Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini sebagai gudang penyimpanan tulisan. Saya kemudian mengalihkan fungsinya sebagai ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa hidup pembaca. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.

Mutiara Andalas, S.J.


Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Monday, June 2, 2008

Habis Gelap (Kapan) Terbit Terang

Nota Bene:

Naskah ini sedianya akan diterbitkan oleh sebuah majalah Sekolah Menengah Pertama Keluarga di Kudus. Terima kasih atas kesediaan sekolah untuk menerbitkan naskah ini.

Habis Gelap (Kapan) Terbit Terang

Oleh Mutiara Andalas, S.J.[1]

Kartini merupakan pahlawan nasional perempuan yang dekat dengan dunia remaja saya. Original soundtrack ‘Ibu Kita Kartini’ yang selalu berkumandang pada peringatannya senantiasa menggetarkan hati saya. Ia salah satu pahlawan kebangkitan perempuan, bahkan nasional. Waktu duduk di sekolah menengah pertama, saya berhasrat sekali membaca surat-suratnya dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Keinginan itu baru kesampaian sekitar dua puluh tahun kemudian. Tangan saya gemetaran saat membaca gagasan-gagasan pendidikannya. Habis gelap, kapan terbit terang?

Habis Gelap Terbitlah Terang sebenarnya bukan bacaan pertama saya tentang kehidupan Kartini. Marianne Katoppo, seorang novelis perempuan, mengundang saya untuk mengungkapkan kekaguman, tanpa jatuh dalam pemberhalaan terhadapnya. Sekolah Kartini pada kenyataannya bukan sekolah pertama bagi para perempuan Indonesia. Waktu Kartini masih balita, pada tahun 1881, sekolah modern di Minahasa bagi para perempuan sudah berdiri. Katoppo juga mengundang saya untuk memandang dengan penghormatan setara kepada para pejuang kebangkitan perempuan lain dalam pendidikan, seperti Dewi Sartika. Pramoedya Ananta Toer juga pernah menulis buku tentang Kartini berjudul Panggil Aku Kartini Saja.

Burung Kecil Terbang Jauh

Kartini lahir sebagai anak seorang priyayi Jawa. Pribadi-pribadi yang dekat dengan hidupnya menggambarkan Kartini belia sebagai burung kecil berusaha keluar dari sarang dan terbang. Pada masa itu masyarakat Jawa memiliki norma berperilaku yang baku. Mereka menggambarkan perempuan Jawa seperti boneka kayu. Perempuan hanya berbicara dalam saat-saat benar-benar diperlukan dengan nada hampir seperti orang berbisik. Ia berjalan seperti siput dan tertawa dengan bibir tetap terkatup.

Sebagai anak priyayi Jawa, Kartini mendapat kesempatan istimewa untuk mengecap pendidikan dasar di sekolah Belanda. Ia juga menerima les tambahan pada sore harinya. Pada masa itu sebagian keluarga priyayi masih mengabaikan pendidikan bagi anak-anak perempuannya. Orang tua Kartini memberikan hak pendidikan yang lebih setara kepada semua anaknya. Mereka mengizinkan Kartini dan saudara-saudarinya untuk berkomunikasi dengan mereka secara akrab. Disamping pendidikan formal, orang tuanya juga memperkenalkan Kartini dengan kehidupan rakyat jelata. Ia mengajak puterinya untuk mengunjungi para petani baik pada masa-masa paceklik maupun panen raya.

Saat menginjak usia dua belas tahun, Kartini memasuki masa pingitan sambil menanti hari pernikahannya. Ia berhenti dari bangku sekolah dan tinggal di rumah. Ia menghormati keputusan ayahnya. Meskipun demikian, Kartini mendapat kebebasan untuk belajar mandiri di kamarnya. Kartini menggambarkan masa-masa pingitan sebagai pengalaman neraka karena ia dikunci dari dunia luar. Kartini melihat celah dunia luar dari kamarnya saat ia berkenalan dengan Ovink-Soer, istri dari asisten Residen Jepara. Kartini remaja terpesona dengan keterpelajaran Ovink-Soer dan perhatiannya pada hak-hak perempuan. Ovink-Soer pernah mengajukan pertanyaan yang membuat burung kecil itu memandang jauh keluar kamarnya, “Apa yang ingin engkau raih saat engkau beranjak dewasa?”

Kartini menyingkap situasi para saudari perempuannya yang hampir tak pernah mengajukan pertanyaan mengenai cita-cita kehidupannya. ‘Kalaupun perempuan Jawa memiliki cita-cita, hanya satu cita-citanya, yaitu menanti laki-laki yang disetujui orang tua untuk meminangnya.” Ia melihat jurang yang memisahkan cita-cita dan kesempatan untuk menggapainya. “Pertanyaannya bukan apakah perempuan menginginkannya, tetapi apakah perempuan boleh melakukannya.” Kartini memasuki episode baru sebagai pejuang perikemanusiaan perempuan. Ia berharap para perempuan dapat merealisasikan cita-citanya. Ia melawan tatanan masyarakat tradisional yang memenjarakan hidup perempuan dan membiarkan penderitaan sebagai warisan turun-temurun yang dibebankan pada bahu perempuan.

Melawan Perendahan Perempuan

Kartini mulai menyadari bahwa kegelapan menyelimuti kehidupan perempuan. Perempuan kehilangan kepribadiannya dalam masyarakat feodal. Ia sekedar menjadi harta keluarga yang kemudian beralih menjadi harta suami dengan perkawinan. Masyarakat patriarkal dari luar menawarkan tatananan kehidupan bersama. Ia sejatinya merusak tatanan kehidupan bersama karena menggagahi kehidupan perempuan. Kartini menggugat tatanan masyarakat feodal dan patriarkal itu saat memasuki jenjang perkawinan. Ia menempatkan diri sebagai pribadi yang bermartabat dihadapan suaminya. Ia tetap mencantumkan nama dirinya sebagai tanda kemerdekaan. Ia membagikan cita-cita menciptakan dunia yang lebih manusiawi bagi perempuan kepada suaminya.

Sebagai korban dari praktek perkawinan poligami, Kartini melawan praktek poligami karena merendahkan martabat perempuan. Ia juga prihatin dengan para perempuan pribumi yang mendapatkan pendidikan yang mencerahkan dari Eropa, namun memilih hidup dalam poligami. “Kita tidak dapat tutup mata bahwa perempuan yang dinikahi secara resmi oleh suami itu tak ada. Perempuan itu adalah pribadi dan ia saudara perempuan kita.” Ia menggugat pandangan bahwa laki-laki memiliki martabat lebih jika ia melangsungkan praktek poligami tanpa suara protes dari para perempuannya. Ia menangkap pesan serupa saat membaca kehidupan Fatimah, puteri Nabi Muhammad.

“Suatu kali suaminya Fatimah membawa seorang perempuan ke rumahnya untuk menjadikannya sebagai istri baru. Nabi menanyakan peristiwa itu kepada puterinya dan puterinya pada awalnya tidak menunjukkan tanda protes. Nabi kemudian memberikan sebutir telur mentah kepada puterinya dan Fatimah menaruhnya telur itu di dekat hatinya. di dekat Nabi kemudian mengambil kembali telur kembali dan telur itu telah masak. Saat Fatimah bersandar pada pohon pisang, daun-daunnya segera mengering dan pohon itu akhirnya terbakar.”

Martabat Pendidikan

Kartini pada awalnya belum memikirkan untuk mendirikan sekolah untuk meningkatkan martabat perempuan di sekitarnya. Ia kemudian menyadari bahwa kegiatan pendidikan merupakan jalan menuju masyarakat yang lebih demokratis dan setara. Ia berharap pendidikan bagi perempuan pribumi akan menjadi berkat bagi seluruh masyarakat pribumi. Perempuan dapat menjadi pribadi sempurna tanpa kehilangan martabatnya. Pendidikan intelektual hendaknya berjalan berdampingan dengan perkembangan moral. Dalam esai Educate the Javanese, Kartini menyingkapkan subjek pendidikan yang diarahnya.

“Sebagai langkah pembuka, didiklah para perempuan dari kalangan ningrat. Mereka akan menyebarkannya kepada rakyat. Jadikan mereka menjadi ibu yang cakap, bijak, dan baik dan mereka akan menyebarkan terang diantara masyarakat.”

Kartini menampik tudingan bahwa kurikulum pendidikannya melunturkan identitas murid sebagai pribadi Jawa. Kebudayaan Eropa menawarkan gagasan kasih dan keadilan kepada masyarakat Jawa. Kartini mengakui pengaruh nilai-nilai ini yang berjumpa dengan darah Jawa dalam tubuhnya.

"Kami tak pernah berniat menjadikan para murid kita setengah Eropa atau Jawa. Pendidikan liberal ini pertama-tama bermaksud menjadikan mereka sungguh-sungguh pribadi Jawa, membangunkan kecintaan mereka pada bangsa dan negara dengan mata dan hati yang terbuka untuk melihat keindahan dan kebutuhan mereka. Kami ingin membagikan kekayaan kebudayaan Eropa, bukan untuk menggantikan menghapus, atau meredupkan kebudayaan mereka sendiri.”

Akses pendidikan bagi perempuan telah melewati lokasi-lokasi yang pernah dibayangkan Kartini pada zamannya. Perendahan martabat perempuan masih berlangsung dalam banyak sisi kehidupan masyarakat. Partisipasi dalam ruang politik, kesetaraan tanggung jawab dalam mengelola keluarga, perlindungan perempuan dari kekerasan di ruang domestik dan publik membutuhkan kehadiran kartini-kartini muda. Aktivitas pendidikan bermartabat karena membantu siswa-siswi didik untuk menjadi burung-burung muda yang terbang menyuarakan kemanusiaan (SELESAI).



[1] Rohaniwan Katolik yang menulis buku Kesucian Politik: Agama dan Politik di tengah Krisis Kemanusiaan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008); Ia peduli dengan persoalan-persoalan perempuan di rahim Indonesia.

Friday, September 7, 2007

Menebus Dosa Pendidikan

Menebus Dosa Pendidikan

Pendidikan itu suci. Ia memiliki kuasa sakramental dalam rahimnya. Ia mampu menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia dan mentransformasikannya. Dosa utama dari institusi pendidikan adalah mengaborsi kesucian dari rahim pendidikan. Sekularisasi dan fragmentasi hidup posmodern sepintas nampak menyudutkan posisi institusi agama dalam dunia pendidikan. Konteks baru pendidikan ini sejatinya mendorong dialog baru antara religiositas dan pendidikan. Teologi pendidikan lahir untuk menebus dosa pendidikan. Peter C. Hodgson, seorang teolog pendidikan, melihat sosok Allah sebagai Pendidik utama dalam transformasi hidup sejarah manusia dan menawarkan jalan pendidikan Allah di era posmodern. Ia menjungkirbalikkan berhala-berhala pendidikan yang deformatif terhadap kehidupan manusia.

203: Catatan Air Mata Murid
Kelas 203. Ia masih lengang meskipun bel tanda masuk telah berdering. Meja para murid penuh coretan. Beberapa halaman buku pelajaran hilang bekas sobekan. Papan tulis penuh dengan kotoran debu. Penutup jendela kelas rusak. Kelas 203 lebih mirip sebuah bui daripada ruang pendidikan. Mayoritas guru melihat kelas itu sebagai ruang gelap tanpa harapan. Rapor akademik kelas itu merah. Kata pendidikan absen dari ruang itu, yang ada cuma pendisiplinan. Satu per satu murid memasuki kelas karena digiring petugas piket sekolah. Mereka harus dipaksa belajar karena mereka tidak memiliki hasrat sedikit pun akan pendidikan. Para guru mengibarkan bendera putih. Para murid akan menghilang satu per satu dari ruang kelas untuk selamanya.
Kelas 203 kontras dengan kelas di seberangnya. Para guru sudah hadir di kelas sebelum jam tatap muka mulai. Ia sudah menuliskan materi pelajaran di papan tulis. Hanya guru dengan predikat teladan mendapatkan izin mengajar di kelas itu. Meja para murid tertata rapi dan bersih dari coretan. Tahun ajaran baru ditandai dengan buku pelajaran baru. Para murid bergegas memasuki kelas begitu bel masuk berbunyi. Ruang kelas itu hanya terbuka bagi para murid dengan rapor akademik istimewa. Mayoritas murid berkulit putih dengan perkecualian segelintir murid dari ras lain. Mereka tak pernah menginjakkan kaki mereka di kelas seberang mereka karena terbentang sekat pemisah diantara keduanya.
Para murid kelas 203 melihat Erin Gruwell, guru baru mereka, dengan tatapan kebencian pada hari-hari pertama tahun ajaran. Mereka memandangnya sebagai sipir bui yang berdiri di depan kelas untuk mendisiplinkan para narapidana sekolah. Ia menjadi bagian dari struktur sekolah yang melihat para murid sebagai barang antik. Ia dianggap sama saja dengan para guru sebelumnya yang selalu mengeluarkan kartu merah untuk mendisiplinkan perilaku mereka. Ia terlibat dalam institusi pendidikan yang terperosok dalam dosa. Profesi guru telah lama hilang dari ruang kelas itu. Gruwell mencita-citakan sebuah rumah pendidikan bagi para muridnya. Rumah pendidikan dibangun di atas fondasi guru, murid, administrasi, dan dunia sekitarnya.

Gruwell tidak mulai dengan pelajaran tata bahasa, melainkan tata bangsa Amerika. Sekat pembatas antar manusia itu tercipta antar ruang kelas dan bahkan di dalam satu ruang kelas. Para muridnya berasal dari latar belakang imigran, manusia perahu, korban penggusuran, pengedar obat terlarang, pernikahan dini, dan mereka yang terpinggirkan dari komunitasnya. Kelas didesain berdasar sekat-sekat pembatas. Menyeberang sekat menimbulkan ancaman kehidupan bagi penghuni sekat lain. Gruwell mencabut jerat-jerat penyekat itu dari ruang kelas. Ia mendesain ulang kelas itu menjadi jaring-jaring perjumpaan. Ia buka mata terhadap konteks hidup para muridnya. Ia mendambakan kelas itu berubah dari penjara menjadi rumah. Jika Holocaust adalah nama sebuah sekat masa lalu dalam sejarah dunia, rasialisme adalah sekat modern dalam masyarakat Amerika. Pendidikan tak akan berlangsung selama rasialisme menjadi salah satu pilarnya.
Gruwell mengalami reorientasi atas profesinya sebagai pendidik saat ia menbaca fragmen kehidupan para muridnya. Fragmen hidup dalam buku harian itu bergenang air mata. Ketulusan Gruwell dalam mendampingi mereka mengembalikan identitasnya sebagai guru. Drama pendidikan mencapai klimaks ketika Gruwell dan para murid membongkar model pendidikan lama yang deformatif dan mendesain model pendidikan baru yang transformatif. Para guru lain dan dewan sekolah mencecar Gruwell dengan tanggapan pedas. “Kelas 203 adalah kasus khusus yang sulit diterapkan di tingkat pendidikan yang setara. Metode pendidikanmu sangat tidak praktis. “Saya ingin menyalakan lilin di ruang gelap pendidikan. Saya berani mengambil resiko menerapkan metode pendidikan yang didakwa tidak praktis ini karena hidup para murid berharga di mata saya sebagai seorang guru,” demikian Gruwell menuliskan dalam buku hariannya.
Kesucian Pendidikan
Film The Freedom Writers berangkat dari catatan air mata para murid terhadap peristiwa pendidikan. Paul C. Hodgson, seorang teolog pendidikan Amerika Serikat, dalam God’s Wisdom: Toward a Theology of Education (1999) melihat peristiwa pendidikan dari perspektif seorang pendidik di era postmodern. Hodgson melakukan survei atas para nabi pendidikan baik dari bidang filsafat, psikologi pendidikan, dan teologi sejak era klasik hingga era postmodern yang menawarkan gagasan pendidikan. Ia hendak mengembalikan kesucian pendidikan dengan melucuti dosa-dosanya. Ia menghidupkan kembali dialog serius antara teologi dan pendidikan yang sejatinya berlangsung sepanjang zaman. Ia menceburkan diri di tengah kepekatan problem pendidikan dari perspektif seorang teolog pendidikan.
Keterlibatan teolog dalam dialog pendidikan mengalami masa surut ketika masing-masing disiplin ilmu menarik garis batas dari disiplin ilmu lainnya (ghettoisation). Teori-teori pendidikan mengalami sekularisasi dan sebagian besar tersekat dalam bidang ilmu pendidikan, psikologi, dan filsafat. Hodgson mengamati bahwa teologi menderita cacat ganda dalam relasi dengan pendidikan. Teologi kristiani bungkam terhadap pendidikan. Pendidikan juga menghilang dalam studi teologi lanjut. Para nabi pendidikan posmodernisme menghembuskan angin perubahan baru dalam dunia pendidikan dengan mengangkat kembali tema religiositas pendidikan. Mereka mengedepankan pembentukan karakter, ritme pendidikan, pengetahuan konstruktif dan interaktif, pendidikan sebagai praktek kebebasan, pengajaran berkesinambungan (connected teaching) dan pembelajaran kooperatif. Mereka juga menyadarkan kita akan konteks baru dunia pendidikan. Institusi agama semakin surut terlibat dalam pendidikan dan peran itu semakin diambil alih oleh lembaga pemerintah atau swasta (secular corporations). Disiplin ilmu pendidikan terentang dari kosmologi (cosmology) ke kosmetikologi (cosmetology).
Setelah menelusuri sejarah kata pendidikan dan diskursus para nabi pendidikan, Hodgson meyakini bahwa teologi sejak awal kelahirannya senantiasa bergumul dengan tema pendidikan. Teologi pendidikan bukan sebuah tema dadakan yang diada-adakan oleh para teolog. Ia dengan rendah hati sadar bahwa ia merupakan pendatang baru dalam diskursus teologi pendidikan. Ia mengajukan beberapa pertanyaan fundamental dalam diskursus teologi pendidikan. Bagaimana ziarah pendidikan itu berlangsung? Apa pengaruh peristiwa pendidikan terhadap pribadi-pribadi murid? Mengapa pendidikan itu suci? (Hodgson, GS: 1 - 3)

Jalan Pendidikan Allah
Teologi pendidikan menempatkan Allah sebagai Pendidik utama. Allah merupakan objek/subjek tak langsung dari peristiwa pendidikan. Manusia sebagai peziarah pendidikan, belajar mengenal kebenaran Allah yang mentransformasikan hidup manusia dan sejarah. Teologi pendidikan yang memeluk kebenaran Allah bersikap kritis terhadap segala klaim kebenaran manusia. Manusia memiliki keterbatasan untuk sampai pada kebenaran Allah karena kedosaannya. Allah menempati tempat utama dalam pendidikan manusia. Manusia berperan sebagai partner Allah dalam mendidik sesamanya.
Pendidikan itu terkait dengan kehidupan. Gagasan ini sudah berusia lanjut dan kemungkinan besar lahir saat aktivitas pendidikan berhubungan erat dengan ibadat. Belajar bukan melulu aktivitas informatif, melainkan jalan hidup transformatif. Allah tidak membatasi diri pada kasta elit agama (privileged priesthood), melainkan terbuka pada semua pribadi. Metode pendidikan Allah adalah dialog, bukan monolog. Ia menolak cara-cara otoriter dalam pendidikan. Sebagaimana pernah dimazmurkan Sokrates, pengetahuan merupakan kunci kepada keutamaan. Institusi pendidikan mendapat tempat istimewa dalam peristiwa pendidikan karena ia bertanggung jawab melawan nabi-nabi palsu pendidikan yang mengklaim memiliki kebenaran Allah. Mereka tidak menggantikan peran Allah, melainkan bekerja melalui Allah. Mereka mengundang para murid untuk beralih dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang berorientasi kepada Allah. Peristiwa pendidikan ini berlangsung seperti drama seri dengan banyak adegan kejutan di dalamnya (ibid, 33 – 41).
Allah merupakan figur aktif dalam seluruh proses pemekaran hidup manusia. Teologi pendidikan kristiani mengambil orientasi pendidikan Allah pada figur paradigmatik Yesus dari Nazaret. Yesus menampilkan kebenaran Allah dalam oposisi terhadap dogma lama dunia, seperti hirarkisme patriarkal, otoritarianisme politik, dan elitisme religius. Ajaran rahmat, kasih, dan kebebasan merupakan perlawanan aktif terhadap dogma dominasi, kekerasan, dan hukuman. Yesus berdialog aktif dengan para pendengarnya menggunakan bahasa sehari-hari mereka sekaligus bersama paradoksnya. Ia mengundang mereka untuk kritis terhadap dogma-dogma kehidupan yang selama ini mengatur hidup manusia. Ia mengundang para pendengarnya untuk sampai pada roh ajaran yang memiliki implikasi transformatif.
Pendidikan merupakan peziarahan manusia sepanjang hidup. Ia menghantar mereka yang belajar untuk berpaling dari berhala-berhala manusia dan berpaling kepada Allah. Reorientasi hidup kepada Allah itu membutuhkan ketekunan. Kita mudah tergoda untuk cepat berpuas diri atau letih dalam pergumulan dengan dogma-dogma kehidupan yang memenjarakan hidup kita. Pendidikan, dalam arti ini, merupakan olah devosi. Pendidikan itu lebih luas daripada sekolah. Tekanan pendidikan sebagai transformasi kehidupan manusia tidak mengesampingkan pembelajaran konstruktif (ordered learning). Sebagaimana diungkapkan David Kelsey, model pembelajaran Athena yang menekankan transformasi kehidupan hendaknya bersanding setara dengan model pembelajaran Berlin yang menekankan disiplin akademik.
Pendidikan itu ritmik. Ia tidak terjadi sekali jadi, melainkan berlangsung sepanjang hidup. Ia memiliki ritme berpikir kritis, berimaginasi tinggi, dan berpraksis liberatif. Ketiga elemen dasar ini terkait satu dengan yang lainnya secara siklis. Pengetahuan itu konstruktif dan interaktif. Pendidikan mendekonstruksi struktur-struktur lama yang opresif dan mengkonstruksi struktur-struktur baru yang liberatif. struktur-struktur lama yang opresif dan mengkonstruksi struktur-struktur baru yang liberatif Ia merupakan suatu aktivitas sosial yang berlangsung dalam suatu komunitas diskursus (a community of discourse). Pembelajaran berjalan pincang jika komunitas diskursus absen dalam institusi pendidikan. Komunitas diskursus terbentuk ketika para murid menyadari peran guru sebagai pendamping dalam peziarahan pendidikan dan para guru menyadari para murid sebagai subyek aktif. Komunitas diskurus mengandaikan interaksi sehat antara guru dan murid di ruang pendidikan. (ibid, 63 – 70. 97).
Pendidikan menyingkapkan kebenaran Allah dan menyelamatkan umat manusia dari kesesatan (the darkness of error) dan berhala (idolatry). Akal budi di satu sisi adalah tanda kemuliaan Allah, tetapi sekaligus potensial menjadi sumber penderitaan manusia yang tak terperikan. Kita perlu menebus budi, namun tidak menggusurnya. Kita perlu memerangi kejahatan yang disebabkan akal budi. Pendidikan bertujuan memberikan tanggapan terhadap panggilan akan kebenaran (ibid, 103 – 107). Sikap acuh tak acuh terhadap kebenaran, menurut Farley, merupakan virus AIDS virtual dari pendidikan.

Air Mata Suci Pendidikan
Air mata murid dan guru menggenangi dunia pendidikan Indonesia. Kecurangan ujian nasional, kekerasan antarsiswa, dan pelecehan terhadap etika profesi guru menjadi potret-potret buram pendidikan yang membuat kita tak kuasa menitikkan air mata duka. Kita mendengarkan tangisan murid di awal tahun ajaran baru. Komunitas guru berbondong-bondong menuju istana negara membawa air mata pendidikan di tangan mereka. Air mata itu mencatat dosa-dosa pendidikan di negeri ini. Air mata itu juga menyimpan harapan mereka akan kesucian pendidikan. Mereka datang untuk menebus dosa-dosa pendidikan. Mereka ingin meletakkan kembali kesucian di rahim pendidikan. Air mata mereka, sebagaimana pendidikan, adalah suci. Semoga kita yang terlibat dalam dunia pendidikan tak lagi tutup penglihatan terhadap terhadap air mata mereka (SELESAI).

Wednesday, August 8, 2007

Intelektual Transformatif

Intelektual Transformatif

Refleksi akhir tahun pendidikan ditutup dengan beberapa potret buram. Kecurangan ujian nasional, kekerasan antarsis- wa didik, dan intimidasi terhadap etika profesi pendidik menjadi potret-potret besar refleksi akhir pendidikan tahun ini. Kita sekaligus menyaksikan beragam impian pendidikan untuk mengedepankan pendidikan humanis-liberatif.

Di tengah berbagai skandal pendidikan, kita melihat tunas-tunas harapan yang berani mengimajinasikan model-model pendidikan baru sebagai kritik atas praktik komersialisasi, kekerasan, dan pelacuran etika profesi pendidik. Para pelopor pendidikan ini menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap filsafat pendidikan tradisional yang menggagahi hakikat pendidikan.

Kapitalisasi pendidikan

Henry A Giroux dalam Border Crossings: Cultural Workers and the Politics of Education (1993) mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktik-praktik buruk pendidikan yang memuja efisiensi ekonomis. Terjadi degradasi identitas institusi pendidikan dari institusi yang menyelenggarakan pendidikan publik menjadi pabrik kuli. Banyak institusi pendidikan yang memeluk efisiensi ekonomis banting setir menjadi perusahaan penyedia birokrat elite masyarakat dan kuli kerja. Giroux mensinyalir bahwa reduksi dan penyempitan hakikat pendidikan ini terjadi karena tiadanya atau minimnya filsafat pendidikan. Akibatnya, institusi pendidikan gagal melihat kemungkinan bahwa proses pembelajaran menjadi salah satu pilar utama dalam humanisasi hidup publik.

Pendidikan tradisional berparadigma ekonomis. Seluruh proses pembelajaran melulu bertujuan demi kompetensi ekonomis. Standardisasi kurikulum, sertifikasi kelulusan, kenaikan angka akademik, dan kriteria evaluasi pendidikan diletakkan dalam kerangka kompetensi ekonomis. Pem- belajaran siswa didik yang semula menjadi aktivitas kolektif berubah menjadi aktivitas individual dalam paradigma ini. Sosok pendidik dalam guru menghilang dan digantikan dengan sosok guru sebagai tukang instruksi di kelas.

Reformasi pendidikan bahkan sering gagal menyentuh problem pendidikan pada taraf yang paling permukaan karena kita melakukannya dengan tetap mempertahankan bingkai masyarakat kapitalis. Kekerasan terhadap dan antarsiswa didik mencerminkan buramnya institusi pendidikan yang tidak memiliki atau minim filsafat pendidikan. Kekerasan berlawanan dengan hakikat pendidikan sebagai humanisasi subyek. Kekerasan mengidolakan relasi penguasa dan bawahan yang mendehumanisasikan keduanya.

Filsafat pedagogis

Pendidikan radikal atau kritis dibangun di atas pigura filsafat pedagogis yang jelas. Pendidikan mengusahakan pembentukan individu dan masyarakat sebagai subyek- subyek humanis-liberatif. Profesi pendidik itu bermartabat agung karena mereka senantiasa menjaga dan mengembangkan intelektualitas transformatifnya. Mereka tidak membiarkan kecurangan, kekerasan, dan praktik-praktik tak manusiawi lainnya karena tindakan-tindakan itu melecehkan etika profesi mereka.

Permohonan perlindungan terhadap profesi pendidik hendaknya dipahami sebagai usaha untuk menjaga etika profesi pendidik. Posisi mereka sebagai pendidik justru terancam ketika mereka hendak menyelamatkan pendidikan di Indonesia. Ancaman terhadap etika profesi pendidik itu mengambil bentuk sanksi permintaan pengunduran diri, pemecatan, penundaan kenaikan pangkat, dan sebagainya. Ironisnya, pihak sekolah justru menjadi pelaku yang mengancam profesi pendidik. Ancaman-ancaman itu bertujuan memaksa para pendidik untuk menggadaikan etika profesi mereka. Keseriusan untuk melindungi profesi pendidik hendaknya ditunjukkan dengan keberanian memberi sanksi kepada murid, guru, pengawas, dan kepala dinas pendidikan yang membiarkan kecurangan dalam ujian nasional (Kompas 5/6/2007).

Henry A Giroux menyadari bahwa pendidikan berada dalam pusaran logika pasar dan jargon kekuasaan. Insitusi pendidikan sering terseret dalam pusaran-pusaran ini dan berubah menjadi mesin yang mencetak tukang atau kuli ekonomi. Pendidik memiliki posisi sentral dalam situasi ini. Giroux mengingatkan para pendidik akan identitas mereka sebagai intelektual transformatif dalam pembelajaran siswa didik. Menyitir John Dewey berkaitan dengan distingsi antara "education as a function of society" dan "society as a function of education," Giroux mendambakan figur pendidik yang mengantar siswa didik untuk memiliki pengetahuan, karakter, dan visi etis yang membangun ruang publik. Mereka dipanggil untuk membentuk pelaku-pelaku pembelajaran yang memiliki intelektualitas transformatif. Pendidikan radikal atau kritis mensyaratkan intelektualitas transformatif.

Aborsi pendidikan

Mengembangkan gagasan Giroux untuk konteks Indonesia, Paul Suparno dalam Guru Demokratis di Era Reformasi (2005) juga prihatin terhadap reduksi profesi pendidik sebagai tukang transfer pengetahuan. Guru sebagai tukang pendidikan melecehkan intelektualitas karena mencekoki siswa didik dengan pengetahuan basi. Mereka mereduksi pembelajaran sebagai perburuan gelar akademik atau sertifikat kelulusan. Mereka pasif terhadap pembaruan kurikulum pendidikan berbasis konteks siswa didik dan masyarakat. Mereka tak segan-segan mengorupsi waktu belajar siswa didik dan asal ikut kebijakan departemen pendidikan. Praktik-praktik ini menghancurkan identitas siswa didik sekadar sebagai hewan yang menyusu tukang mengajar.

Seruan untuk reformasi pendidikan juga terarah kepada pendidik demi perlindungan siswa didik. Orangtua siswa didik berunjuk rasa untuk mengontrol etika profesi pendidik di SD Plaosan II. Pendidikan sebagai proses humanisasi-liberasi akan macet tanpa kehadiran pendidik sebagai intelektual transformatif. Keterlambatan, ketidakhadiran, dan kekosongan pendidik melecehkan etika profesi mereka. Orangtua siswa didik juga menyerukan akses pendidikan bagi anak-anak dari strata ekonomi bawah (Kompas, 31/5/2007 dan 2/6/2007).

Giroux menawarkan kepada pihak-pihak yang terlibat aktif dalam dunia pendidikan untuk mengurai karut-marut pendidikan di Indonesia dari titik filsafat pendidikan. Ia memiliki impian pendidik sebagai intelektualitas transformatif. Komersialiasi pendidikan merusak subyek pendidikan sekadar sebagai obyek ekonomis. Ia mengubah proses pembelajaran sebagai pembentukan intelektualitas transformatif menjadi pembodohan deformatif. Ia juga mengaborsi lahirnya institusi pendidikan sebagai ruang publik demokratis.

Pendidikan yang sejati membantu revitalisasi ruang publik demokratis.