Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Tuesday, April 7, 2009

Di Sisi Korban Tersalib (Termuat di Majalah HIDUP)


Di Sisi Korban Tersalib

Oleh Mutiara Andalas, S.J. [1]

 

Simon dari Kirene dan Veronika hadir sepintas dalam lintasan jalan salib. Prajurit menarik paksa Simon dari Kirene dari tengah massa untuk membantu memanggul salib Yesus menuju Golgotha. Menyeruak dari kerumunan massa dan menerobos penjagaan prajurit, Veronica mengusap paras Yesus. Kahlil Gibran (1883 – 1931), dalam The Prophet, menggubah dialog imajiner antara Yesus dan Simon dari Kirene. “Engkau turut meminum cawan penderitaan. Engkau akan besertaku mereguk piala keselamatan.” "Tangan-Mu di bahu mengangkat salib berat yang kupanggul." Di mata Kardinal Yosef Bernardin (1928 – 1996), Veronica merupakan pewahyuan sakramental dari perempuan yang berperan penting dalam kehidupan Yesus dengan keberanian lembutnya. Ketukan panggilan yang menggerakkan Simon dari Kirene dan Veronika di jalan salib Yesus terdengar lagi saat membaca Saatnya Korban Bicara.



Kesaksian Tanpa Pendengar

Kisah para korban kekerasan negara juga muncul dalam kesaksian saat aksi Kamisan. Jika aksi Kamisan memilih nirkata sebagai bahasa perlawanan, Saatnya Korban Bicara menggunakan kata sebagai instrumen perlawanan. Keheningan dan kata paguyuban keluarga korban menyingkap penderitaan korban untuk membongkar kejahatan pelaku pelanggaran hak asasi manusia. Sebagaimana ditandaskan Ho Kim Ngo, ibu almarhum Yun Hap,“Percuma kami berteriak sekeras-kerasnya jika hanya kami sendiri yang mendengarkan. Kemana lagi kami harus mencari keadilan?” (69) Romo Sandyawan Sumardi, S.J., salah satu pendamping paguyuban keluarga korban, menangkap ‘sebuah kekuatan raksasa, entah itu bernama negara atau militer, di balik bayangan hiruk pikuk massa di jalanan dan di balik punggung para pelanggar hak asasi manusia’ (xv).

Paguyuban keluarga korban melukis ulang sejarah Indonesia berdasarkah kisah korban penembakan, pembakaran, kekerasan seksual, peracunan, penculikan, penggusuran, kekerasan terhadap buruh migran dan sebagainya. Tragedi penderitaan korban menjadi kisah sumber untuk menafsirkan peristiwa hidup sebelum dan sesudahnya. Kisah masa lalu, menyitir teolog pembebasan Leonardo Boff, menjadi sakramen pembebasan saat kita memandangnya dari penglihatan Allah. Sebaliknya antisejarah berlangsung ketika kuasa illah melanggar perikemanusiaan korban. Sejarah manusia dapat menjadi sakramen pembebasan atau sebaliknya penindasan.

Ciptaan Tersalib

Narasi korban menyingkapkan pergumulan eksistensial, bahkan relijius sebagai ciptaan Allah yang tersalib penderitaan. Peziarahan mereka mencari pelaku pelanggaran HAM merupakan via dolorasa yang memedihkan hati mereka. Kehampaan, kebuntuan, kekelaman, kabut merupakan sebagian kosa kata yang mengungkapkan sisi dalam peziarahan. Di sisi korban mereka mengajukan pertanyaan kepada aparat negara, masyarakat, dan Allah. Mereka berjumpa dengan kebisuan negara dan kekurangpedulian masyarakat. Allah dialami menyediakan bahu untuk memanggul tubuh paguyuban keluarga korban yang kelelahan memanggul salib kehidupan. Sebagaimana dituturkan Suciwati, “Kenapa bukan aku saja yang Engkau panggil, Ya Allah? Mengapa harus dia? Mengapa dengan cara seperti ini? Mengapa harus saat ini? Mengapa? Ya Allah, Kau boleh ambil nyawaku, hamba siap menggantikannya. Dia masih sangat kami butuhkan, negara ini butuh dia” (8).

Paguyuban keluarga korban menghadirkan kebenaran tragedi kemanusiaan dari perspektif korban yang selama ini dihilangkan dalam wacana politik. Pemerian kekerasan pada tubuh korban yang mendetail disertai pelakunya harapannya menggugah solidaritas kita dengan korban. Mereka juga berbicara dengan kita melalui bahasa air mata. Penyingkapan identitas korban dari pribadi-pribadi terdekatnya membongkar stigma sebagai subversif yang disematkan secara paksa pada tubuh mereka. Narasi korban subversif karena menggugat paradigma negara yang meniadakan kesaksian korban. Sebagaimana diungkapkan Arief Prijadi, ayah almarhum Wawan, “Ketika peristiwa masih segar, tangis keluarga korban memang penuh makna dan mampu mengundang empati orang. Namun dengan berjalannya waktu, apalagi masyarakat kita mudah terjangkit penyakit lupa, tangis kini hampir-hampir tidak lagi punya arti” (81).

Lanjutan Kisah Penyaliban

Membaca Saatnya Korban Bicara pada masa Prapaskah, penulis melihat kelanjutan kisah penyaliban Yesus. Korban Talangsari, Tanjung Priok, Poso, buruh migran, penarik becak, warga gusuran, dan rakyat miskin lainnya adalah tubuh-tubuh tersalib Indonesia. Kemanusiaan korban direnggut kesuciannya, bahkan dijarah nafas kehidupannya oleh rezim politik antikemanusiaan. Golgotha adalah lokasi historis penyaliban Yesus, sekaligus lokasi simbolik bagi komunitas kristiani untuk melukiskan penyaliban kemanusiaan korban sejarah dan mereka yang membela hidup korban. Menjelang pemilu 2009, kita akan mendengar kampanye politik yang mengangkat isu kerakyatan. Korban kekerasan politik telah lama dikeluarkan dari rahim kata rakyat. Sebagian politikus yang memacu diri untuk memimpin negara disebut kriminal HAM oleh paguyuban keluarga korban dalam buku.

 

Informasi Buku

Judul Buku                   : Saatnya Korban Bicara: Menata Derap Merajut Langkah

Pengarang                    : Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan

Kata Pengantar : I. Sandyawan Sumardi, S.J.

Penerbit                        : Yayasan TIFA, Jaringan Relawan Kemanusiaan, dan Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan

Tahun                           : 2009

Halaman                       : 200 + xxiii

 


[1] Rohaniwan Katolik yang pernah mendampingi paguyuban keluarga korban Mei - Semanggi 1998, dan menulis  Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan (Jakarta: Libri, 2008).

 

Thursday, March 5, 2009

Peziarah Kasih



Informasi Buku

  1. Deepak Chopra, Jesus: A Story of Enlightenment (New York: HarperCollins, 2008)
  2. Didik Cahyono, S.J. Ed., Biarlah Berbeda dan Saling Mencinta, Kata Pengantar Dr. Baskara Tulus Wardaya, S.J. (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Press, 2008)

Peziarah kasih

Oleh Mutiara Andalas, S.J.

Sekelompok orang yang menaruh kebencian terhadap komunitas Yahudi mengirim utusan kepada Rabi Shammai untuk mencobainya.

“Rabi ajari aku seluruh isi Torah. Aku akan berdiri dengan satu kaki saat mendengarkan pengajaranmu.”

“Enyahlah dari sini! Engkau melecehkan Torah!“ ujar Rabi geram sambil mengacungkan kayu pemukul.

Tamunya mengambil langkah seribu, lalu membelokkan arah kakinya ke rumah rabi lain.

“Apa yang dapat saya bantu, Saudara?” sapa Rabi Hillel ramah.

Tamunya mengulang permintaannya.

“Jangan menebar kebencian kepada saudara-saudarimu jika engkau menghendaki mereka juga bertindak demikian.”

“Engkau dan aku bersaudara? Kita hendaknya baik satu dengan yang lain?”

“Demikian ajaran utama Torah. Lain-lainnya catatan kaki.”

“Rabi, kapan engkau memiliki waktu luang untuk mendidikku dalam Torah?”

Ziarah Iman

Ketakjuban akan kekayaan ajaran klasik agama lain dan terutama pribadi-pribadi yang menghidupinya di era kontemporer mempertemukan kedua buku. Deepak Chopra menghantar pembaca Jesus: A Story of Enlightenment untuk mengenali peziarahan batin Yesus yang mengalami pencerahan hidup. Mahasiswa-mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengisahkan perjumpaan mereka dengan komunitas beriman lain di pondok pesantren, vihara dan karya-karya kemanusiaan. Biarlah Berbeda dan Saling Mencinta membagikan ketakjuban, debaran hati, kegagapan, ketakutan, bahkan prasangka saat mahasiswa-mahasiswi bersua dengan komunitas beriman lain untuk pertama kalinya.

Mahasiswa-mahasiswi kristiani yang berkunjung di pondok pesantren Edi Mancoro berangsur-angsur menanggalkan citra negatif yang melekat dalam pikiran mengenai Islam. Mereka semula membayangkan pesantren sebagai pondok angker, bahkan sarang teroris. Santri laki-laki memelihara jenggot dan mengenakan celana yang ujungnya di atas mata kaki, sementara santri perempuannya mengenakan cadar. Mereka mengira penghuni pesantren tertutup pada pemeluk agama lain, terutama agama Kristen dan Katolik. David Tracy dalam Plurality and Ambiguity (1987) menuturkan kebersandaraan kita sebagai subyek aktif dialog kepada subyek lain. Toleransi represif merupakan bahaya yang mungkin muncul dari romantisme dialog antarumat beragama yang tutup mata terhadap pluralitas dan perbedaan.

Peserta live in antariman sampai pada kesadaran komunitas berimannya berjalan bersama komunitas beriman lain menuju Allah. Kesediaan menyapa peziarah dari komunitas beriman lain menjadi awal perjalanan bersama. Mereka lalu berbagi kekayaan relijius yang serupa sekaligus berbeda. Peserta live in menerima kado berharga, yaitu mengalami kehadiran Allah dalam komunitas beriman lain. Perjumpaan dengan komunitas beriman lain, menyitir Paul F. Knitter, menghantar baik tamu maupun tuan rumah pada kejujuran yang lebih besar dan spiritualitas yang lebih mendalam.

Berjumpa di Tanah Penderitaan

Peserta live in juga berjumpa dengan pemeluk agama yang menderita tuna grahita, kehilangan kasih orang tua dan yang berlilit kemiskinan sebagai petani. Mereka berjumpa dengan sebuah dunia yang perlu perambahan agar mencintainya. Perjumpaan dengan keberagaman agama dan kemiskinan tersarikan dalam pernyataan Bhante Bodhi. “Saya Bante saat di Vihara, pemasak di dapur, nelayan saat di laut, petani saat mencangkul sawah, tukang batu saat berjumpa palu dan batu.”

Sebagaimana Buddha, Musa, dan Mohammad, dan guru kemanusiaan-spiritual lainnya, Yesus menggali panggilan hidup yang ditanamkan Allah dalam dirinya. Ia menggumuli pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang diabaikan orang-orang pada zamannya,”Siapakah aku? Siapa tujuan hidupku?” Yesus mengembalikan etika dalam rahim spiritualitas. Deepak Chopra berpaling kepada spiritualitas sekular karena berjumpa dengan egoisme institusi agama. Kekerasan, perpecahan, perseteruan, skandal, korupsi, persekongkolan, dan kemunafikan merupakan pembangkangan terhadap diri dan Allah sejati.

Ziarah Iman Liberatif

Kedua buku menawarkan jalan-jalan baru berziarah kepada Allah di tengah krisis kemanusiaan. Peserta live in mengisahkan secara sederhana pernyataan Raimundo Pannikkar untuk beriman pada zaman ini dengan berdialog antarumat beriman. Mereka menangggapi ajakan Paul F. Knitter untuk menjadi pribadi beriman yang bertanggung jawab secara global dengan penderitaan sesama. Mereka melibatkan diri dalam penciptaan perdamaian dunia yang diawali perdamaian antarumat beragama sebagaimana didaraskan Hans Küng. Kita peziarah iman yang menghadap hadirat Allah dengan memanggul salib penderitaan sesama.

Tuesday, February 24, 2009

Resensi Buku Biarlah Berbeda dan Saling Mencinta (2008) dan Jesus: A Story of Enlightenment (2008)


Suatu kali sekelompok orang yang menaruh kebencian terhadap komunitas Yahudi bersekongkol untuk menjatuhkan reputasi Torah dan Rabi. Seorang mendatangi rabi masyur bernama Shammai.
“Saya kagum dengan Torah. Saya mempelajarinya sambil berdiri dengan satu kaki saja. Rabi ajari aku seluruh isi Torah dan aku akan mendengarkan ajaranmu sambil berdiri dengan satu kaki,” katanya dengan mimik mencibir.
Rabi Shammai serta merta mengacungkan kayu disertai umpatan,
“Minggat dari sini! Engkau melecehkan Torah!“
Orang itu mengambil langkah seribu dan kemudian membelokkan kakinya ke rumah Rabi Hillel.
“Apa yang dapat saya bantu, Saudara?” sapa Rabi Hillel ramah.
Orang itu mengulang pertanyaannya.
“Saudara hendak mengenal kekayaan Torah dalam waktu sekejap. Jangan menyebar kebencian kepada sesama jika engkau menghendaki sesama juga bertindak demikian.”
“Kita bersaudara? Kita hendaknya baik satu sama lain sebagai saudara?”
“Demikian ajaran utama Torah. Yang lain penjelasan atasnya.”
“Perkenankan saya kembali mengunjungi Rabi untuk mempelajari Torah.”

Paragraf pertama dari resensi saya atas buku suntingan Didik Chahyono, S.J. Biarlah Berbeda dan Saling Mencinta (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Press, 2008) dan buku Deepak Chopra berjudul Jesus: A Story of Enligtenment (2008).

Friday, December 19, 2008

Resensi Buku


Silakan beli edisi terbaru Jurnal BASIS untuk tulisan lengkapnya


Politik Berparas Kemanusiaan

Oleh Mutiara Andalas

Politik memiliki mitos berparas laki-laki. Libido kekuasaan menjalari tubuhnya. Ruang politik merupakan gelanggang pertarungan berdarah. Laki-laki menjadi kontestan utama pertarungan politik menundukkan lawannya. Perempuan berdiri di tepian gelanggang untuk menyoraki gladiator pilihannya. Mereka terlalu ringkih untuk berperan sebagai gladiator politik. Mereka berlenggak-lenggok sebentar ke arena pertarungan sambil membawa papan ronde atau menghibur penonton saat jeda pertarungan. Kalaupun akhirnya memasuki gelanggang sebagai petarung, perempuan memompa otot tubuhnya sehingga menyerupai laki-laki. Air mata merupakan aib bagi gladiator politik karena menyingkapkan kelemahan mereka. Gerakan feminis politik menggugat mitos yang menyingkirkan kehadiran dan keterlibatan perempuan. Ilmu politik perlu imajinasi baru mengenai definisi, subyek, dan perwakilan politik.

Paras Politik

Panggung politik dunia kembali menyuguhi kita dengan drama. Di penghujung tahun 2007 Benazir Bhutto menjadi korban pembunuhan politik. Keterlibatannya dalam politik Pakistan dihentikan secara paksa dua minggu menjelang pemilu. Benazir Bhutto (1953 – 2007) pernah menjabat perdana menteri Pakistan selama dua periode, dan mengalami penurunan paksa dua kali atas tuduhan korupsi dan salah urus negara. Lawan politiknya menganggap Benazir Bhutto salah tempat saat menjejakkan kakinya di ruang politik yang didaku sebagai ruang laki-laki. Mendekati penghujung tahun 2008, Barrack Obama yang membawa harapan perubahan memikat massa pemilih Amerika Serikat. Ia berhasil melepaskan diri dari jerat rasisme yang masih melekat dalam alam pikir sebagian warga AS. Prasangka rasial Afrika – Amerika dan agama Islam yang diasosiasikan dengan terorisme gagal membelokkan arah massa pemilih. Hillary Clinton, lawan politik Obama sebelum konvensi partai Demokrat, dikarikaturkan sebagai perempuan beremosi histeris dan naik ke panggung politik di bawah bayang-bayang suaminya. Sarah Palin menjadi olok-olok media massa sebagai badut politik yang sibuk dengan kostum panggungnya.

Kedua peristiwa politik terkini mengekalkan sekaligus melucuti paras politik. Politik mengkerut sebagai ajang rebutan kursi nomor satu. Politik identik dengan panggung kampanye, adu telikung, dan dana besar. Di mata Jannet A. Flammang, politik perlu pemetaan ulang secara radikal agar dapat menangkap geliat perempuan....


Subyek Marginal

Konstruksi jender yang dibalut dengan teks agama seringkali menjadi senjata ampuh untuk meminggirkan perempuan dari ruang politik....

Sebagian orang berpikir bahwa aku lemah karena berparas perempuan. Butakah mata mereka bahwa aku seorang muslimah? Aku memiliki kesabaran bibi Khadija... ketabahan bibi Zeinab... dan keberanian Bibi Aisha... Aku puteri martir Zulkifar Ali Bhutto, saudara perempuan martir Shah Nawaz Khan Bhutto, dan aku juga saudarimu. Aku menantang lawan politik untuk pemilu demokratis (Daughter of Destiny, 332 – 333; Reconciliation, 18 – 20).

Setelah gagal menghadangnya dengan justifikasi jender tradisional dan teks Qur’an, mereka menghancurkan kepribadiannya dihadapan public (politics of personal destruction)….Penjegalan berpuncak dengan pembunuhan politik.

Representasi Politik

….Ketimpangan representasi politik tersingkap dalam perilaku bawah sadar wakil perempuan yang menyesuaikan diri dengan penguasa yang lebih dominan. Wakil perempuan menyesuaikan perilaku yang mencerminkan ketersisihan politik mereka. Bahasa politik pun banyak memungut metafor militer dan olahraga yang secara tradisional dilekatkan pada tubuh laki-laki….

Joni Luvenduski dalam Feminizing Politics (2005) melukis paras perwakilan politik perempuan di Inggris. Ketimpangan relasi antarjender menjadi salah satu pilar bangunan politik Inggris….Perempuan memiliki tugas ganda menerobos ke dalam institusi politik dan membangun institusi politik baru yang berpilar keadilan jender. Kebijakan kuota politik diletakkan dalam bingkai menjamin representasi kepentingan perempuan (Politik Berparas Perempuan, 24 – 25. 169 – 189).

Luvenduski prihatin dengan penganut politik seksis yang menciutkan wakil perempuan pada ruang domestik atau seksualitas tubuhnya. Identitas wakil politik perempuan sekedar turunan dari subyek atau institusi politik seksis. Identitas mereka menciut di sekitar pangkal paha dan celana dalam....(ibid, 110. 275 – 316).


Dosa Politik

...Menyongsong perhelatan pemilu 2009, masyarakat Indonesia hendaknya menggunakan kecerdasan politik dalam memilih representasi politiknya. Mereka hendaknya memilih kandidat atau partai politik yang membela perikemanusiaan, terutama rakyat miskin, perempuan, dan minoritas rasial. Kita turut jatuh dalam dosa politik jika meloloskan kandidat yang tersangkut kasus pelanggaran HAM.