Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label Air Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Air Kehidupan. Show all posts

Wednesday, November 18, 2009

Langkah Andrea


Langkah Andrea

Andrea hanya membolak-balik halaman buku di tangannya tanpa menyentuh isinya. Matanya sempat membaca beberapa baris kalimat di halaman yang sama. Pikirannya mengajak Andrea menjauhi teks.
“Ia telah mengkhianati kesetiaanku.”
Di tepi kolam Albert duduk mematung. Air kolam seakan turut beku. Ia melongokkan kepala ke kolam untuk bercermin.
“Aku telah mengkhianati kesetiaannya.”
Kepala Andrea berkali-kali menggelengkan kepala.
“Aku menolak membencimu, namun aku harus mengakui aku sedang marah terhadapmu.”
Andrea dan Albert hampir seminggu menyepi di villa milik sahabat dekatnya.
“Aku memilih diam daripada bicara diliputi kemarahan,” ujar Andrea saat menerima telpon dari Patricia, sahabat perempuannya.
Andrea beranjak dari beranda villa. Kaki telanjangnya terguyur embun yang masih menempel di rerumputan.
Kakinya melangkah pelan mengikuti gerak pikirannya.
“Langkah apa yang kaubuat sehingga engkau dapat keluar dari saat-saat sulit bersama suamimu?” tanya Patricia beberapa tahun kemudian.
“Perhatikan langkah kakimu.”
Langkah Patricia terhenti. Kakinya berdampingan sejajar seperti saat upacara bendera.
“Aku tetap melangkah dengan satu kaki di depan kaki yang lain. Jangan sampai kaki-kakiku terpaku di tempat. Aku terus mencintai Albert.”

Monday, November 16, 2009

Kartu Terima Kasih


Kartu Terima Kasih

Andrea duduk terpekur dengan alat tulisnya di meja. Natalia duduk di samping mamanya dengan kertas alat gambar.
“Natalia belum mengantuk?”
“Natalia ingin menemani mama sampai selesai.”
Kelopak mata keduanya mengerling ke arah jarum jam.
“1 jam lagi mudah-mudahan selesai,” ujar Andrea kepada puterinya.
Natalia melihat kembali lukisan-lukisannya. Ia menggambar unggas kalkun dan kebun penuh buah pumpkin.
“Lukisan ini sangat istimewa,” kata Mama yang ikut melihat lukisannya.
“Natalia menamakannya pohon kebaikan.”
Andrea mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Di setiap daun Natalia menulis nama pribadi-pribadi yang berbuat kebaikan dalam hidup Natalia.”
Kisah kebaikan di balik nama-nama mengalun dari bibir indah Natalia.
“Mama memiliki daftar sangat panjang. Mereka semua sahabat baik mama?”
Andrea mengangguk sambil tersenyum.
“Mama, mengapa kita perlu mengirimkan kartu terima kasih sebanyak ini?”
Andrea mengambil lukisan pohon kebaikan puterinya.
Jari lentik mama bergerak dari satu nama ke nama yang lain.
“Karena kehidupan Natalia dan Mama menjadi istimewa berkat sentuhan tangan kebaikan pribadi-pribadi di sekitar kita.”

Tuesday, November 10, 2009

Damai di Bumi


Damai di Bumi

OST 'I Heard the Bells on Christmas Day' by Casting Crowns
http://www.youtube.com/watch?v=M7670CXvPX0
Damai di Bumi

Lampu Gereja berubah temaram. Seorang anak berdiri di tengah panggung membunyikan lonceng. Terdengar langkah-langkah ringan anggota paduan suara yang mengetuk-ngetuk lantai gereja.
Duduk di barisan terdepan, Andrea seketika merinding mendengar lantunan I Heard the Bells on Christmas Day. Paras anak-anak paduan suara terlukis di mata Andrea.
Masa lalu menyelinap dalam ingatan Andrea.
“Kaki-kaki berlari tergesa tanpa arah. Beberapa orang membopong korban yang tergeletak bersimbah darah.”
Mata Andrea berkaca-kaca saat paduan suara mengulang refrain,
“Damai di bumi.”
Ia pelan-pelan menggabungkan suaranya menyanyikan refrain lagu.
Paduan suara mengenakan ragam pakaian komunitas beriman di Indonesia. Akhir lagu berlanjut dengan tepuk tangan panjang hadirin.
Kedua tangan Andrea menyatu dalam sikap doa. Ia meneguhkan hatinya saat berbicara di depan hadirin.
“Aku korban ledakan bom malam Natal tahun lalu.”
Andrea mengambil nafas dalam-dalam sebelum meneruskan kalimatnya.
“Semoga damai-Mu hadir di bumi Indonesia.”
Seorang perempuan setengah baya mengenakan mukena memegang tangan Andrea.
“Ia membopongku saat tubuhku tergeletak bersimbah darah.”

Quiz Natal


Quiz Natal

Ruang sekolah minggu di samping gereja berjubel dengan anak-anak beserta orang tua. Anak-anak melonjak gembira saat pendamping mengajak mereka menyanyi sambil berjoged. Beberapa anak menggamit tangan orang tuanya untuk naik ke panggung.
Suasana semakin semarak dengan quiz Natal.
“Di kota manakah Yesus lahir?”
Tangan-tangan mungil segera teracung ke atas.
“Siapakah yang mengunjungi Yesus dengan berpedoman bintang?”
Sebagian anak mengacungkan tangan sambil mendekati panggung agar mendapat giliran menjawab pertanyaan.
“Siapakah nama kedua orang tua Yesus?”
Pendamping mengarahkan telunjuk pada Andrea yang sejak acara quiz selalu mengacungkan telunjuknya.
“Maria dan Yosef.”
Tepuk tangan menyusul jawaban benar Andrea.
“Silakan Andrea menerima hadiah ditemani orang tua.”
Andrea memegang tangan orang tuanya menuju panggung.
“Papanya Andrea naik ke panggung juga donk,” pinta pendamping. Permintaan pendamping disambut koor anak-anak.
“Maju… maju…”
Pendamping menyerahkan mikrofon kepada mamanya Andrea.
“Saya orang tua tunggal Andrea.”
Kata-kata bergetar mamanya Andrea seketika menundukkan kepala hadirin.

Kue Hati


Kue Hati

Mama dan papa memasak kue Natal di dapur.
“Papa dan Mama butuh bantuan?” tanya Andrea.
“Tentu. Andrea dapat menghias kue Natal,” ujar Papa.
Andrea menghias kue natal dengan gambar hati dengan ukuran berbeda. Mama menyajikan kue Natal sebagai hidangan penutup. Setelah mendapatkan irisan kue, mereka mengangkat sendoknya masing-masing. Sendok Andrea hanya bergerak mengelilingi piring kue. Sebuah hati besar tergambar di irisan kuenya.
“Engkau merisaukan sesuatu, Andrea,” tanya Papa sambil membaca raut wajah Andrea.
Semua meletakkan sendok di samping piring.
“Bolehkan Andrea menyerahkan irisan kue ini pada anak perempuan yang setiap hari mengais makanan di tempat sampah rumah kita?”
Ketiga kakaknya mengiris kue yang belum tersentuh sendok dan mendekatkannya ke piring Andrea.
“Engkau mungkin perlu kue kami juga,” kata kakak sulung Andrea.
“Siapa bersedia membantu mama memasak kue istimewa untuk pemulung di tempat sampah kita besok?”
Semua tangan teracung tinggi.
“Bolehkah Andrea menambahkan gambar hati sejumlah anggota keluarga kita pada kuenya?” pinta Andrea.

M.A.M.A


M.A.M.A

Jarum jam hampir menunjuk angka tengah malam. Andrea baru saja menengok keempat anaknya yang tidur di ruang lain. Ia menyelimuti tubuh anaknya dari udara dingin.
Ia lalu turun dan berdiri agak lama di depan pohon natal. Kado-kado Natal terbaring di bawah pohon natal dengan pita merah.
Mata Andrea menghitung jumlah kado. Ia mengulang hitungannya sekali lagi.
“Kurang satu.”
Ia ingat semua mendapatkan nama pribadi yang akan menerima kado.
“Aku ingin semua mendapatkan kado.”
Ia terpaku beberapa saat.
“Salah satu anakku barangkali belum selesai membungkus kado Natal.”
Hari berikutnya Andrea berkali-kali menengok pohon Natal.
“Apakah salah satu anakku lupa menaruh kado Natal di bawah pohon Natal?”
Andrea bergegas pergi ke super market terdekat untuk belanja kado ekstra.
Rumah hanya menyisakan temaram lampu Natal saat Andrea pulang. Saat tangannya hendak menekan tombol lampu ruang tamu, Andrea melihat empat huruf besar di sekeliling pohon natal.
Bibir Andrea mengeja huruf satu demi satu.
M.A.M.A.
Keharuan seketika menyelimuti Andrea.
Masing-masing anaknya memegang satu huruf dengan tubuh berbalut pita berwarna merah.
“Selamat Natal, Mama.”

P.A.P.A


P.A.P.A

Dua orang berdiri bersekat pintu. Seorang laki-laki berdiri di depan pintu. Seorang perempuan berdiri di belakang pintu. jeda Keheningan setelah ketukan terasa lama bagi laki-laki itu. pintu. Ia mengerling ke jam tangannya.
“Barangkali ketukanku kurang keras.”
Keraguan membekukan tangannya yang hendak mengetuk sekali lagi.
“Mungkinkah aku terlambat?”
Satu kaki laki-laki itu berbalik arah. Tangan perempuan di dalam rumah menyentuh daun pintu. Setengah tubuhnya berbalik arah dan matanya melihat tahun kalender.
“Mestikah kubuka pintunya?”
Pintu terasa menebal oleh bertambahnya tahun.
Andrea, yang berdiri di dekat mamanya, membuka pintu. Seorang laki-laki berparas kuyu membuka mulutnya namun hanya mengeluarkan kesunyian.
“Siapakah engkau?” tanya Andrea.
Mata bening Andrea berpindah-pindah melihat mama dan laki-laki. Pandangannya berakhir lama pada laki-laki asing.
“Engkau laki-laki dalam foto bersama mama yang membopong Andrea.”
Mama menutup pintu. Di luar hujan mengguyur deras.
Laki-laki itu menjawab pertanyaan Andrea dengan sesenggukan. Ucapannya hilang tertimbun air mata.
“Papa pergi dari rumah lama sekali. Setiap hari mama dan Andrea menunggu kepulangan Papa. 5 tahun terakhir Andrea merayakan Natal tanpa Papa.”

Monday, October 12, 2009

Terbungkus Lampin


Terbungkus Lampin


Dua pasang kaki tertatih menyusuri kegelapan. Perempuan itu memegangi kehidupan dalam rahimnya. Suaminya menyeka keringat di dahi isterinya.

"Tersedia kamar sederhana beralas jerami. Kalian mau singgah?"

Garis senyum mengakhiri penantian mencari tempat persalinan bagi keluarga Maria dan Yosef. Tangisan kehidupan memecah kesunyian malam dan layar drama Natal menutupi panggung.

Seorang jurnalis perempuan dari medi nasional mendekati pemeran Maria.

"Andrea sangat menghayati karakter Maria. Mengapa Andrea memilih tampil di sini?"

"Tunggu sebentar, ya," kata Andrea.

Ia lalu memeluk anak-anak panti asuhan yang ingin berjabatan tangan dengannya.

"Yosef dan Maria barangkali akan melahirkan Yesus di tempat ini jika kisahnya berlangsung sekarang."

Jurnalis mendekatkan mikrofon.

"25 tahun lalu pasangan tanpa nama dengan bayi terbungkus kain lampin memohon Suster kepala panti asuhan untuk mengasuh bayinya. Bayi itu saya."

Jawaban Allah


Jawaban Allah


Detak jarum jam terdengar keras. Hari telah lewat tengah malam. Andrea terpaku di depan gua natal. Ia lama menatap bayi Yesus di palungan. Sentuhan lembut di pundak memudarkan angan-angan Andrea.

"Belum tidur?"

Andrea menggelengkan kepala.

"Sesuatu mengganggu pikiranmu?" tanya Andi sambil mengambil tempat di sisi isterinya.

"Doa kita..." kata Andrea terdengar seperti bisikan.

"Kita jangan lelah berdoa," tanggap Andi sambil menggenggam erat jemari Andrea.

"Allah barangkali telah memberikan jawaban atas doa kita?"

"Apakah Engkau..."

Kalimat Andi berhenti di tengah jalan. Andrea menggelengkan kepalanya.

"Lalu?"

Andrea menunjukkan sebuah foto.

"Mungkinkah ia jawaban Allah atas doa kita?" tanya Andrea.

Percakapan bersela keheningan panjang.

"Kalau Allah menganugerahkan anak melalui rahim panti asuhan, apakah kita akan menerimanya?"

Sunday, October 11, 2009


Doa Anak


Andrea, pendamping Sekolah Minggu, mengajak semua anak berdiri di sekitar gua natal. Mata anak-anak berbinar memandang bayi Yesus diantara Maria dan Yosef.

"Yesus tidur dalam pelukan Maria," kata Andrea setengah berbisik.

Anak-anak saling menaruh ujung telunjuk di depan bibir mereka. Satu per satu kaki anak-anak berlutut. Mata mengatup dan mulut mereka terbuka seperempatnya.

Andrea pun memejamkan mata dan memanjatkan doa. Ia membuka matanya saat mendengar suara isakan.

Seorang anak di sudut gua natal berdoa dengan linangan air mata. Mulut mungilnya bergerak-gerak dengan jeda isakan. Tangan Andrea bergerak cepat masuk ke tas untuk mengambil sapu tangan. Saat berlutut di samping anak itu, terdengar doa.

"Yesus aku ingin seperti-Mu saat ini."

Andrea urung menyapukan sapu tangan ke pipi anak binaannya.

"Papa meninggalkan mama dua tahun lalu. Aku rindu Natal bersama papa dan mama."

Andrea membersihkan linangan air mata yang berguguran di kedua pipinya.

Wednesday, September 2, 2009

Sneak Preview: Just For You (Yogyakarta: Kanisius, 2009)


Para sahabat FB, Just For You: Mutiara-mutiara Kehidupan, segera naik cetak dalam hitungan hari. Saya menghaturkan terima kasih kepada Zara Zettira Zr, Maylaffayza, Ira Koesno, Bernadette Setiadi, Markus 'Kepra', Suciwati, Jennie S. Bev, Suciwati, Maria Sumarsih, dan Nadine Chandrawinata yang memberikan endorsement atau tanggapan terhadap kisah dalam buku.
Saya juga menyampaikan terima kasih kepada para sahabat di FB yang menjadikan buku ini sebagai karya kolosal karena banyak tangan turut merajutnya.
Berikut ini ungkapan hati mereka yang memberikan endorsement atas naskah 'Just For You' dan tanggapan yang masuk kualifikasi.
Bagi teman-teman yang masih mau memberi komentar, kisah dengan tanda ? masih memerlukan komentar.

" Belajar bersyukur dari kehidupan. Pernyataan yang tepat untuk merangkum pesan JUST FOR YOU. Melalui peristiwa hidup, kita diajak untuk lebih peka pada sekitar dengan mendengar teguran hati. Dengan begitu,akan lebih berarti saat bilang " terima kasih" (Nadine Chandrawinata
Puteri Indonesia 2005, environmentalist, Autism Ambassador)

"Karya ini membuktikan bahwa sesuatu yang datang dari hati, pasti mampu menyentuh hati-hati semua orang. Lepas dari apapun suku, ras dan agama orang itu. Karena hati bicara hanya dalam satu bahasa dan bahasa Romo Mutiara Andalas adalah bahasa hati." (Zara Zettira ZR - Ibu 2 anak, penulis, spiritualis)

"Cerita-cerita di dalamnya menyentuh dan membisikkan hati kita untuk merenungkan kembali hal yang berharga dalam hidup ini. Satu persatu ceritanya membuat kita termenung dan berkaca kepada diri kita sendiri. Kesederhanaannya membuat kita kembali memaknai arti kehidupan." (Maylaffayza, violinist dan World Book Day Ambassador)

Cerita-cerita pendek yang terserak dalam JUST FOR YOU ternyata mampu menimbulkan asa, menggigit, dan memaksa kita untuk berkontemplasi. Tentang Kamu menjadi hadiah untuk Brandon, karena pribadi istimewa berhak memperoleh sebuah kado istimewa; kado yang berisi cinta kasih dan dikemas dengan tali ketulusan (Ira Koesno, Konsultan PR/Mantan Anchor)

Buku yang berkisah tentang berbagai sisi kehidupan ini dapat menyentuh pembaca dari berbagai usia karena masing-masing pembaca dapat mengidentifikasikan kisah dan tokoh dalam cerita dengan pengalaman hidup mereka pribadi atau orang-orang yang dekat dengan mereka. Pendekatan yang menarik pada buku ini adalah adanya komentar atau refleksi spontan yang dituliskan oleh pembaca di bawah kisah. Di samping memperkaya kisah itu sendiri, komentar dan refleksi tersebut mampu mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama pada kisah-kisah yang bermakna bagi hidup mereka. (Bernadette N. Setiadi, Pendidik dan Guru Besar di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)


Just For You: Mutiara-mutiara Kehidupan

Pengantar Mutiara Andalas
Terima Kasih Ira Koesno
Letak Titik Francisca Lisdianawati
Kado Natalia Retno Priyani
Usia Harapan Stella Vania
Tahun Baru Markus Kepra
Baju Malaikat Eduard Wenas
Te Quiero Isabel Renggenathen
Kue Istimewa Adel Ettalina
Nada Kasih Chrysogonus Siddha
Tanda Seru Cecelia Astrini
1 Ons Agustini Utari
Tangisan Mendoza Sigit Kurniawan
Sulaman Kebaikan Haryono Tan
Lintas Tali Antonina Yunita
No. 5 Renata Aryanti
Ember Pengampunan Helena Dewi
Lagu untuk Anna Erny Setiono
Ukuran Pembanding Antonina Yunita
Janji Jemput Margaretha Rani
Berbagi Kasih Isabel Renggenathen
Rapor Plus Agustini Utari
Summa Cum Laude Margaretha Rani
Pilihan Andrea Rafaela Mety
Pemain Tuba Fransisca Lisdianawati
Waktu Persahabatan Theresia Evy
Seatap Berdua Agustini Utari*
Kesempatan Kedua Agustini Utari
1000 Langkah Rafaela Mety
Mazmur Suciwati Ingrid Supit
Lab Kasih Eduard Wenas
Dekat dengan-Mu Maria Listyani
Kesetiaan Kasih Olga Halim
Ibu Suka Cita Isabel Renggenathen
Cari Nama Jennie S. Bev
Lahir Difabel N.N.
Tanpa Audisi *
Bola Beban Rafaela Mety
3 Menit Ira Koesno
Jigsaw Puzzle Agustini Utari
Kecupan Yudas Cecelia Astrini
Telinga Kiri Adelia Hariyono
Uang Kembalian Francisca Lisdianawati*
Kepiting Pertapa Agustini Utari
Alat Pembantu Dengar Lola Devung
Janji Setia Ira Koesno
Pin Love Francisca Lisdianawati*
Pribadi Ketiga Marcella Atmadja
Drama Perkawinan Ertin Kahar p Schwarz
Pengantar Kue Mia Wulandari
Perbedaan Hati Jennie S. Bev
Tangan Kerelaan Agustini Utari
Pintu Perdamaian Stella Vania
Tepuk Tangan Agustini Utari
Matematika Pendidikan Stella Vania
Pengakuan Edward Wenny Teguh*
Jalan Kembali Michael Winarto
Lukisan Mama Irwan Sutandar
Surat untuk Mama Kristy Elias*
Tak Bahagia Fransisca Lisdianawati*
Sebatas Bibir Jennie S. Bev.
Uluran Tangan Helena Dewi
Makna Kado ?
Salah Bus Stella Vania
Kue Perhatian ?
Luka Cinta Emilia K. Ratu*
Ciuman Tuhan Peter Sugiarto
Tas Bepergian Lilis Susanti
Janji Tuhan Antonina Yunita
Pertanyaan Cinta Haryono Tan
Jalan Harmoni ?
Doa Damai Adel Ettalina
Cek Kehidupan ?
Usia 80 ?
Tangan Pembalasan Adel Ettalina
Langkah Tango Adel Ettalina
Kisah untuk Tuhan Isabel Renggenathen
Parutan Kebahagiaan ?
Kado Sepatu A.A. Kunto
Hati Allah ?
Penebar Kebaikan ?
Ongkos Persahabatan ?
Pilih Kasih ?
Warung Kebaikan ?
Perak Kebahagiaan ?
Bela Rasa ?
Hak Perempuan Agustini Utari
Pelita Kasih ?
Hati Anak Stella Vania
Cermin Kasih Agustini Utari
Mawar Valentine Adelia Hariyono
Waktu Keluarga ?
Rangkulan Solidaritas Maria Helena
Saat Doa ?
Lukisan Rembrandt Jeannie Setiawan
Uluran Christopher Dennis Guritno
Beban Berat Raymond Arifianto
John_paul_II@vatican.va ?
Masuk Keheningan Angel Josephine
Ziarah Keadilan Maria Sumarsih*
Teman Seperjalanan Suciwati*

Sunday, August 30, 2009

Sentuhan Andrea


Sentuhan Andrea

Suggested OST I believe in you by Il Divo n Celine Dion
http://www.youtube.com/watch?v=myTzrtr46dI

Mata andrea mengikuti laju anak laki-lakinya di kolam renang.
“Albert… Albert.”
Terdengar suara riuh dari tribun penonton.
Di lintasan kolam renang Albert berenang seperti lumba-lumba. Ia semakin jauh meninggalkan para lawannya.
Andrea spontan melonjak dari tempat duduk saat tangan Albert menyentuh garis akhir.
Penonton di sekitarnya bergantian menyalaminya dengan pelukan. Dari lintasan kolam renang Albert memberikan pelukan jauh pada ibunya.
Seorang jurnalis perempuan mendekati Albert untuk wawancara ekslusif.
“Seberapa besar peran pelatih dalam karir Albert di dunia renang?”
Albert meminta jurnalis mengikuti langkahnya menuju kursi pelatih.
“Semua prestasi menjadi mungkin karena sentuhan tangan pelatih.”
Pelatih menepuk-nepuk pundak Albert.
“Ia meyakinkan saya memiliki potensi besar.”
“Mari ikut saya,” kata Albert kepada jurnalis.
Albert melingkarkan tangan diantara pelatih dan ibunya.
“Dokter kandungan menemukan tanda kelainan dalam janin yang dikandung ibu. Ia menawarkan kemungkinan aborsi karena janin berpotensi menderita cacat di kemudian hari.”
Sorak-sorai stadion segera berubah hening. Albert mengusap matanya yang membasah.
“Ibu memilih meneruskan mengandungku.”

Penjara Kedua


Penjara Kedua

Suggested OST 'Hidup di Bui' by D'lloyd
http://www.youtube.com/watch?v=yBgXuxzeaZM

Laki-laki yang telah melewati paruh baya itu mengamati cucunya bermain di papan ayun.
“Kakek,“ teriak cucunya gembira.
Pikirannya sejenak kembali ke masa lalu.
“Saya mendadak sesak nafas setiap kali berada di ruang sempit.“
Ia pernah tinggal di ruang petak bui selama 3 bulan karena dakwaan korupsi.
“Ruang sempit penjara itu masih membekas sampai sekarang. Saya menghindari perjumpaan dengan kenalan di masa lalu.”
Bel di ruang selnya berdering. Terdengar langkah sepatu lars sipir penjara,
“Istri dan anak-anak mengunjungi Saudara.”
“Hidup sebagai terpidana sulit. Namun hidup terpisah dari keluarga jauh lebih sulit. Saya senantiasa merindukan kunjungan mereka.”
Ia mendongakkan kepala ke arah tempat ayunan. Cucunya berbagi keceriaan dengan teman-teman di taman kanak-kanak.
“Kesibukan kerja menyunat waktu keluarga. Saya mulai terlambat pulang dan kemudian memilih tinggal di rumah yang dibangun kantor. Orang-orang rumah mulai kesulitan bahkan untuk berbicara di telepon.”
Palu pengadilan menghantarnya ke penjara.
“Bahkan kalau pengadilan salah keputusan, saya telah lama hidup terpenjara pekerjaan.”
Imbuhnya,“Pekerjaan seringkali menjadi penjara kedua.
Lonceng masuk kelas berdering. Langkah-langkah kecil mendekat.
“Mengapa kakek menangis?”

Sunday, July 12, 2009


Andi merapatkan sepeda motor ke tepi jalan dan singgah di warung makanan ringan. Ia berbagi kursi dengan supir bus dan penjaga parkir. "Jeruk hangat," pesannya.Ia membuka tudung plastik dan menyapukan pandangannya pada sajian di atas meja. Tangannya meraih tempe goreng yang masih hangat dari tempat penggorengan.Seorang gadis belia melayani pesanan minumannya."Saya sekolah dan membantu kerja ayah selama liburan panjang," ungkapnya polos.Saat seorang pelanggan meninggalkan warung, pemilik segera mengibas-ngibaskan uang di setiap jajanan."Penglaris."Andi mengikuti pembicaraan di warung."Usaha warung jajanan keuntungannya dapat dihitung dengan jari," kata seorang langganan membuka pembicaraan."Berapa semuanya?" tanya Andi."Seribu lima ratus."Jawaban gadis belia tertimpa suara keras ayahnya."Dua ribu rupiah."Dahi Andi sesaat berkernyit. Ia menyerahkan beberapa lembar ribuan."Anda membayar uang berlebih," ujar gadis belia sambil menyerahkan uang kelebihan."Untuk penjaga warung belia yang jujur," ujar Andi sambil melangkah keluar warung.

Thursday, July 9, 2009

Pengakuan Andrea


Sebuah lilin bernyala. lilin yang lain menyusul. dua kaki berlutut."Tuhan."Jeda panjang mengikutinya. Andrea mempererat matanya yang terkatup."Sekarang saatnya, Tuhan?"Tangannya mengusap lembut pelupuk matanya yang membasah."Aku mencintainya."Kedua tangannya bergetar."Tuntun aku."Andrea teringat saat orang tua memapahnya memasuki rehabilitasi narkoba."Bapak dan ibu kecewa dengan hidupku?" tanya Andrea dengan paras tertunduk."Apakah cinta kami harus berkurang karena engkau pernah kecanduan?"Andrea menarik nafas panjang."Engkau pecandu?" tanya kekasihnya."Dulu.""Mengapa engkau baru mengaku kepadaku sekarang saat aku terlanjur jatuh cinta kepadamu?" ungkap kekasihnya kecewa."Apakah cintamu akan terpengaruh masa lalu kehidupanku?""Apakah pertanyaanmu masih butuh jawaban?"Telepon diputus paksa dari seberang.Dua lilin yang menyertai doa Andrea hampir habis."Apakah cinta tanpa memandang masa lalu hanya milik-Mu dan orang tuaku?"

Friday, June 26, 2009

Serba Kurang


Ruang kuliah religiositas tinggal menunggu bel usai. Saat Andi merapikan buku-bukunya, seorang mahasiswi ragu-ragu mengacungkan telunjuknya.
"Apakah Tuhan juga suka membanding-bandingkan ciptaan-Nya?"
Bel akhir kuliah berdering. Semua memilih tinggal di tempat. Sebagian bahkan mengambil tempat duduk di depan dan berbagi kursi dengan rekannya. Beberapa mahasiswa yang sempat mempermainkan alat tulis duduk seperti patung.
Andi berjalan mendekati penanya dan mencoba menangkap kisah di matanya.
"Andrea serba kurang di mata papa dan mama," katanya dengan bibir gemetar diikuti paras tertunduk.
Andi mendengar nafas panjang rekan-rekannya bagaikan sebuah paduan suara.
"Kisah Andrea cerita hidup kami pula."
"Apakah orang tua mungkin mengasihi tanpa embel-embel kata 'kurang' dan 'lebih' dari yang lain?" lanjut Andrea.
"Saya hampir gagal lahir di dunia."
Butir-butir air mata mengintip di pelupuk Andi.
"Orang tua mengharapkan bayi sempurna," lanjut Andi berseling dengan isakan.
"Bagaimana Bapak dapat hidup hingga sejauh ini?" tanya Andrea.
"Kekurangan di mata orang tua bukan kekurangan di mata nenek. Ia nenek sekaligus orang tuaku."

Friday, June 19, 2009

Lukisan Rembrandt


Lukisan Rembrandt

Saat berkunjung ke galeri Dresden, lukisan Rembrandt memaku Andi tepat di depannya.

“Rembrandt duduk di kursi mewah dengan mengenakan kostum bangsawan. Tangan kanan terangkat dengan segelas anggur sementara tangan kirinya melingkar di pinggang isterinya. Saskia mengenakan berlian berharga. Rembrandt tersenyum bahagia. Senyum terlukis pula pada paras Saskia.“

“Kebahagiaan Rembrandt kentara sekali dari goresan warna pada kanvas,“ ujar Andrea, sahabatnya, yang mendalami karya Rembrandt.

Andi maju selangkah lebih dekat ke lukisan.

“Saya perlu waktu untuk mengungkapkan emosi kehidupan ke kanvas,“ aku Rembrandt.

Keterserakan dan kedukaan hidup Rembrant tersingkap di belakang kanvas.

“Empat anak lahir dari perkawinan. Meskipun kematian dini merajalela, kematian tiga anak kami merupakan tragedi. Saskia juga meninggal dunia saat Titus, anak kami yang bertahan hidup, berusia 9 bulan.“

“Sebagian orang menolak karya lukisanku tentang Saskia setelah wafatnya karena terlalu gelap goresannya pada kanvas.“

Andi melihat dirinya dalam lukisan Rembrandt.

“Bingkailah saat-saat kebahagiannmu dan lakukan juga dengan saat-saat pergumulanmu.”

Lukisan membisikkan pesan Rembrandt pada telinganya.

Tuesday, June 9, 2009

Telinga Kiri


Telinga Kiri

Sebuah surat bersampul merah muda tergeletak di meja. Andi segera mengenali pemilik tulisan tangan undangan dari bahan kertas ramah ekologi (re-cycled). Tercantum nama Andrea dengan foto berdasi abu-abu.

“Jika Bapak berkenan, saya mengundang Bapak untuk menghadiri perayaan keberhasilan studi.”

Andrea selalu masuk kelas mendahului yang lain. Ia selalu ambil tempat duduk di barisan terdepan di sisi dalam sebelah kanan. Selama pelajaran, Andi dapat mendengar gesekan pensil Andrea di buku catatannya. Pada akhir pelajaran hari pertama sekolah, Andrea datang ke kantor guru.

“Apakah meminta Bapak untuk selalu mengajar seperti posisi tadi di kelas terlalu berlebihan?”

Sambil menyingkirkan buku pelajaran di mejanya, Andi menanggapi permintaan unik Andrea sambil berusaha menahan senyum. “Sama sekali tidak.”

Andrea murid dengan beragam prestasi. Beberapa minggu lalu stasiun swasta nasional datang ke sekolah untuk meliput aktivitasnya.

Perayaan keberhasilan studi berpuncak dengan dengan wawancara ekslusif Andrea dengan televisi. Andrea mengambil tempat duduk di sisi kanan gurunya saat lampu ruangan meredup.

“Segala prestasi tercapai dengan dukungan banyak pribadi yang memahami kebutuhan Andrea. Selama tiga tahun Pak Andi mengajar di sebelah kiri karena pendengaran telinga kanan Andrea sangat lemah.”

3 Menit


3 Menit

“Perhatian semua. Bintang tamu memasuki ruangan,” ujar pembawa acara. Ratusan pengunjung merangsek ke depan untuk mengambil gambarnya.

“3 menit untuk tanda tangan dan foto bersama Amanda,” ujar pembawa acara membacakan tata tertib. Andrea melihat jam tangannya.

“Kita antri 30 menit,” kata Andrea kepada papanya.

Ruangan yang semula panas berubah teduh dengan lantunan suara emas Amanda.

Saat giliran tiba, Andrea menerima hadiah CD eksklusif dari pemilik suara emas.

“Engkau putri Bapak Andi?” sapa Amanda diiringi senyum manis.

Andrea larut bersama pengunjung yang seketika hening. Kamera pekerja media berfokus pada ketiganya.

“Amanda mengenal Papa?”

Di sebuah kelas seorang murid keluar ruang ujian sambil berusaha membendung air matanya.

“3 menit habis dengan akhir kegagalan,” komentar dua guru penguji.

Penguji ketiga keluar ruangan dan kembali bersama murid tadi. Gesekan biola disusul suara merdu menghantar kisah dalam lagu.

“3 menit berarti untuk sebuah perhatian. Lagu ‘3 Menit’ adalah kenangan atas pribadi yang mempehatikan kita saat terantuk penderitaan,” ujar Amanda sambil memeluk mantan gurunya.

Pengakuan Edward


Pengakuan Edward

Isabella memandang Edward yang berdiri sangat dekat dengannya.

“Ia berparas malaikat. Matanya keemasan. Kulitnya berkilauan seperti ribuan permata yang bertaburan di setiap jengkal kulitnya.”

Edward melihat sisi gelap kehidupannya.

“Aku mahkluk pemangsa yang berbahaya untuk kehidupanmu. Aku terdesak hasrat menyala untuk melukaimu. Aku berjanji memadamkan hasrat gelap ini. Bagaimana aku masih dapat hidup jika pada saat bersamaan aku sampai melukaimu? Aku tersiksa karenanya.”

Dengan suara lirih Edward menuturkan pergumulan hidupnya.

“Aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu apakah aku dapat melakukannya.”

Edward mengungkapkan kekagumannya pada Isabella. “Engkau justru semakin dekat denganku. Kebanyakan manusia menyingkir dariku karena melihat keanehan diriku. Isabel, aku tak menyangka dapat sedekat ini denganmu.”

Isabel mendekatkan wajahnya kepada Edward. Ia menangkap kata-kata yang tersimpan dalam hati Edward.

“Isabella, aku memiliki insting manusia. Insting itu terkubur sedemikian dalam. Namun kemanusiaan itu tinggal dalam diriku.“

Keduanya berpegangan tangan. Isabel bertutur lembut kepada Edward yang menjatuhkan kepala ke rengkuhannya,“Pengakuanmu cukup bagiku.”