Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, May 13, 2008

Cerpen Ivonne Suryanto

Cerpen
NATASYA dan IBU

Yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah mencari sebuah tempat yang tepat , tidak ada yang disembunyikan, dan disana anda dapat saling mengenal jenifer aniston

Ada dua orang wanita yang sangat kucintai dalam hidupku. Ibuku dan Natasya. Satunya wanita yang melahirkan saya, satunya lagi gadis manis yang menyertai hari-hari saya di kota yang baru ini. Namun mereka berdua sangatlah berbeda bagai langit dan bumi, paling tidak dalam hal kesederhanaan dan kehematan.. Inilah sebagian kisah itu.
Tadi pagi, saya mengantar ibu ke stasiun Tugu. Ibu mau pulang kampung di Banyumas sana, setelah seminggu berada di Yogya ini. Ibu sudah semakin tua dan semakin hitam dibandingkan tahun lalu, itu karena ibu seharian bekerja di sawah. Itu yang menjadikan ibu berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Ibuku bukan orang yang pergi ke salon, ikut arisan ini-itu, atau yang pekerjaannya melihat acara gossip di televisi. Ibu saya wong ndesa, yang kerjaannya hanya ke sawah dan mengurus adik-adik saya,
Kemarin waktu ibu datang pertama kali ke kost saya, ada teman yang meledek. “Yudis, ada tukang sayur mencarimu”, kata Bony teman saya yang dari Jakarta. Ketika saya melangkah ke kamar kost, tampak seorang ibu membawa keranjang berisi beras. “OH, Ibu datang tidak memberitahu kan bisa saya jemput ke stasiun” kataku senang sekaligus kaget.”Tidak usah, nanti ibu menganggu kuliahmu!” Ibu membawa barang-barang hasil kebun, mungkin itu yang membuat ibu disangka Bony tukang sayur.
Selama seminggu ini, ibu banyak menasihati saya . Beliau banyak mengingatkan saya untuk berdoa, ngaji, rajin belajar, bergaul yang benar, pacaran jangan macam-macam. Ibuku pun kuperkenalkan pada Natasya. Ketika dua wanita berbeda generasi dan lingkungan bertemu, ada kelucuan di sana. Natasya yang bercelana jins dan berkaus kutung, maklum orang kota, bertemu dengan ibu yang berkebaya. Ibu hanya terheran-heran melihat Natasya dengan pusernya yang kelihatan. Tapi ibu selalu memandang baik pada orang lain.Dia tak melihat kekurangan Tasya, namu asyik mengagumi cerita tentang kegiatan Tasya yang aktif di gereja, kampus, bahkan sepertiku dia juga memberi les Inggris bagi anak-anak orang kaya itu. Natasya juga heran, masih ada ibu yang datang dari desa membawakan petai untuk putra sulung yang dibanggakannya.
Dan hari ini, ibu akan pulang kampung. Beliau sempat berbicara lagi, menasehati saya di bis kota “Rajin belajar ya. Nak!”saya menganggtuk, menatap ibu dengan haru. Ah, saya tak tahan melihat mata telaganya. Saya ingin sekali memeluknya dengan bangga. Tapi saya sudah besar, sudah duduk di semester tiga. Saya tak boleh melankolis seperti itu.”Ibu selalu berdoa untukmu,”katanya lagi dengan tatapan mata yang teduh. Aku terharu, sambil merasakan tangan ibu yang kasar karena terlalu banyak bekerja di sawah. Tapi wajah ibu selalu cerah dan optimis. Entytahlah ibu selalu nampak begitu di mata saya.
Saya masih menyandarkan tangan ibu pada wajah saya, ketika tiba-tiba kernet bis kota berteriak “Stasiun tugu-stasiun!”Saya terkesiap. Refleks saya angkat tas ibu. Membimbing ibu turun dari bis dan memasuki stasiun dengan selamat. Setelah ibu naik kereta dan pergi. Tiba-tiba saya merasa sepi. Saya kehilangan sosok ibu yang setia menemani hari-hari saya dahulu. Ibu yang tak pernah lelah bekerja untuk keluarganya. Ibu yang sederhana dan lembut.Ia terlalu cepat kembali. Tapi itu mungkin lebih baik, daripada kerjaan sawahnya berantakan. Lagipula, adik saya yang paling kecil mungkin sering menantinya dengan tangis.
Lalu saya menatap stasiun Tugu ini. Saya kembali teringat waktu saya pertama kali datang ke stasiun ini dengan kayakinan besar, meninggalkan kampung halaman, merajut mimpi kuliah di universitas sanata dharma. Teringat cita-cita untuk menjadi guru. Dan mengabdikan ilmu saya di desa lagi.Teringat pula kampung saya yang selalu menyisakan kenangan manis.
Saya tengok jam tangan saya sudah jam 09.30. nanti jam sebelas ada kuliah psikologi pendidikan. Dan sorenya Natasya mengajak saya ke mall, membeli berbagai keperluan. Entah apalagi yang dia beli. Padahal seminggu yang lalu sudah membeli sepatu dan jeans model baru, lalu aksesori. Dan dua hari lalu tshirt warna=-warni dan tas. AH!
Memasuki galleria mall ini, ada kecanggungan yang memasuki benak saya. Biasanya tidak begini persisnya sejak sering menemani Natasya ke mall ini. Bila saya tanya mengapa dia sering sekali membeli ini=itu, jawab gadis manis ini supaya penampilannya di muka saya dan muka publik tak membosankan. Dasar gadis kota. Mungkin perasaan tidak enak ini disebabkan saya teringat kebaya ibu yang lusuh.Ibu yang tidak memperdulikan penampilannya. Ibu yang selalu berhemat untuk mengirimi saya uang bulanan.
“Ini dia, Yudis!”saya agak tersentak. Buru-buru saya tersenyum. “Bagus nggak?”, suaramu merajuk mirip rayuan. Saya mengangguk.”Tapi mahal sekali” saya mengamati label harga yang menempel di krah baju. Dia tiba-tiba cemberut. “Uangku kan lebih . nga apap-apa mahal juga. Tasya kan juga ingin tampil cantik di depan adik-adik kelas. “Ah, Tasya. Kumat lagu manjamu, sahutku dalam hati. Saya coba menatapnya, mencoba mengerti keinginannya. Tasya yang selalu membuat anak desa ini merasa istimewa. “Warna merah saja ya, dis?”Matanya yang bulat menatap saya “soalnya dress code untuk pot luck partynya kan memang women in red.”
Saya menyetujui saja. Tak ada lagi alasan untuk menolaknya, Tasya memang begitu bila dia melihat pakaian yang menarik. Dan gaun merah cantik berpotongan asimetris itu sudah berpindah tangan. Yang membuatku heran lagi, dia masih menarikku ke toko asesoris untuk mencari pita rambut. Ah, Tasya kau sungguh berbeda jauh dengan ibu.
Di potluck party itu memang tasya tampil menonjol. Sebagai mc dia cukup menarik perhatian pada pesta penyambutan murid-murid baru ini. Bahasa inggrisnya lancar, Tasya memang pacar yang bisa dibanggakan. Hanya sayang borosnya itu nga ketulungan
Naik taksi denganmu, seusai pesta potluck itu membuat saya teringat ibu yang bersandal jepit, berkebaya lusuh, dan segurat wajah alaminya yang tak pernah kenal berdandan, paling dia berbandan saat menikah dulu saja. Ah, saya jadi tersipu-sipu sendiri melihatmu yang belepotan bedak, bibir bergincu, dan aksesori yang menarik dipandang mata.
“Kenapa Yudis, apa make up saya belepotan?”, tanyanya ketika melihat saya tersipu-sipu saat memandangnya. “Tidak, saya hanya teringat ibu” “Oh, gitu ya.. ceritakan padaku ibu orangnya seperti apa? Kan aku perlu mengenal calon mertuaku, ha…”kata Tasya sambil tertawa..
Saya memandang keluar, tampak ibu penjual sayur berkebaya lusuh.” Lihat itu, Tasya, wanita seperti itulah ibu. Wanita perkasa yang rajin bekerja dan tidak pernah peduli dengan penampilannya”. “Wah, kamu menyindirku, Yudis”, sahutnya responsive. “Tidak, aku hanya menjawab pertanyaanmu”.. Saya menarik napas dalam-dalam. Bagaimana kuucapkan keinginanku biar kamu sedikit berhemat, teriakku dalam hati. “Sepertinya kamu ingin gadismu ini meniru sikap ibumu yang tidak terlalu memperdulikan penampilan Yudis, jelas saja tidak bisa . sekarang jaman modern, bukan lagi jaman nenek-nenek kita masih jadi gadis remaja.Kita harus tampil bagus agar diterima di pergaulan., debat tasya sengit. Kalau sudah begini, keahliannya berdebat muncul.”Tasya, jangan salah mengerti dong, saya hanya ingin kamu berhemat sedikit… saja”. “Tapi itu kan juga uang hasilku memberi pelajaran inggris pada anak-anak sd”. “Ya, aku tahu, itu uangmu, Karena saya sangat menyayangi kamu, saya mengajarkan kesederhanaan ini padamu. Kita mesti belajar hidup sederhana. Belajar gemi, belajar menabung sejak dini. Sehingga kita siap untuk keadaan darurat, kata saya tenang. Lalu sepi…
“Memang hak kamu untuk bersenang-senang dengan hasil kerjamu, tapi kan tidak setiap minggu kamu harus belanja baju baru. Uang itu bisa ditabung atau untuk beli emas”. Tasya terdiam. Lalu taksi itu berhenti dan tasya turun tanpa kata kata.
Aku pun terdiam.Akhirnya apa yang kupendam selama ini keluar juaga. Aku tahu Tasya akan merenungkan kata-kataku ini. Seminggu sudah Tasya mendiamkanku.lalu segalanya berlangsung seperti biasa. Tanpa pertengkaran, saya tidak ingin menyinggungnya tentang pelajaran kesederhanaan yang kuberikan padanya di taksi itu.
Lalu suatu sore Tasya main ke kostku. Rambut panjangnya tergerai indah, menyisakan kelembutan shampoo di hidungku. Heran kali ini Tasya tidak memakai make-up dan bajunya amat sederhana. “Hoi… ada angin apa nih, gadisku yang biasanya centil berubah jadi sederhana begini?”, tanyaku heran.”Ah, Yudis, bukankah kamu mengajariku tentang sederhana. Ayo temani aku ke galleria mall. “Belanja baju lagi nih , ejekku. “Tentu saya ada baju pink yang bagus banget, ada diskon lagi”, sahutnya manja. Aku merengut. “Ah, Yudis baju itu bukan untukku, tapi utuk ibumu, wanita perkasa yang mengajariku tentang kesederhanaan”. “Aku terbelalak kaget, tak menyangka dia mau membelikan baju untuk ibu saya. Jangan kaget Yudis, aku masih Tasya yang dulu kok, bukan orang lain.karena ini udulnya menghemat maka baju untuk ibumu kita urunan ya, sahutnya lagi riang.”Apa yang mendorongmu berubah, Tasya?”” Ya, saya sadar Yudis, kehidupan tidak bisa selalu mulus, apalagi orangtua Tasya jauh di Jakarta, tasya harus menabung untuk keperluan mendesak, sahutnya bijaksana. Setelah itu kita menabung sama-sama ya Yudis, Hari ini tanggal 12, tanggal biasanya lamu menabung kan?” tanyanya riang.Aku mengangguk.Aku tak perlu berkata-kata lagi. Gadisku itu sudah tahu apa yang perlu dia lakukan. Kami melangkah bersama, terasa ringan dan bahagia Tasya pun biasanya menolak berjalan kaki dengan alasan capek malah menawarkan untuk berjalan kaki. Kutatap langit biru. Masih ada mentari, masih ada kesempatan berbenah diri, pada dua anak manusia yang mencoba saling mencintai dan mengingatkan.

Tuesday, May 6, 2008

Cerpen Ivonne Suryanto



AKHIR CINTA FANG-FANG


Sore itu udara tampak terasa dingin. Sedingin hati seorang gadis muda bermata sipit yang sedang galau. Ia duduk berselonjor, menyentuhkan ujung-ujung jari kakinya

dijilat dinginnya air kolam renang.

Ia menghabiskan waktu sorenya di sebuah kolam renang hotel berbintang . Ia ingin menjernihkan pikirannya yang memang kacau hari-hari ini

Kakinya masih terayun-ayun. Kecipak-cipak air terdengar tidak beraturan.Ia semakin tak bersemangat dan asyik memandangi anak-anak sebuah sekolah internasional yang sedang belajar berenang.

“Mama tidak mau kamu melanjutkan hubunganmu dengan Saul!”begitu hardik Mama ketika rencana pernikahannya ia ungkapkan pada mamanya. “Anak ingusan seperti kamu mau menikah dengan bujangan tua kere itu, jelas papa tidak setuju”, kata papanya menimpali

Gadis itu terhenyak

“Mama tidak mau ada warna kulit berbeda dalam keluarga kita, Fang-fang. Mama tak bisa bayangkan kalau kau datang dengan anak-anak yang berbeda kulitnya dengan kamu”

Mama tampak tak bisa menahan dirinya lagi. Berulang kali mama melipat tangannya di dada. Suaranya juga keras meninggi.

“Ingat Fang-fang tidak ada dalam keluarga kita yang menikah dengan pribumi. Lagipula mengapa kamu yang masih muda tidak menjalin hubungan dengan Roy, Johan, atau Hengky yang seumuran denganmu.?“

Fang-fang tetap terdiam, hingga papanya menyentuh pundaknya dan berkata “Mengertilah Fang-fang, yang papa katakan ini supaya nantinya kamu tak dikucilkan oleh keluarga kita”

Hati gadis itu meringis. Tak disangkanya mama dan papanya yang dikenalnya sangat mudah bergaul dengan bangsa pribumi ternyata terjebak juga dengan rasisme. Padahal ia tahu bahwa pelangan toko obat mamanya kebanyakan adalah orang pribumi. Bukankah itu menandakan bahwa kehadiran mereka diterima pula oleh orang pribumi?

Sejak kecil ia sudah diajar orangtuanya untuk tidak membedakan orang dari warna kulitnya, agamanya, hartanya. Tetapi kini mamanya telah berubah.

Fang-fang lalu bangkit dari duduknya, dan mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Ia belum ingin pulang ke rumah, maka ia menuju kamar hotel yang dipesannya.

Saul mengemudikan vespanya dengan pelan. Sore itu dia baru saja pulang mengajar dari pratikum komputer di sebuah SMU. Masih terbayang di benaknya saat tadi pagi Fang-fang menitipkan surat pada Ita.

Mas Saul yang terkasih

Papa dan mama tidak menyetujui cinta kita. Aku tidak ingin melepaskan ikatan cinta yang terlanjur sudah bersemi kepada pak guruku yang tampan. Namun aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan cinta kita bila papa mama mengusirku. Namun percayalah cinta untuk mas Saul adalah yang pertama untukku. Aku tak ingin menodainya

Salam kasih

Fang-fang.

Terbayang olehnya gadis sipit pujaannya. Fang-fang salah satu muridnya. Dan ia tak tahu kapan perasaannya berubah menjadi cinta. Gadis yang ceria, menarik dan lembut.Lalu mereka pun merenda cinta walau secara diam-diam selama 2 tahun. Ketika perjalanan cinta itu ingin diakhirinya dengan sebuah pernikahan, terbentur oleh stigma-stigma negative. Apalagi jarak umur 10 tahun yang membuat jurang itu terasa begitu dalam.

“Jangan hancurkan masa depan Fang-fang”, itu kata ibunya. Kamu orang Jawa, mana mau keluarga Fang-fang menerimamu” begitu kata ayahnya. Saul terus merenung. Cinta polos Fang-fang memang bukan yang pertama untuknya, namun cinta gadis itu begitu polos dan apa adanya, Saul tak mampu mengalahkan perasaanya.

Tapi masa depan macam manakah yang bisa diberikan untuk gadis kecil yang hidupnya tak pernah susah, selalu dikelilingi kemewahan? Mampukah Fang-fang menyesuaikan diri dengan suasana desa tempat tinggalnya?

Lalu dibelokannya vespanya ke hotel Melia, tempat Fang-fang memintanya untuk datang. Dan Saul siap pada keputusannya walaupun ia tahu keputusannya akan sangat menyakitkan gadis pujaannya.

Malam itu, sebuah pesan dari front office telah membuat gadis itu tersenyum dan terburu-buru turun ke lobby hotel. Sweater pink menutupi tubuhnya dari udara malam yang dingin.

Ketika dilihat mata lelah kekasihnya , Fang-fang tahu beban ini juga berat ditanggung Saul. “ Biarlah cinta kita membawaku pergi Fang-fang”, kata Saul pelan. Dia tak mampu menatap mata gadis kecilnya. “ Aku akan pindah ke Kalimantan dan mengajar disana,di kota ini aku coba melepaskan cintaku, namun aku tak kuasa, biarlah jarak saja yang memisahkan kita Fang-fang”. “Jadi mas Saul akan pergi meningalkan Fang-fang, lalu apa artinya hubungan kita 2 tahun ini?, Fang-fang mulai terisak.” “Maafkan aku Fang-fang aku tak ingin menghancurkan masa depanmu, kamu harus kuliah dan mungkin di tempat itu kamu akan menemukan belahan jiwa yang sesuku denganmu dan kamu tak perlu diusir dari keluargamu”

Fang-fang mulai mengerti di usianya yang baru 18 tahun perpisahan terasa menyakitkan. Namun apa daya, Saul sudah memikirkan masa depannya yang suram bila ia terus bersama pak gurunya.Biarkan waktu yang akan menyembuhkan luka hatinya.


Epilog

Kini 5 tahun sudah berlalu dan Fang-fang belum juga menemukan penganti Saul. Kadang di hari-harinya yang sepi ia merindukan pelukan hangat Saul. Hingga di suatu pagi, ada undangan merah jambu, undangan pernikahan Saul. Matanya mulai basah