan, ekologi, diskriminasi rasial, dan kesetaraan jender.
Toko Buku Online: Lulu.com
Harga Cetak $ 9.63

Download $ 5.00

Friday, March 28, 2008

Segera Terbit: Politik Anamnesis: Teologi Politik Kemanusiaan di Negara Kriminal

Pengarang: Mutiara Andalas, S.J.

Penerbit: BPK Gunung Mulia Jakarta

Tahun: 2008

Kata kunci: Korban 1998, Politik Anamnesis, Politik Amnesia, Jon Sobrino, Hannah Arendt, Ivonne Gebara, David Held, Teologi Politik Kemanusiaan, dan Negara Kriminal.


Buku Politik Anamnesis: Teologi Politik Kemanusiaan di Negara Kriminal lahir dari abjad air mata paguyuban keluarga korban Mei – Semanggi 1998. Kisah korban tragedi kemanusiaan tersebut sampai kepada kita melalui ziarah panjang baik dalam diri keluarga korban maupun penulis yang seringkali tersela keheningan panjang dan air mata. Pembaca akan menemukan pergumulan kemanusiaan-iman terdalam pasca-tragedi yang menggetarkan sanubari kita. Kisah pergumulan mereka seringkali berawal dan berakhir dengan air mata. Mereka seringkali berjumpa dengan Tuhan dengan bahasa keheningan dan air mata. Kedalaman kisah mereka seringkali justru terletak dalam spasi antar abjad kisah mereka. Penulis dengan sangat hati-hati mengeja bahasa keheningan dan air mata keluarga korban sehingga pembaca dapat mendengarkan kisah mereka yang punya kuasa menyapa kemanusiaan-iman kita.

Buku ini juga menampilkan pergumulan kemanusiaan-iman para pekerja kemanusiaan yang terentang dari Ibu Plaza de Mayo, Rigoberto Menchú, Aung San Suu Kyi, Elie Wiesel, Hannah Arendt, Jon Sobrino, dan sebagainya. Penulis menampilkan dialog imajiner mereka dengan paguyuban keluarga korban, pekerja kemanusiaan, dan aparat negara di Indonesia. Penulis juga menampilkan keteladanan martir politik kemanusiaan yang berkomitmen membela kesucian hidup korban hingga menebusnya dengan kehidupan mereka sendiri. Mereka menderita kematian prematur karena berkonfrontasi dengan illah-illah kematian sejarah yang juga menciptakan kematian dini pada korban yang dibelanya.

Penulis mengundang pembaca untuk mendekati tragedi kemanusiaan dari perspektif iman. Kita akan berjumpa dengan praksis iman dari individu atau komunitas beriman dari tradisi iman Islam, Kristiani, Yahudi, dan Buddha dalam isu kemanusiaan seperti diskriminasi rasial, perkosaan massal, kekerasan militer, dan rezim kriminal. Penulis juga mengisahkan pergumulan kemanusiaan-imannya dalam mendampingi perjuangan korban meraih keadilan di negara kriminal. Paguyuban keluarga korban tragedi kemanusiaan mengundang kita untuk mengenang korban dari ancaman amnesia sosial. Penulis yang menggeluti teologi politik kemanusiaan mengundang pembaca untuk berpaling pada kisah korban sejarah di Indonesia dan kisah Allah kehidupan dalam kitab suci.

Keunggulan Buku

a) Kebanyakan buku mengenai tragedi Mei – Semanggi menitikberatkan pada analisis politik tragedi dan miskin kisah korban. Naskah ini lebih menampilkan menampilkan kisah korban tragedi dengan bingkai analisis politik.

b) Sasaran pembaca buku-buku mengenai tragedi Mei – Semanggi masih terbatas pada dunia akademik. Naskah ini menggunakan genre monolog, dialog, catatan harian, hingga essai akademik sehingga berpotensi menjangkau audiens dengan strata pendidikan biasa hingga dunia akademik.

c) Buku mengenai tragedi Mei – Semanggi hampir tak menyentuh peran komunitas beriman. Buku ini melukis ulang peran komunitas beriman di tengah-tengah realitas korban dari perspektif iman Kristiani, Islam, Buddha, dan Yahudi.

d) Buku ini sensitif terhadap persoalan kekerasan perempuan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sangat jarang dimasuki buku-buku yang sudah terbit.


Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai


Wajah Perjuangan Kaum Perempuan:
Sebuah Sejarah yang dibungkam?
Ditengah himpitan dan dominasi lelaki terhadap kaum perempuan didalam kehidupan bermasyarakat yang patriarki. Sejarah perjuangan perempuan adalah topik yang menarik untuk disimak, dimana kedudukan para perempuan sering ditempatkan pada posisi sebagai kelompok ter-marginal. Perjuangan dan gerakan kaum perempuan jarang terekspos, eksistensi mereka cenderung dihilangkan. Keberadaan mereka dalam masyarakat masih dibayang-bayangi oleh tindak kekerasan, baik kekerasan dalam konteks kerumah-tanggaan (Domestic Violence) maupun kekerasan politik. Tentu kita masih ingat peristiwa Kerusuhan Mei 1998, kekerasan terhadap kaum perempuan adalah akibat dari budaya politik kekerasan (political violence).
Agnes Khoo mencoba mengisi kekosongan tersebut dan memunculkan perempuan di garda depan. Meski identitas kaum perempuan yang berusaha ia tampilkan tidak terlepas dari sebuah sejarah yang bermuara dari konfliks ideology. Perdebatan menjadi semakin kompleks ketika sebuah regime bersikap represif tehadap kelompok “lawan”. Namun, bila berbicara mengenai obyektifitas sejarah perjuangan kaum perempuan, tidaklah menjadi persoalan apakah mereka berasal dari kelompok kiri atau pun kanan?.
“Selama ini saya merasa ngeri terhadap istilah komunisme. Saya amat pantang terhadap semua yang tidak pernah saya saksikan dan dianggap “puncak segala kejahatan”. Buku-buku teks sejarah mengajarkan kepada kita bahwa mereka adalah anasir teroris, mereka tidak memperdulikan keluarga dan orang yang mereka sayangi. Mereka layaknya “tikus hutan” yang terdapat di mana-mana dan amat berbahaya. Tetapi, masalahnya adalah saya tidak pernah melihat mereka”. Demikian ungkap Agnes --- sosiolog kelahiran Singapura pada 5 Maret 1965, yang di tuang dalam sebuah buku sejarah lisan perjuangan wanita-wanita Malaya dalam melawan penjajahan dan kolonialisme.
Buku yang diluncurkan pada petengahan Maret lalu diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia dari naskah asli berbahasa Inggris dan Melayu, memuat profil 16 perempuan mantan gerilyawan Partai Komunis Malaya (PKM). Mereka adalah para perempuan yang mempersembahkan empat puluh tahun lebih hidupnya untuk bergerilya didalam hutan Malaya melawan kolonial Inggris. Namun, para pejuang itu telah diusir oleh penguasa negeri yang dimerdekakannya.
Catatan sejarah resmi versi pemerintah tidak pernah berpihak kepada mereka, dan melalui buku yang berjudul “Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai” Agnes mencoba mengupas secara lebih jelas jati diri keenam belas wanita-wanita yang menjadi nara sumbernya dan mengungkapan fakta-fakta yang selama ini dipurtarbalikan.
Serangkaian wawancara dan riset yang panjang telah ia lakukan selama proses penulisan buku. “Saya ingin mengetahui siapa kaum komunis itu? Maka saya memutuskan untuk melihat mereka dari dekat. Saya ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri apakah mereka betul-betul “teroris bertanduk dua? Mengapa pemerintah begitu takut kepada mereka?”. Alasan itulah yang mungkin mendasari lahirnya buku tersebut.
Agnes bertekad dan bekerja keras untuk mendapatkan penjelasan atas seluruh kepenasarannya tersebut. Ternyata orang-orang komunis tersebut hidup tak jauh dari tempatnya berada. Selama bertahun-tahun Agnes telah menghabiskan waktu untuk tinggal di perkampungan ---yang disebut sebagai kampung-kampung perdamaian, di sebuah desa kecil di selatan Thailand . Berbicara dan bergaul secara akrab dengan wanita-wanita yang kini telah mendapatkan suaka politik dari pemerintah Thailand . Mereka adalah pribadi-pribadi mengesankan dan telah menginspirasi Agnes untuk menggali lebih dalam kehidupan mereka.
“Bagi saya, seorang dokter tentara, hal yang paling menggembirakan ialah berhasil menyelamatkan pasien yang hampir mati.” ujar Lin Dong, salah satu nara sumber---dilahirkan di hutan tropik negeri Selanggor, Malaya pada tahun 1944, adalah anak pertama sepasang suami istri kader pimpinan pasukan gerilya PKM yang veteran. “Sebagai dokter, kami mesti berpegang pada prinsip kemanusiaan. Kami mesti menjalankan tugas kami dengan segala daya upaya, biarpun kami marah atau merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi kami ini adalah dokter tentara di dalam pasukan revolusi. Mungkin ini sebabnya saya dapat berkeras menjalankan tugas sebagai dokter hingga akhir perjuangan bersenjata” tutur Lin Dong mengenang masa-masa perjuangannya ketika di tahun 1971 dia bergabung sebagai anggota revolusi di sempadan Thailand-Malaysia.
“Di Thailand berlangsung gerakan pelajar yang terkenal menentang pemerintahan junta. Berlakulah peristiwa yang terkenal di mana pihak tentara membunuh mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi perlawanan di Universitas Thamassat. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1974 . Pada awalnya , gerakan pelajar Thailand bangkit berlawan karena penindasan besar-besaran pihak tentara” itulah sebagian kenangan Lin Dong yang dia ceritakan kepada Agnes.
Buku setebal 378 halaman yang diterjemahkan dan di edit oleh Oey Hay Djoen, layak untuk kita maknai tidak saja kisah-kisah yang diangkat dari cerita dan pengalaman pribadi 16 wanita tersebut memiliki kesamaan dengan sejarah politik di Indonesia paca tahun 1965 juga sebagai karya sorang wanita yang melihat sisi lain kaum perempuan. Perempuan yang terlibat dalam kancah peperangan cenderung dianggap sebagai kaum yang lemah dan perjuangan mereka sering terabaikan dalam catatan sejarah.
Dalam sejarah perlawanan terhadap penguasa kolonial. Indonesia memiliki para perempuan pejuang untuk kemerdekaan negeri ini dari kaum penjajah. Namun, yang antikolonialis itu kemudian dinyatakan sebagai pelacur komunis di buku teks sejarah Orde Baru.
Sejarah sering dimanipulasi oleh pihak yang berkuasa. Indonesia masih menyimpan banyak sejarah politik yang belum terungkapkan seutuhnya--- tanpa terkecuali sejarah kekerasan terhadap kaum perempuan. Dan masih dalam konteks keperempuanan, lagi-lagi kita di ingatkan bahwa kasus pemerkosaan masal terhadap perempuan etnis Tionghoa yang terjadi pada saat Kerusahan Mei 1998 sampai kini masih dilingkupi misteri, pengungkapan secara tuntas peristiwa ini akan menguak sebuah sejarah kekerasan terhadap kaum perempuan.
Teks dan foto: Anastasia F. Lioe
Indonesia serta para aktivis perempuan dan pengurusan People's Empowerment Center >.

Monday, February 4, 2008

Peduli Ekologi



“Pedulikah saya dengan lingkungan hidup kita?”
Oleh: Anastasia F. Lioe
Pada minggu kedua bulan Februari 2008 umat katolik memasuki masa puasa dan penobatan. Menjelang hari Raya Paskah ini Keuskupan Agung Jakarta mengangkat tema:
Pedulikah saya dengan lingkungan hidup kita?”
Pertanyaan ini sungguh patut kita renungkan, tidak saja bagi kita sebagai umat katolik yang taat menjalankan ibadah, namun lebih dari itu; kita sebagai bagian dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia . Dalam “Surat Gembala Prapaska 2008”, Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ memberikan penekanan atas arti kepedulian dari segala sudut dan aspek kehidupan dalam bermasyarakat. Berangkat dari hal tersebut, sikap kepedulian yang hendaknya kita garis-bawahi tentu tidak terbatas hanya dari salah satu segi saja yang menyangkut keadaan lingkungan disekitar kehidupan kita.
Pada tanggal 2 Februari 2008, sebuah stasiun televisi nasional menyoroti permasalahan yang di hadapi bangsa Indonesia . Dalam sebuah tayangan editorial, Metro-TV menggambarkan bahwa
Jakarta sebagai kota yang sedang sakit dan ini sungguh memperlihatkan betapa buruknya wajah Indonesia yang tercermin dari segala carut-marut, kesemrawutan dan kekacauan yang terjadi di Ibukota Jakarta.
Seperti halnya contoh permasalahan yang baru saja kita alami pada hari pertama dibulan Februari ini! Seluruh kota Jakarta nyaris lumpuh dari segala kegiatan bisnis hanya karena akibat guyuran hujan lebat yang terjadi beberapa jam saja. Banjir melanda hampir seluruh jalan-jalan protokol di Jakarta . Bandara internasional Sukarno-Hatta ditutup dari segala kegiatan penerbangan untuk sementara waktu. Beberapa jalur busway tidak dioperasikan, jadwal kereta api terlambat akibat rel-rel yang terendam air. Ribuan warga Jakarta menjadi korban banjir, korban tewas pun tak terelakan. Dan ketika mobil sedan kepresidenan mogok di tengah jalan akibat terkena imbas dari kekacauan yang terjadi. Saat itulah President Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pun terlibat kedalam suasana kemacetan berlalu-lintas.
Tak pelak lagi, kita mesti mengakui bahwa semua rangkaian kejadian yang terjadi adalah cerminan nyata betapa telah tidak pedulinya kita dengan kondisi lingkungan selama ini!
Kita cenderung mengeksploitasi lingkungan tanpa peduli bahwa kita pun dituntut memiliki tanggung jawab mengelola kondisi lingkungan dengan benar dan baik.
Namun demikian, apakah dalam menyikapi permasalahan lingkungan, kita hanya mempersoalkan problema banjir dan kemacetan lalu lintas? Tentu saja tidak! Ketimpangan-ketimpangan lain yang menjadi isu krusial sehubungan dengan kondisi lingkungan banyak kita temui dalam keseharian hidup kita.
Sepanjang awal tahun 2008 berbagai permasalahan masih kita hadapi: bencana alam dan konfliks etnis diberbagai daerah serta kerusuhan masal yang memicu bentrokan warga dan aparat terus saja mewarnai kehidupan bangsa Indonesia . Skandal korupsi dan kasus-kasus peradilan masih mendominasi di kalangan elite politik.
Mengawali pra Paskah adalah perayaan hari raya Imlek yang jatuh pada tanggal 7 Februari, diikuti oleh perayaan Valetine’s Day pada minggu berikutnya. Sentra-sentra bisnis serta mal-mal marak dan gemerlapan dalam menyambut kedua perayaan tersebut. Sudah menjadi rahasia umum apabila pelaku bisnis menggunakan hari-hari raya sebagai komoditas komersial untuk mengeruk keuntungan material. Sebagian masyarakat Indonesia pun menjadi latah dan bersikap konsumtif dalam merayakan hari-hari besar tersebut. Tanggapan bernada sumbang akan hal tersebut mudah kita lontarkan. Masyarakat tampak kurang menyadari bahwa mereka hanyalah korban dari segelintir kelompok yang memanfaatkan budaya “aji mumpung”. Hendaknya kita bisa bersikap lebih arif dalam menanggapi fenomena tersebut.
“Ajang Pamer Kemewahan” memang telah menjadi semacam “ritual” akan sebuah gaya hidup bagi sebagian warga Indonesia ! Mendalami masa-masa perenungan ini, cobalah kita berpaling kepada sekitar 40 juta penduduk Indonesia yang hidup serba kekurangan serta dalam kondisi kemiskinan.
Masih adakah rasa kepedulian yang kita miliki terhadap keadaan saudara-saudara kita yang dililit “kemiskinan”?
Pertanyaan ini tentu hanya hati-nurani kita masing–masinglah yang dapat menjawabnya!
Isu kemiskinan menjadi sangat terdistorsi. Bagi sebagian kalangan elite politik, kemiskinan adalah salah satu jargon politik terpopuler ditengah gegap-gempita kampanye pemilihan, baik di tingkat daerah (PILKADA) maupun tingkat nasional (PEMILU 2009). Rivalitas dikalangan elite politik semakin sengit, saling mengkritik dan mengecam tanpa ada kesadaran bahwa banyak sekali permasalahan bangsa yang semestinya disikapi dengan bijak.
Sejauh ini, adakah upaya memerangi kemiskinan secara konkrit selain janji-janji politik pada masa kampanye?
Harga-harga sembako yang melambung tinggi serta langkanya beberapa komoditi kebutuhan pokok di pasaran. Membuat kita berfikir bahwa banyak hal yang mesti kita telaah. Lalu usaha apa yang bisa kita lakukan sebagai partisipasi aktif terhadap kehidupan disekitar kita? Para wakil rakyat hendaknya bisa melihat hal ini sebagai salah satu bukti yang tak bisa dipungkiri, betapa kurang pekanya mereka akan arti kepedulian terhadap kondisi lingkungan masyarakat, serta kurang efektifnya kinerja mereka yang notabene menegakkan keberpihakan kepada rakyat. Disisi lain, para birokrat pun hendaknya mengevaluasi kebijakan pemerintahan mereka. “Janganlah mereka hanya mengumbar janji-janji saat kampanye. Sikap mementingkan diri sendiri serta konflik kepentingan (conflict of interest) di kalangan elite politik membuat jeritan rakyat seolah tidak terdengar” demikian kesan yang disampaikan oleh karikaturis Gatot Eko Cahyono.
“Kita berharap para anggota dewan punya mata dan telinga hati agar mereka bisa melihat dan mendengar apa yang menjadi penderitaan masyarakat lewat hati-nurani; sebagai wujud kepedulian mereka terhadap rakyatnya”
tambah Gatot dengan nada penuh keprihatinan.
Bila kita berbicara tentang kepedulian terhadap lingkungan tentu hal ini tidak terlepas dari sikap moral yang sejalan dengan norma-norma beragama.
“Nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi dalam beragama selayaknya ditegakkan melalui sikap berbudaya elite, kita memerlukan revolusi hati-nurani”
demikian pernyataan yang pernah disampaikan Oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ dalam sebuah wawancara dengan koran harian The Jakarta Post menanggapi kondisi sosial masyakat saat ini. Hal senada disampaikan oleh Tasa Nugraza Barley, pendiri dari sebuah organisasi yang bernama “Jakarta Butuh Revolusi Budaya” dalam sebuah opini yang ditulis dan juga dimuat oleh The Jakarta Post, Tasa mengajukan pertanyaan: “Sikap beragama kita baik, bagaimana dengan sikap bermoral?” Dalam artikelnya, Tasa menyodorkan banyak argumentasi akan kurang pedulinya masyarakat Indonesia dengan sikap bermoral yang patut dan sesuai dengan nilai-nilai agama yang mereka anut.

Menyimak lebih dalam akan segala kekurang-pedulian kita terhadap kondisi lingkungan, sudah terlampau parahkah keadaan? Benarkah kita memerlukan sebuah revolusi budaya? Seperti hal yang menjadi konsen Uskup Agung Jakarta, beliau mengkawatirkan atas kurangnya nilai-nilai “nurani” dalam keseharian hidup bermasyarakat!. “Saya bertekad memberikan perhatian kepada anak-anak jalanan yang hidup terlantar serta kehilangan figure seorang bapak” demikian yang menjadi keinginan Anton Sianturi, pelajar dari Harvest International Theological Seminary, setidaknya nilai-nilai nurani masih tertanam dengan baik di hati remaja berusia 18 tahun tersebut, kepeduliannya terhadap kaum marginal pantas kita hargai. “Saya yakin akan mendapat banyak dukungan dari kalangan luas, terutama teman-teman sekolah saya”. Itulah yang menjadi konsen serta harapan Anton dalam mewujudkan misi yang ingin dia lakukan setelah kelak lulus dari sekolah tinggi teologi yang sedang ditekuninya. “Impian saya adalah menjadi seorang pendeta dan menyediakan ruangan di gereja bagi anak-anak jalanan” ucapnya dengan penuh antusias serta semangat kepedulian.
Selayaknya kita belajar akan sebuah arti “peduli” dan makna “kasih” bagi orang lain dari sikap Anton yang berniat tulus mengejar harapan serta impiannya. Biarlah mata hati kita melihat hal ini sebagai sesuatu yang tidak mustahil bisa kita coba lakukan? Gede Prama, penulis yang tinggal di Bali dan telah banyak menghasilkan buku-buku bertemakan motivasi dan inspirasi pernah mengajarkan akan arti berlatih.
“Teruslah berlatih sesuatu hal sampai terjadi kesadaran agung, atau kadang disebut kesempurnaan agung karena semua sempurna apa adanya. Dan yang terlihat orang lain di luar adalah keseharian yang diam, senyum serta tangan yang bahagia bila ada kesempatan membantu”
demikianlah tulis Gede Prama dalam sebuah artikel yang di muat koran harian Kompas. Ada baiknya kita mencoba berlatih memupuk sikap kepedulian terhadap lingkungan dalam keseharian hidup kita dan dengan ringan hati mengulurkan tangan untuk membantu bagi mereka yang membutuhkan! Kenapa tidak?

http://donnaisra.files.wordpress.com/2007/02/banjir-jakarta.jpg
www.pnri.go.id/.../normal/banjir.jpg

Friday, January 25, 2008

Kabar Gembira


Bloggers,
Pagi ini saya mendapatkan e-mail mengejutkan dari seorang yang bertanggung jawab untuk produksi acara di sebuah televisi stasiun swasta di Indonesia. Ia membaca kisah "Hidupku Direngkuh Sahabat" di KabariNews dan berminat untuk membuat film pendek berdurasi 30 menit mengenai hidup Pak Iwan. Semoga kisah kemanusiaan Pak Iwan dan korban Mei 1998 lainnya mendapatkan perhatian publik dengan rencana ini.

Mutiara Andalas

Monday, January 14, 2008

Brigadir Jenderal (Purn) Tedy Yusuf

Jika Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah sebuah miniatur Indonesia, anjungan Tionghoa akan sangat baik jika ada di dalamnya. Anjungan Tionghoa di Taman Mini Indonesia dapat menjadi tempat pendidikan bagi masyarkat INdonesia mengenai keterlibatan aktif etnis Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Ada banyak tokoh etnis Tionghoa yang terlibat dalam sejarah Indonesia, namun mereka belum terlihat oleh publik.
Brig. Jend. (Purn) Tedy Yusuf, ketua persekutuan sosial masyarakat Tionghoa di Indonesia, melihat belum adanya anjungan Tionghoa selama puluhan tahun di TMII sebagai cermin sikap masyarakat Indonesia terhadap keberadaan etnis Tionghoa diantara mereka. Masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun bergumul dengan pertanyaan, "Apakah warga Tionghoa di Indonesia merupakan bagian dari komunitas Indonesia?" Sayangnya pertanyaan itu seringkali mendapatkan jawaban negatif. Undang-Undang Kewarganegaraan di masa lalu misalnya menempatkan etnis Tionghoa sebagai yang berada di luar komunitas Indonesia.
Tragedi Mei 1998 adalah salah satu titik rendah sikap masyarakat Indonesia terhadap saudara-saudari etnis Tionghoa. Tidak sedikit warga Indonesia yang mengungsi ke negara-negara sekitar untuk membela hidup mereka dari ancaman mengalami kematian prematur.Persekutuan Sosial Masyarakat
Tionghoa Indonesia adalah payung sosial budaya bagi masyarakat Indonesia untuk meraih kesetaraan hak /kewajiban mereka sebagai bagian dari komunitas Indonesia.
Meskipun tragedi Mei 1998 sudah berlalu hampir 10 tahun, namun trauma terhadap kekerasan politik itu belum berlalu. Trauma itu masih menghantui dan dalam periode-periode tertentu muncul ke permukaan saat situasi politik sedang mengalami pergolakan. Kasus-kasus kekerasan politik terhadap etnis Tionghoa di Indonesia hampir selalu terjadi dalam ketidakstabilan politik.
Yang lemah secara politik akan cenderung menjadi korban pertama dalam instabilitas politik.
Dalam berbagai kekerasan politik dengan korban masyarakat Tionghoa, pertanyaan klasik ini kembali mengemuka, "Apakah warga Tionghoa di Indonesia merupakan bagian dari komunitas Indonesia?" Jawaban mereka akan negatif jika negara tidak memiliki kemauan politik untuk mengubah tata masyarakat yang jelas-jelas masih memelihara virus diskriminasi di dalam tubuhnya.
Persekutuan Sosial Masyarkat Tionghoa Indonesia sangat menghargai dukungan moral dari komunitas Indonesia yang tersebar di seluruh dunia yang peduli dengan problem diskriminasi rasial di Indonesia. Mereka berharap masyarakat Indonesia di masa depan akan semakin memberi tempat yang setara kepada semua warga negaranya.
Anjungan Tionghoa di TMII sekarang ini mulai berjalan pembangunannya dan masih membutuhkan dukungan finansial dari semua pihak. Bagi Anda yang
peduli dengan kasus-kasus kekerasan dengan bendera etnis dalam beberapa waktu terakhir ini, anjungan ini menjadi menjadi tempat peringatan penting bagi masyarakat Indonesia.
Paguyuban Masyarakat Tionghoa di Indonesia sekarang ini membuka "dompet kemanusiaan" untuk anjungan ini. Anda, saat membaca blog ini, diperhitungkan sebagai salah satu yang peduli dengan proyek "keberagaman Indonesia yang memanusiakan semua."

Saturday, January 5, 2008

Sutiyoso Kandidat Presiden Independen 2009

Malam ini saya dengan beberapa sahabat berkesempatan tatap muka dengan mantan gubernur DKI Jakarta, Bapak Sutiyoso di Wisma Indonesia, San Francisco. Acara ngobrol ini sebenarnya lumayan kejutan karena beliau sedang dalam acara liburan dalam keluarga. Maklumlah selama menjadi Gubernur, ia mengaku menempatkan pekerjaan sebagai yang harus didahulukan.
Ia dengan antusias mensharingkan perjalanan karirnya selama dua periode sebagai gubernur DKI. Ia menamai periode pertama sebagai periode survival, sedangkan periode kedua mengungkapkan 'kepiawaiannya' dalam mengelola transportasi, banjir, sampah, orang miskin, kekayaan alam, hingga perampingan administrasi pemerintahan.
Antusiasme peserta ngobrol bareng semakin terasa ketika beliau menyatakan bahwa ia mengajukan diri sebagai calon presiden independen. "Saya ingin mengabdi bangsa, bukan cari kekuasaan. Indonesia butuh pribadi yang punya pengalaman mengelola masyarakat. Karir politik saya memenuhi kualifikasi itu," demikian kata beliau.
Saya sendiri ingin tahu lebih banyak mengenai tanggapan beliau terhadap peristiwa kemanusiaan besar yang terjadi dalam periodenya, terutama kerusuhan Mei - Semanggi 1998. Ia melihat aparat keamanan telah berbuat yang benar dengan tidak membiarkan kerusuhan mengalami perluasan. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang lunak terhadap para warga yang melakukan tindak penjarahan terhadap milik pribadi atau aset publik.
Ia mensinyalir reformasi telah melahirkan generasi 'anti-establishment' yang membabi buta menolak kebijakan pemerintah. Dalam perkara inilah saya melihat keberatan sangat serius terhadap kepemimpinan beliau selama ini. Budaya militer (a militarized culture) melihat oposisi politik sebagai yang inheren negatif. Dalam tuturannya ia beberapa kali pergumulannya sebagai gubernur yang dituduh aktivis hak asasi manusia sebagai pemimpin yang mengambil keputusan politik tidak populis. Ia tidak perlu mempertentangkan kebijakan pemerintah dan kepentingan rakyat karena kebijakan pemerintah yang benar selalu mengabdi kepentingan rakyat.
Ia juga belum memiliki perspektif korban dan sangat kental dengan pendekatan 'militer' terhadap kasus kemanusiaan Mei - Semanggi 1998. Ia termasuk banyak pemimpin politik yang menyebut korban dalam tragedi kemanusiaan Mei 1998 sebagai "perusuh" dan "penjarah. " Jika ia ingin diperhitungkan sebagai kandidat presiden 2009, ia harus membuka diri bahkan memiliki perspektif korban. Dibutuhkan presiden masa depan yang peduli dengan persoalan korban. Ia masih punya waktu untuk memperbaiki citranya dihadapan rakyat, terutama publik Jakarta.

Monday, December 24, 2007

Selamat Natal


Buat pembaca Blog yang beriman pada Kristus

Selamat Natal
25 Desember 2007

Semoga kita berani
dengan rendah hati
bertutur kepada Tuhan

"Tuus Sum Ego"
"You are Mine."
"Engkaulah Milikku."


Sumber dokumentasi:
Bersama sebagian mahasiswa internasional di sebuah restoran di Berkeley


Wednesday, November 28, 2007

Undangan


REKOLEKSI ADVEN WKICU

7 Misteri Ekaristi
St. Faustina, pengembang Divine Mercy,
Menyingkap Misteri Ekaristi
I adore You, Lord and Creator,
hidden in the Most Blessed Sacrament.
Your goodness encourages me
to converse with You.
In You I find everything
that my heart could desire.
You alone give Your own self to me
and unite Yourself intimately with
Your miserable creature.
Would that I be transformed into
a hymn of adoration of You.
Amen.
Pembicara: Mutiara Andalas, dkk.
Sabtu, 1 Desember 2007
10.00 a.m. - 04.00 p.m.
Hall San Leander Church
464 West Estudillo Avenue
San Leandro, CA 94577
Gratis!
C.P.:
dog21834@yahoo.com
mutiaraandalas@yahoo.com

Friday, November 16, 2007

Berita

16 November 2007

Di hari yang suci ini


perkenankan saya

menyebut nama Allah kehidupan

berterima kasih

kepada Ibu

yang mendidik saya

dengan kasih tanpa syarat

Terima kasih

kepada pribadi-pribadi terkasih

Saat meniup lilin

saya ingin berkata

Allah jadikan aku pribadi

yang mengasihi sesamaku tanpa syarat

kalau boleh menyebut

satu permintaan lagi

semoga buku
Berpaling kepada wajah Korban:

dari Politik Amnesia ke Politik Anamnesis


jadi terbit awal tahun depan.

Amin.

Monday, October 22, 2007

Eros atau Etika Politik?


Eros atau Etika Politik?

Kasus Samsul Bahri merupakan lensa tembus pandang untuk melihat realitas kontemporer politik Indonesia. Jabatan-jabatan publik pemerntahan di Indonesia belum bersih dari figur-figur yang bahkan dalam pandangan masyarakat yang awam di bidang politik jelas-jelas tidak lolos dari kriteria kepantasan publik. Lolosnya calon-calon yang dinyatakan tidak lolos check up kesehatan politik ini mengundang kita untuk membedah perut politik Indonesia. Dunia politik yang kotor tidak mengenal etika politik dalam kamusnya Ia hanya mengenal kosa kata eros politik.

Mereka yang memeluk eros politik mengidap libido kekuasaan. Eros politik mereka destruktif terhadap hidup rakyat Indonesia. Eros politik itu paling kentara mengambil bentuk korupsi. Uang rakyat dikeruk habis-habisan untuk menggembungkan perut mereka. Jabatan politik yang seharusnya digunakan untuk mengabdi rakyat justru dipakai untuk menyebadani hidup rakyat. Hidup rakyat terus-menerus diperkosa demi kepuasaan eros libidinal mereka. Kepentingan rakyat tak pernah menjadi agenda politik mereka.

Politikus dengan libido kekuasaannya menciptakan citra negatif terhadap dunia politik. Mereka menciptakan struktur politik yang korup dan saling jegal. Dunia politik dikonotasikan sebagai ajang cari duit dan politikus lalu identik dengan preman yang suka memeras hidup rakyat. Seperti kredo Sun Tzu, tak ada persahabatan abadi dalam semesta politik. Komitmen bersama politikus untuk kesejahteraan rakyat mendekati titik nol bahkan telah memasuki titik negatif karena mereka selalu saling jegal saat bertemu. Atmosfer politik diwarnai oleh kecurigaan, bahkan kebencian antar politikus. Tebar pesona adalah derivasi kontemporer dari eros politik.

Etika politik hendak menjamin terciptanya ruang politik yang sehat. Dunia politik hendak dikembalikan fungsinya sebagai ruang mereka yang mendapat mandat dari rakyat untuk menciptakan kesejahteraan hidup bersama (bonum commune). Atmosfer antar politikus diwarnai oleh komitmen bersama memperjuangkan kepentingan rakyat. Hidup bersama kita sebagai bangsa Indonesia selama bertahun-tahun hampir mengalami kerusakan sempurna karena kemiskinan, kekerasan, korupsi, dan perusakan ekologi.

Tindakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mencegah pelantikan Samsul Bahri untuk memangku jabatan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) menciptakan angin segar di tengah kepengapan ruang politik Indonesia. Dunia politik Indonesia membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki etika politik. Politikus yang mengidap eros politik tak akan berumur panjang berdiri di panggung politik. Hanya politikus yang memeluk etika politik akan bertahan lama di panggung politik.

Rakyat akan memberikan tekanan terus-menerus terhadap politikus yang memiliki libido kekuasaan yang merugikan kepentingan rakyat. Mereka tidak akan tinggal diam terhadap calo-calo politkus yang berusaha meloloskan calon-calon bermasalah untuk duduk di kursi jabatan publik pemerintahan. Mereka menginginkan politikus yang benar-benar memiliki hati untuk rakyat. Politikus yang demikian hanya dapat ditemukan dalam diri mereka yang memiliki etika. Politikus yang mengidap eros libidinal kekuasaan sejak awal telah mendiskualifikasikan diri mereka dari dunia politik Indonesia (SELESAI).

Sunday, October 21, 2007

Politik Abradacabra


Partai politik di Indonesia seringkali bertingkah layaknya tukang sulap. Mereka ingin mengucapkan kredo “I create as I speak.” Mereka lupa bahwa dukungan politik tidak bisa disulap dalam satu kerdipan mata. Masyarakat semakin tak mudah dikibuli partai politik. Mereka hanya kan memberikan dukungan politik kepada partai politik yang berkomitmen serius terhadap penderitaan rakyat. Mereka tidak mempan dengan mantra “abradacabra” yang dilancarkan para politikus pesulap.

Politik abradacabra memilih jalan pintas. Ia ingin memperoleh dukungan politik dari rakyat tanpa mau bersusah payah berurusan dengan persoalan rakyat. Politik ini sejak awal bersifat negatif karena ia tidak mau berbela rasa dengan penderitan rakyat. Politik ini jelas-jelas anti-rakyat. Mereka mengeksploitasi rakyat habis-habisan sebagai penggelembung suara politikus atau partai politik.

Politikus abradacabra tidak berpihak pada rakyat. Mereka memoles diri sehingga nampak berwajah populis. Mereka bersolek diri terus-menerus untuk menarik simpati rakyat. Pamflet politik mereka penuh janji manis kepada rakyat jika rakyat mau mencoblos partai politik mereka. Mereka menggunakan tokoh-tokoh publik terkenal sebagai mesin peraih simpati rakyat. Mereka membombardir kita dengan janji-janji yang tidak rasional kepada rakyat. Mereka suka membeli suara rakyat untuk mendapatkan dukungan politik. Mereka tak malu mengingkari janji politik yang pernah mereka usung saat pemilu.

Politik abracadabra ini tak hanya terjadi pada level nasional, tetapi sudah membiak pada level paling bawah. Pemilihan kepala desa pun di beberapa tempat dipenuhi dengan aktivitas bagi-bagi souvenir atau amplop. Suara rakyat hendak dibeli dengan uang. Tak mengherankan pemimpin yang terpilih dalam pemilu lewat politik uang ini memiliki eros ekonomi gila-gilaan demi mengembalikan modal yang hilang selama masa kampanye. Rakyat tak hanya diabaikan, tetapi juga diperas habis-habisan demi menggelembungkan perut politikus.

Politik berbasis rakyat adalah resistensi aktif terhadap politik abradacabra. Ia lahir dari rahim rakyat. Ia menggugat banyak partai politik di Indonesia yang tercerabut dari rakyat. Partai politik yang tidak berakar pada rakyat tidak memiliki masa depan. Ia tak tebar pesona karena ia sejak awal telah mempesona rakyat. Ia tidak melakukan ketidaksopanan politik demi menarik simpati rakyat. Politikus berbasis rakyat membawa kepentingan rakyat pada bahu mereka.

Pekerjaan rumah paling besar dari politikus Indonesia adalah melakukan silaturahmi dengan rakyat. Mereka pertama-tama harus minta maaf karena selama ini banyak melupakan, bahkan terang-terangan melanggar mandat yang diberikan rakyat kepada mereka. Selanjutnya mereka mengikhrarkan kembali kaul politik mereka untuk membawa kepentingan rakyat dalam hidup berbangsa. Permohonan maaf dan kaul politik terhadap rakyat tak pernah ada dalam kamus politik abradacabra. Yang ada dalam kamus politik mereka adalah meraih dukungan rakyat dengan cara-cara kotor dan kemudian mengeksploitasi rakyat. Politik berbasis rakyat tak mengenal jalan pintas untuk meraih dukungan politik dengan rakyat. Tugas politikus adalah berkoalisi dengan rakyat dan berkomitmen dengan persoalan-persoalan kamanusiaannya. Jangan pilih partai politik abradacabra (SELESAI).

Sumber dokumentasi:
www.richardnunemaker.com

Saturday, October 20, 2007

Parpol Berbasis Rakyat

Partai-partai politik Indonesia sampai saat ini belum berpihak pada rakyat. Mayoritas partai masih berpikir dalam paradigma kekuasaan dariapda paradigma rakyat. Koalisi dengan sekutu-sekutu politik yang memiliki ideology senada dianggap lebih penting daripada koalisi dengan rakyat. Banyak partai politik menjelang pemilu 2009 masih mengidap penyakit tercerabut dari akar politik mereka, yaitu rakyat. Rakyat dalam partai politik masih dipandang sebagai asesori yang hanya ditempelkan menjelang hajat pemilu.

Menghadapi pemilu 2009, pekerjaan rumah terbesar dari partai politik bukan melakukan koalisi antar partai, sebagaimana digagas dalam Liga Nasional. Pekerjaan rumah terbesar partai politik di Indonesia adalah berkoalisi dengan rakyat. Kita bisa menengok Liga Nasional untuk Demokrasi di Myanmar dengan tokoh karismatiknya Aung San Suu Kyi sebagai contoh baik partai politik dengan basis rakyat. Hidup matinya partai politik, menurut Suu Kyi, adalah keberakarannya pada rakyat. Rezim otoriter militer di Myanmar tidak punya masa depan politik karena jelas-jelas meninggalkan rakyat dan bahkan menjadikan rakyat sebagai korban politiknya.

Kalau partai politik ingin memenangkan laga pemilu 2009, mereka harus berhasil meminang rakyat. Rakyat Indonesia terlalu lama ditipu oleh partai politik dalam pemilu. Rakyat dapat mencabut dukungan politik mereka terhadap partai-partai yang anti-rakyat. Mereka semakin mengenali partai politik yang hanya memakai asesori rakyat untuk mendapat dukungan politik. Partai politik yang pro-rakyat benar-benar berakar dalam kepentingan rakyat. Kemiskinan, kekerasan, korupsi, dan perusakan ekologi adalah persoalan-persoalan negara yang merugikan rakyat. Partai politik yang mengklaim diri sebagai partai rakyat harus menanggapi persoalan-persoalan kemanusiaan itu.

Kelemahan, bahkan kesalahan dari gagasan Liga Nasional adalah tidak melihat rakyat sebagai subyek utama yang perlu digandeng dalam pemilu 2009. Rakyat adalah nafas partai politik. Dalam pemilu-pemilu sebelumnya, kita dapat belajar bahwa partai-partai politik elitis gagal total. Partai-partai yang hanya menggunakan rakyat sebagai asesoris juga ditinggalkan rakyat saat pemilihan umum. Mereka kehilangan nafas mereka saat pemilu. Rakyat tak boleh diabaikan dalam diskusi politik pemilu. Kalau mau melakukan sekutu politik, yang harus dijadikan partner politik bukan parpol lain tetapi rakyat.

Kembali belajar dari Liga Nasional Demokrasi, Suu Kyi menggagas partai yang selalu hidup satu nafas dengan rakyat. Partai politik yang baik lahir dari rahim rakyat. Mereka tak pernah meninggalkan rakyat karena mereka mendapatkan kuasa politik dari rakyat. Rakyat memberikan mandat kekuasaan kepada partai politik. Sebaliknya partai politik elitis sejak awal memiliki tujuan politik negatif. Mereka hanya menggunakan rakyat sebagai objek eksploitasi untuk menggembungkan perut partai. Akhirnya yang mendesak dilakukan partai politik bukan untuk membentuk Liga Nasional dengan partai politik dengan ideologi politik sama, tetapi membentuk koalisi dengan rakyat (SELESAI).

Sumber dokumentasi foto: http://www.tempointeraktif.com/hg/stokfoto/2005/02/03/stf,20050203-92,id.html

Friday, October 19, 2007

Kemiskinan, Fakta yang Digelapkan


Kemajuan ekonomi suatu negara sering mau diukur dari peningkatan jumlah orang kaya. Takaran kemajuan ekonomi seperti ini menurut saya sangat lemah, dan bahkan sangat berbahaya. Peningkatan jumlah orang kaya atau kekayaan menurut saya merupakan takaran yang tak boleh ditempatkan dalam posisi utama untuk mengukur kemajuan ekonomi suatu negara. Takaran kemajuan ekonomi demikian juga sangat berbahaya karena dapat mengalihkan realitas kemiskinan yang masih menjadi realitas utama negara kita.

Kemajuan ekonomi suatu negara pertama-pertama harus ditakar dari penurunan jumlah orang miskin. Ekonomi yang baik tak hanya menguntungkan sebagian kecil elit ekonomi, tetapi menyentuh semua lapisan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang sejati terutama harus membela keberlangsungan hidup rakyat miskin. Ekonomi yang berpihak pada rakyat didesain untuk mengentaskan mereka dari keterpurukan ekonomi.

Kita hendaknya belajar dari Muhammad Yunus, seorang bankir ekonomi, yang berbicara mengenai kemajuan ekonomi dengan cara mengentaskan rakyat miskin di Bangladesh. Muhammad Yunus sangat prihatin dengan hidup rakyat miskin yang beralih dari terkaman rententir satu ke rentenir yang lain. Bahkan, ia melihat orang-orang yang menjadi budak kerja untuk para pelepas uang itu. Orang-orang miskin itu kebanyakan huta huruf dan tidak memiliki surat jaminan. Bank-bank umum didesain untuk melayani mereka yang memiliki uang. Bank Grameen justru didesain untuk memberikan pinjaman kepada mereka yang dibelit kemiskinan dan pelepas uang.

Muhammad Yunus dan mereka yang memiliki gagasan brilian senada dengannya bercita-cita menempatkan kemiskinan dalam museum. Kemiskinan hanya akan menjadi fosil masa lalu kalau kita sekarang serius menangangkat taraf hidup rakyat miskin.. Di Indonesia kita semakin berhadapan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Alih-alih diperhatikan, angka kemiskinan ini sering digelapkan dalam laporan pemerintah. Orang miskin ada, tetapi ditiadakan dalam laporan. Orang miskin dibunuh dengan data kemiskinan yang menggelapkan eksistensi mereka.

Pemerintah hendaknya tidak cepat terbuai dengan survei-survei ekonomi semacam yang tidak peka terhadap realitas kemiskinan. Jika tidak berhati-hati, survei-survei ekonomi semacam itu hanya menampilkan citra palsu ekonomi negara kita. Pemerintah Indonesia hendaknya tidak berfokus pada jumlah orang kaya, tetapi sebaliknya pada jumlah orang miskin. Kemiskinan itu menjadi persoalan utama dan fundamental dari hidup bangsa kita. Namun kemiskinan seringkali sekedar ditempatkan dalam catatan kaki keuangan negara kita. Negara-negara yang memperhatikan rakyatnya yang berada di bawah garis kemiskinan tidak akan pernah bankrut atau jatuh miskin dalam sejarah. Mereka justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat karena kebijakan ekonomi yang mengingat realitas orang miskin.

Para elit politik negara kita terkenal mengobral janji perbaikan ekonomi rakyat miskin dalam pemilu. Mereka cenderung mengambil jarak dari rakyat miskin yang pernah memberkan dukungan politik terhadap mereka saat sudah menjadi elit politik. Semoga pemerintah periode ini dan selanjutnya tak mengingkari janji politiknya terhadap rakyat miskin. Jangan menunda perhatian kepada rakyat miskin. Negara yang memperhatikan rakyat miskin akan cepat keluar dari krisis ekonomi, dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan bagi seluruh rakyat negara itu. Semoga pemerintah senantiasa memperhatikan ekonomi rakyat miskin kareana kemiskinan di Indonesia itu bukan fiksi, melainkan fakta fundamental.