Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Tentang Kamu

Loading...

Political Holiness

Loading...

You've Got A Friend

Loading...

Friday, June 26, 2009

Serba Kurang


Ruang kuliah religiositas tinggal menunggu bel usai. Saat Andi merapikan buku-bukunya, seorang mahasiswi ragu-ragu mengacungkan telunjuknya.
"Apakah Tuhan juga suka membanding-bandingkan ciptaan-Nya?"
Bel akhir kuliah berdering. Semua memilih tinggal di tempat. Sebagian bahkan mengambil tempat duduk di depan dan berbagi kursi dengan rekannya. Beberapa mahasiswa yang sempat mempermainkan alat tulis duduk seperti patung.
Andi berjalan mendekati penanya dan mencoba menangkap kisah di matanya.
"Andrea serba kurang di mata papa dan mama," katanya dengan bibir gemetar diikuti paras tertunduk.
Andi mendengar nafas panjang rekan-rekannya bagaikan sebuah paduan suara.
"Kisah Andrea cerita hidup kami pula."
"Apakah orang tua mungkin mengasihi tanpa embel-embel kata 'kurang' dan 'lebih' dari yang lain?" lanjut Andrea.
"Saya hampir gagal lahir di dunia."
Butir-butir air mata mengintip di pelupuk Andi.
"Orang tua mengharapkan bayi sempurna," lanjut Andi berseling dengan isakan.
"Bagaimana Bapak dapat hidup hingga sejauh ini?" tanya Andrea.
"Kekurangan di mata orang tua bukan kekurangan di mata nenek. Ia nenek sekaligus orang tuaku."

Friday, June 19, 2009

Lukisan Rembrandt


Lukisan Rembrandt

Saat berkunjung ke galeri Dresden, lukisan Rembrandt memaku Andi tepat di depannya.

“Rembrandt duduk di kursi mewah dengan mengenakan kostum bangsawan. Tangan kanan terangkat dengan segelas anggur sementara tangan kirinya melingkar di pinggang isterinya. Saskia mengenakan berlian berharga. Rembrandt tersenyum bahagia. Senyum terlukis pula pada paras Saskia.“

“Kebahagiaan Rembrandt kentara sekali dari goresan warna pada kanvas,“ ujar Andrea, sahabatnya, yang mendalami karya Rembrandt.

Andi maju selangkah lebih dekat ke lukisan.

“Saya perlu waktu untuk mengungkapkan emosi kehidupan ke kanvas,“ aku Rembrandt.

Keterserakan dan kedukaan hidup Rembrant tersingkap di belakang kanvas.

“Empat anak lahir dari perkawinan. Meskipun kematian dini merajalela, kematian tiga anak kami merupakan tragedi. Saskia juga meninggal dunia saat Titus, anak kami yang bertahan hidup, berusia 9 bulan.“

“Sebagian orang menolak karya lukisanku tentang Saskia setelah wafatnya karena terlalu gelap goresannya pada kanvas.“

Andi melihat dirinya dalam lukisan Rembrandt.

“Bingkailah saat-saat kebahagiannmu dan lakukan juga dengan saat-saat pergumulanmu.”

Lukisan membisikkan pesan Rembrandt pada telinganya.

Tuesday, June 9, 2009

Telinga Kiri


Telinga Kiri

Sebuah surat bersampul merah muda tergeletak di meja. Andi segera mengenali pemilik tulisan tangan undangan dari bahan kertas ramah ekologi (re-cycled). Tercantum nama Andrea dengan foto berdasi abu-abu.

“Jika Bapak berkenan, saya mengundang Bapak untuk menghadiri perayaan keberhasilan studi.”

Andrea selalu masuk kelas mendahului yang lain. Ia selalu ambil tempat duduk di barisan terdepan di sisi dalam sebelah kanan. Selama pelajaran, Andi dapat mendengar gesekan pensil Andrea di buku catatannya. Pada akhir pelajaran hari pertama sekolah, Andrea datang ke kantor guru.

“Apakah meminta Bapak untuk selalu mengajar seperti posisi tadi di kelas terlalu berlebihan?”

Sambil menyingkirkan buku pelajaran di mejanya, Andi menanggapi permintaan unik Andrea sambil berusaha menahan senyum. “Sama sekali tidak.”

Andrea murid dengan beragam prestasi. Beberapa minggu lalu stasiun swasta nasional datang ke sekolah untuk meliput aktivitasnya.

Perayaan keberhasilan studi berpuncak dengan dengan wawancara ekslusif Andrea dengan televisi. Andrea mengambil tempat duduk di sisi kanan gurunya saat lampu ruangan meredup.

“Segala prestasi tercapai dengan dukungan banyak pribadi yang memahami kebutuhan Andrea. Selama tiga tahun Pak Andi mengajar di sebelah kiri karena pendengaran telinga kanan Andrea sangat lemah.”

3 Menit


3 Menit

“Perhatian semua. Bintang tamu memasuki ruangan,” ujar pembawa acara. Ratusan pengunjung merangsek ke depan untuk mengambil gambarnya.

“3 menit untuk tanda tangan dan foto bersama Amanda,” ujar pembawa acara membacakan tata tertib. Andrea melihat jam tangannya.

“Kita antri 30 menit,” kata Andrea kepada papanya.

Ruangan yang semula panas berubah teduh dengan lantunan suara emas Amanda.

Saat giliran tiba, Andrea menerima hadiah CD eksklusif dari pemilik suara emas.

“Engkau putri Bapak Andi?” sapa Amanda diiringi senyum manis.

Andrea larut bersama pengunjung yang seketika hening. Kamera pekerja media berfokus pada ketiganya.

“Amanda mengenal Papa?”

Di sebuah kelas seorang murid keluar ruang ujian sambil berusaha membendung air matanya.

“3 menit habis dengan akhir kegagalan,” komentar dua guru penguji.

Penguji ketiga keluar ruangan dan kembali bersama murid tadi. Gesekan biola disusul suara merdu menghantar kisah dalam lagu.

“3 menit berarti untuk sebuah perhatian. Lagu ‘3 Menit’ adalah kenangan atas pribadi yang mempehatikan kita saat terantuk penderitaan,” ujar Amanda sambil memeluk mantan gurunya.

Pengakuan Edward


Pengakuan Edward

Isabella memandang Edward yang berdiri sangat dekat dengannya.

“Ia berparas malaikat. Matanya keemasan. Kulitnya berkilauan seperti ribuan permata yang bertaburan di setiap jengkal kulitnya.”

Edward melihat sisi gelap kehidupannya.

“Aku mahkluk pemangsa yang berbahaya untuk kehidupanmu. Aku terdesak hasrat menyala untuk melukaimu. Aku berjanji memadamkan hasrat gelap ini. Bagaimana aku masih dapat hidup jika pada saat bersamaan aku sampai melukaimu? Aku tersiksa karenanya.”

Dengan suara lirih Edward menuturkan pergumulan hidupnya.

“Aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu apakah aku dapat melakukannya.”

Edward mengungkapkan kekagumannya pada Isabella. “Engkau justru semakin dekat denganku. Kebanyakan manusia menyingkir dariku karena melihat keanehan diriku. Isabel, aku tak menyangka dapat sedekat ini denganmu.”

Isabel mendekatkan wajahnya kepada Edward. Ia menangkap kata-kata yang tersimpan dalam hati Edward.

“Isabella, aku memiliki insting manusia. Insting itu terkubur sedemikian dalam. Namun kemanusiaan itu tinggal dalam diriku.“

Keduanya berpegangan tangan. Isabel bertutur lembut kepada Edward yang menjatuhkan kepala ke rengkuhannya,“Pengakuanmu cukup bagiku.”

Matematika Pendidikan


Matematika Pendidikan

Mata penghuni kelas tertuju pada tangan Andrea yang memegang kapur tulis. Tangannya terdiam lama di sisi bilangan matematika.

Andrea melihat gurunya dengan pandangan berisi pesan.

“Saya kesulitan menjawabnya.”

“Andrea tahu jalan menyelesaikan persoalan perkalian?”

Bintik-bintik keringat membasahi paras elok Andrea.

“Aku lemah sekali pada mata pelajaran matematika. Nilai raporku sering ternoda angka merah di bidang ini,” keluh Andrea sekembalinya ibu mengambil rapor kenaikan kelas.

“Ada yang menawarkan diri membantu Andrea?”

Para murid saling menengok dan berbisik satu sama lain. Kapur tulis patah karena tekanan tangan Andrea yang gemetaran.

Andrea selalu berkeringat dingin setiap kali ibu Agnes, guru pendidikan matematika, memasuki kelasnya.

Ibu Agnes menuntun tangan Andrea hingga Andrea menemukan jalan menyelesaikan soal.

“Nilai jawaban Andrea 100,” ujar ibu Agnes yang diikuti tepukan tangan murid satu kelas.

“Bolehkah Andrea tahu alasan Ibu? Mengapa ibu membiarkan aku berdiri lama di depan kelas padahal aku jelas-jelas tak mampu menyelesaikan soal matematika?”

“Pendidikan matematika menawarkan penyelesaian soal langkah demi langkah. Ketergesaan langkah, apalagi jalan pintas menyodorkan jawaban melawan matematika pendidikan.”

Friday, June 5, 2009

Kepiting Pertapa


Kepiting Pertapa

 

“Papa, aku menangkap satu,“ ujar Andrea sambil menunjukkan kepiting yang berlarian di telapak tangannya.

Ia segera memasukan kepiting ke dalam akuarium mini yang dipegang Andi. Sementara itu, Agnes menjumput kulit kerang yang disapu air laut hingga ke daratan.

Saat kulit kerang tenggelam ke dasar akuarium, masing-masing kepiting berlarian mendekati kulit kerang.

“Ilmu kelautan menyebutnya kepiting pertapa,“ kata Agnes kepada suami dan puterinya.

“Kepiting-kepiting mencari kulit kerang sesuai ukuran tubuhnya sepanjang hidupnya.“

“Mengapa kita menyebutnya kepiting pertapa?“ tanya Andrea kepada mamanya.

“Kulit kerang memberi perlindungan terhadap ancaman dari luar,“ tutur Agnes.

“Kulit kerang dalam dunia manusia bernama rumah,“ lanjut Andi.

Tangan Andi menunjuk seekor kepiting di akuarium memaksa tubuhnya masuk ke dalam kulit kerang yang lebih kecil.

“Rumah berubah menjadi penjara saat ia justru mengekang tubuh para anggotanya,“ ujar Andrea.

“Rumah yang kita tempat sekarang menyimpan keistimewaan,“ Andi sambil menjatuhkan kulit kerang besar ke dalam akuarium.

Merangkul istri dan puterinya, Andi berkata, “Semua yang masuk menemukan rasa aman.” 

Friday, May 29, 2009

1000 Langkah


1000 Langkah

 

Andrea menata ratusan buku yang semula berserakan pada almari.  Setiap buku menyingkap pergumulannya berdiri di sebuah titik hidup yang semula jauh dari bayangannya.  

“Engkau membuang banyak waktu berharga dalam hidupmu!” ujar pacarnya kecewa.

“Engkau mempersulit sendiri kehidupanmu. Pekerjaan ini hanya memberimu uban!” ujarnya emosional.

Andrea menatap langkah jarum jam.

“Hampir 12 tahun,” kata Andrea lirih.

Dor! Dor! Dor!

Andrea merangkak mendekati mahasiswa yang bersimbah darah karena tembakan. Desingan peluru seperti hujan yang mengejar calon korbannya.

“Seorang sahabat hidupnya berakhir di ujung peluru saat menyelamatkan korban,“ kenang Andrea. Ia memegang buku tentang kekerasan negara yang baru saja usai diterbitkannya.

“Dokter Andrea, bagaimana Saudari sampai mengambil langkah hidup yang penuh resiko ini?“ tanya seorang mahasiswi penuh kekaguman saat bedah buku.

“Langkah pertama memanggul korban yang bersimbah darah menghantar 999 langkah lainnya,“ ujar Andrea tersendat-sendat dengan bibir gemetar.

“Saya awalnya berpikir mengambil langkah seribu saat melihat hujan peluru.“

Thursday, May 28, 2009

Bola Beban


Bola Beban

 

Instruktur senam memegang bola emas dengan kedua tangannya.

“Sekarang bayangkanlah bola di tangan kalian sebagai beban. Angkatlah bola setinggi mungkin.”

Semua peserta kursus senam mengikuti instruksi. Bola-bola terangkat dengan ketinggian berbeda.

Andrea memejamkan matanya. Selama dua tahun suaminya pergi begitu saja tanpa berpamitan. Andrea menanggung hidup keempat anaknya yang masih sekolah. Ia mendengar kabar dari sahabat tentang suaminya,

“Suamimu menikah diam-diam di kota lain.”

“Tanggungan bebanku terlalu berat,“ ratap Andrea.

Bola terangkat sedikit.

Keringat dingin seketika membasahi tubuh Andrea. Ia teringat saat puncak keputusasaan dalam hidup.

“Gunting tajam sudah menekan urat nadinya,” ingat Andrea.

Peserta lain tanpa kesulitan mengangkat bola mereka.

Instuktur senam meletakkan telunjuk di depan bibirnya meminta peserta hening.

Tangan Andrea gemetaran menahan beban bola. Nafas peserta lain tertahan beberapa saat. Tepuk tangan membahana ketika Andrea dengan tangan dan kaki gemetaran berhasil mengangkat bola bebannya.

“Aku memilih kehidupan,” ujar Andrea.

Sunday, May 24, 2009

Mazmur Suciwati


Mazmur Suciwati

 

Doa Sayidina Ali laksana air pegunungan yang terpercik pada paras Suciwati Munir.

“Ketika kumohon kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat. Ketika kumohon kebijaksanaan, Allh memberiku masalah untuk kupecahkan. Ketika kumohon kesejahteraan, Allah memberikan aku akal untuk berpikir. Ketika kumohon keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi. Ketika kumohon sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong. Ketika kumohon bantuan, Allah memberiku kesempatan.  Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.”

Perjuangan demi kebenaran yang seringkali di luar batas tanggungan sebagai manusia mendorong Suciwati Munir menghadap Allah dengan mazmur ratapan.

“Ya Allah, aku bukan Sayidina Ali yang Kau beri kemuliaan. Aku hanya manusia biasa dan aku memohon kepadaMu sebab aku meyakini-Mu. Berilah kemudahan bagi kami untuk mengungkap pembunuhan ini. Beri kami kekuatan untuk menjadikan kebenaran sebagai kebenaran sesuai perintah-Mu. Menjadikan keadilan sebagai tujuanku seperti tujuan menurutMu. Ya Allah, aku tidak menjadi manusia yang lebih dari yang lain dengan berbagai ujian yang Kau berikan, seperti Kau muliakan Nabi Muhammad dengan berbagai ujianMu. Aku hanya minta menjadi manusia biasa dan dapat mengungkap kasus ini. Amin.” 

Ibu Suka Cita


Ibu Suka Cita

Setiap minggu Teresa Calcutta berkunjung ke kawasan kumuh.
“Saya kadang datang kepada mereka tanpa sumbangan di tangan. Kalaupun membawa sesuatu, kami hanya memiliki sedikit untuk diberikan kepada mereka. Saya membawa kado suka cita.”
Saat melihat kedatangannya, sejumlah anak berlarian dengan sapaan
“Ibu.”
Teresa memasuki sebuah rumah tinggal bersama. Sekitar dua belas keluarga tinggal di bawah satu atap. Setiap keluarga tinggal dalam ruang panjangnya dua meter dan satu setengah meter lebarnya.
“Pintunya sempit sekali dan atapnya rendah sekali. Saya harus menciutkan badan untuk masuk. Banyak penghuni menderita tubercolusis (TBC),” ujar Teresa.
“Kita banyak mengira mereka mengeluhkan kondisi kemiskinan. Kesulitan hidup memojokkan hidup mereka, namun suka cita tetap bersemayam dalam hati mereka.”
Saat pulang dari kunjungan, salah seorang ibu bertutur padanya,
“Ibu Teresa datanglah kembali kemari. Senyumanmu membawa terang matahari ke dalam rumah kami.”
Teresa menulis renungan tentangnya,
“Suka cita lahir dari rahim hati yang dibakar cinta. Ia bersinar dalam mata, paras, dan percakapanmu.”